Membaca Al-Quran adalah ibadah lisan yang paling utama, sebuah dialog antara hamba dengan Rabb-nya melalui firman-Nya. Keutamaannya tidak hanya terbatas pada ganjaran pahala, tetapi juga mencakup kemuliaan, keberkahan, dan perbaikan karakter bagi pembacanya.
Selain hadits-hadits populer yang sering kita dengar, terdapat banyak hadits shahih lainnya yang menggambarkan keagungan Al-Quran dari berbagai sudut pandang yang berbeda.
1. Kemuliaan Bagi Semua Level Pembaca (Mahir dan Terbata-bata)
Islam adalah agama yang memberikan motivasi kepada semua kalangan, tanpa memandang tingkat kemampuannya. Dalam membaca Al-Quran, baik mereka yang sudah lancar maupun yang masih bersusah payah, keduanya mendapatkan kemuliaan di sisi Allah, bahkan yang kesulitan mendapatkan pahala ganda sebagai penghargaan atas usahanya.
Dalil Hadits: Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang yang mahir membaca Al-Quran, maka ia akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata dan ia kesulitan membacanya, maka baginya dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini adalah kabar gembira yang luar biasa, menghapus rasa minder bagi para pemula dan menegaskan bahwa setiap usaha dalam mempelajari Al-Quran sangat dihargai oleh Allah SWT.
2. Perumpamaan Indah Bagi Orang Beriman yang Membaca Al-Quran
Rasulullah ﷺ sering menggunakan perumpamaan (amtsal) untuk memudahkan pemahaman. Beliau memberikan perumpamaan yang sangat indah untuk menggambarkan karakter seorang mukmin yang hatinya senantiasa terikat dengan Al-Quran.
Dalil Hadits: Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Quran adalah seperti buah utrujjah (sejenis jeruk), baunya wangi dan rasanya enak. Dan perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Quran adalah seperti buah kurma, tidak ada baunya namun rasanya manis…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjelaskan bahwa seorang mukmin yang membaca Al-Quran memiliki kebaikan lahir dan batin. Lisannya harum dengan bacaan Al-Quran dan hatinya manis dengan keimanan.
3. Al-Quran Sebagai Pembangun Jiwa dan Hati
Hati seorang muslim akan menjadi hidup dan bercahaya dengan Al-Quran. Sebaliknya, hati yang kosong dari Al-Quran diibaratkan seperti bangunan yang runtuh, tidak memiliki pondasi dan kehidupan.
Dalil Hadits: Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya orang yang di dalam dirinya tidak ada sedikit pun Al-Quran adalah seperti rumah yang runtuh.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan shahih)
Hadits ini menjadi pengingat betapa pentingnya mengisi hati dan pikiran kita dengan hafalan dan pemahaman Al-Quran agar jiwa kita kokoh, bercahaya, dan tidak kosong.
Cara Meningkatkan Kecintaan Membaca Al-Quran
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus meningkatkan kecintaan terhadap Al-Quran. Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan:
Menjadikan membaca Al-Quran sebagai rutinitas harian.
Melatih diri untuk memahami makna dari setiap ayat yang dibaca.
Bergabung dengan komunitas atau majelis yang membahas Al-Quran.
Menetapkan target hafalan dan membaca ayat-ayat tertentu setiap hari.
Secara keseluruhan, hadits-hadits tentang keutamaan membaca Al-Quran menunjukkan betapa pentingnya aktivitas ini dalam setiap aspek kehidupan seorang Muslim. Dari janji pahala bagi yang terbata-bata hingga perumpamaan indah sebagai buah yang wangi dan lezat, semuanya mendorong kita untuk tidak pernah jauh dari Al-Quran.
Dengan memahami dan mengamalkannya, kita tidak hanya memperoleh manfaat di akhirat, tetapi juga membangun jiwa yang kokoh dan mulia di dunia. Mari kita tingkatkan kecintaan kita terhadap Al-Quran dan menjadikannya sebagai pedoman hidup.
Keutamaan Membaca Al-Quran Berdasarkan Hadits Shahih
Membaca Al-Quran adalah salah satu ibadah yang paling agung dan sangat dianjurkan dalam Islam. Ia bukan sekadar aktivitas spiritual, tetapi juga sumber pahala, petunjuk, dan ketenangan. Banyak sekali hadits shahih yang menjelaskan keutamaan membaca Al-Quran, baik dari segi ganjaran yang berlipat ganda maupun manfaat luar biasa di dunia dan akhirat.
Pahala Berlipat Ganda untuk Setiap Huruf
Salah satu motivasi terbesar bagi seorang Muslim untuk membaca Al-Quran adalah janji pahala yang melimpah dari Allah SWT. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ganjaran ini dihitung per huruf, menunjukkan betapa pemurahnya Allah kepada para pembaca kitab-Nya.
Dalil Hadits: Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Quran), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan ‘Alif Lam Mim’ itu satu huruf, tetapi ‘Alif’ satu huruf, ‘Lam’ satu huruf, dan ‘Mim’ satu huruf.” (HR. Tirmidzi, dinilai shahih oleh Syekh Al-Albani)
Keutamaan dan Manfaat Membaca Al-Quran
Berikut adalah beberapa keutamaan spesifik yang akan diraih oleh seorang Muslim yang rutin berinteraksi dengan Al-Quran, sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits yang shahih.
1. Mendapatkan Ketenangan Jiwa (Sakinah)
Membaca Al-Quran, terutama jika dilakukan secara berjamaah dan di tempat mulia seperti masjid, akan mendatangkan ketenangan batin yang luar biasa serta rahmat dari Allah.
Dalil Hadits: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan (sakinah), diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)
2. Mengangkat Derajat dan Mendekatkan Diri kepada Allah
Kedudukan seorang hamba di surga kelak akan ditentukan oleh sejauh mana interaksinya dengan Al-Quran di dunia. Semakin banyak ia membaca dan menghafal, semakin tinggi derajat yang akan ia capai.
Dalil Hadits: Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Akan dikatakan kepada sahabat Al-Quran (di akhirat): ‘Bacalah, naiklah, dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu berada di akhir ayat yang engkau baca.'” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, hadits hasan shahih)
3. Menjadi Manusia Terbaik dengan Belajar dan Mengajarkannya
Ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah salah satunya adalah dengan mempelajari Al-Quran, yang merupakan sumber utama ilmu agama, lalu menyebarkan ilmu tersebut kepada orang lain.
Dalil Hadits: Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
4. Mendapatkan Syafaat (Pertolongan) di Hari Kiamat
Pada hari yang sangat sulit di mana setiap orang membutuhkan pertolongan, Al-Quran akan datang sebagai pembela dan pemberi syafaat bagi orang-orang yang senantiasa membacanya di dunia.
Dalil Hadits: Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi para pembacanya.” (HR. Muslim)
Cara Meningkatkan Kecintaan Membaca Al-Quran
Melihat begitu besarnya keutamaan Al-Quran, sudah selayaknya kita berusaha untuk meningkatkan kecintaan dan interaksi kita dengannya. Berikut adalah beberapa cara praktis yang dapat dilakukan:
Menjadikan membaca Al-Quran sebagai rutinitas harian, meskipun hanya beberapa ayat.
Melatih diri untuk memahami makna dari setiap ayat yang dibaca dengan membaca terjemahan atau tafsir ringkas.
Bergabung dengan komunitas atau majelis ilmu yang secara rutin membahas dan mempelajari Al-Quran.
Menetapkan target yang realistis, baik untuk tilawah (membaca) maupun hafalan, dan berusaha konsisten menjalankannya.
Menghafal Al-Quran adalah perjalanan yang memerlukan motivasi dan metode yang tepat. Dengan memahami manfaat dan memilih cara yang sesuai, pemula dapat menjalani proses ini dengan lebih mudah dan menyenangkan. Selamat menghafal!
Maksiat dan Pengaruhnya Terhadap Pembelajaran Al-Quran
Pembelajaran Al-Quran adalah suatu proses yang mulia dan penuh berkah. Namun, ada banyak faktor yang dapat menghalangi kita dalam menjalani proses ini. Salah satunya adalah maksiat. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
(Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji; dan suatu jalan yang buruk.) (QS. Al-Isra: 32)
Ayat ini menunjukkan bahwa maksiat, seperti zina, tidak hanya merusak moral tetapi juga dapat menghalangi kita dari mendapatkan petunjuk, termasuk dalam belajar Al-Quran. Zina itu ada banyak macamnya jangan sampai mendekati jalan itu karena akan menghalangi jalannya hidayah Al-Quran.
Bagaimana Maksiat Mengganggu Proses Belajar
Maksiat dapat mempengaruhi hati dan pikiran kita. Ketika seseorang terjerumus dalam kemaksiatan, hati menjadi keras dan sulit menerima kebaikan. Nabi Muhammad SAW bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا نُكتت في قلبه نكتة سوداء، فإن تاب، سُقِلَ قلبه، وإن زاد زادت حتى تعلو قلبه.
(Sesungguhnya jika seorang hamba berbuat dosa, maka akan ada titik hitam di hatinya. Jika ia bertobat, hatinya akan bersih. Namun jika ia terus berbuat dosa, titik itu akan semakin banyak hingga menutupi hatinya.) (HR. Ahmad)
Hadits ini menggambarkan betapa pentingnya menjaga diri dari maksiat agar hati tetap bersih dan mampu menerima ilmu dengan baik.
Cara Menghindari Maksiat
Menjaga diri dari lingkungan yang buruk.
Memperbanyak ibadah dan dzikir.
Mencari teman yang baik dan mendukung dalam belajar.
Berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari godaan maksiat.
Pentingnya Niat yang Kuat dalam Belajar Al-Quran
Niat yang kuat adalah kunci keberhasilan dalam belajar Al-Quran. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda:
إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى.
(Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.) (HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan niat yang tulus untuk belajar Al-Quran, kita akan lebih termotivasi dan terhindar dari godaan maksiat.
Kesadaran Diri dan Tindakan Preventif
Kesadaran diri akan pentingnya menjaga diri dari maksiat sangat penting. Kita perlu melakukan tindakan preventif agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang merugikan. Berikut beberapa langkah yang bisa diambil:
Menjaga waktu untuk belajar Al-Quran secara rutin.
Membaca dan memahami makna Al-Quran.
Melibatkan diri dalam komunitas tahfidz yang positif.
Peran Komunitas dalam Mencegah Maksiat
Komunitas memiliki peran penting dalam mencegah maksiat. Dengan bergabung dalam komunitas belajar Al-Quran, kita dapat saling mengingatkan dan mendukung satu sama lain. Allah berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
(Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa.) (QS. Al-Ma’idah: 2)
Ini menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi dalam menjalankan kebaikan, termasuk mencegah maksiat.
Manfaat Bergabung dengan Komunitas Tahfidz
Mendapatkan bimbingan dari para ustadz.
Berinteraksi dengan teman-teman yang memiliki tujuan yang sama.
Mendapatkan motivasi yang lebih untuk belajar.
Simpulan
Maksiat adalah penghalang yang nyata dalam belajar Al-Quran. Dengan menjaga diri dari maksiat, memperkuat niat, dan bergabung dalam komunitas yang positif, kita dapat mengatasi hambatan tersebut. Mari kita bersama-sama berusaha untuk menjadi generasi yang mencintai Al-Quran dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
Menghafal Al-Qur’an adalah sebuah perjalanan agung yang menuntut kesabaran, ketekunan, dan pemahaman mendalam. Ini bukanlah sebuah proses instan, melainkan sebuah ibadah yang meneladani cara Al-Qur’an itu sendiri diturunkan. Anggapan bahwa ada “cara cepat” seringkali melupakan esensi dari interaksi dengan Kalamullah, yaitu untuk meresapi, memahami, dan mengamalkannya.
Argumentasi 1: Proses Bertahap adalah Sunnatullah dalam Penurunan Al-Qur’an
Allah SWT tidak menurunkan Al-Qur’an sekaligus, melainkan secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun. Metode ilahiah ini sendiri adalah dalil terkuat bahwa proses menghafal dan memahami Al-Qur’an membutuhkan tahapan dan waktu. Allah SWT berfirman:
“Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al-Isra’: 106)
Hikmah di balik penurunan bertahap ini, sebagaimana dijelaskan dalam ayat lain, adalah untuk menguatkan hati Rasulullah SAW dan para sahabat.
“Berkatalah orang-orang yang kafir: ‘Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?’; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).” (QS. Al-Furqan: 32)
Dari dua ayat ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa proses yang bertahap dan perlahan (tartil) adalah metode yang Allah tetapkan untuk menjadikan Al-Qur’an meresap kuat ke dalam hati. Maka, tergesa-gesa dalam menghafal tanpa proses justru bertentangan dengan sunnatullah ini.
Argumentasi 2: Tujuan Menghafal adalah Tadabbur, Bukan Sekadar Ingatan
Tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an bukanlah untuk sekadar dihafal lafaznya, melainkan untuk direnungkan maknanya (tadabbur). Hafalan yang kuat adalah gerbang utama menuju tadabbur yang mendalam. Tanpa pemahaman, hafalan menjadi seperti wadah kosong. Allah SWT menegaskan:
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (mentadabburi) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Sad: 29)
Oleh karena itu, metode menghafal yang efektif seperti Metode Yadain atau metode lainnya haruslah menjadi sarana untuk mencapai tujuan ini. Metode yang baik tidak hanya fokus pada teknik mengingat, tetapi juga mengintegrasikan pemahaman makna, konteks ayat, dan korelasi antar ayat. Inilah yang membedakan seorang Hafiz (penjaga) Al-Qur’an dengan sekadar “perekam” Al-Qur’an.
Argumentasi 3: Konsistensi (Istiqamah) Lebih Utama dari Kuantitas
Kunci keberhasilan dalam perjalanan menghafal Al-Qur’an adalah konsistensi atau istiqamah. Menghafal sedikit ayat setiap hari secara rutin jauh lebih dicintai Allah dan lebih efektif daripada menghafal banyak ayat namun hanya sesekali. Inilah prinsip yang diajarkan oleh Rasulullah SAW:
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang paling konsisten (dawam) walaupun itu sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi fondasi bagi para penghafal Al-Qur’an. Komitmen harian, meskipun hanya beberapa baris, akan membangun pondasi hafalan yang kokoh dari waktu ke waktu. Niat yang lurus karena Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya” (HR. Bukhari dan Muslim), menjadi bahan bakar untuk menjaga konsistensi ini.
Argumentasi 4: Menaklukkan Tantangan dengan Pertolongan Allah
Perjalanan menghafal tidak selamanya mulus. Rasa jenuh, kesulitan mengingat (mental block), dan godaan untuk berhenti adalah tantangan yang pasti dihadapi. Di sinilah kekuatan seorang penghafal Al-Qur’an diuji. Al-Qur’an sendiri memberikan solusi dan motivasi:
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)
Penegasan yang diulang dua kali ini adalah janji pasti dari Allah. Ketika menghadapi kesulitan, strategi Qur’ani yang harus dilakukan adalah:
Memperbanyak Doa: Mengakui kelemahan diri dan memohon pertolongan hanya kepada Allah, sebagaimana inti dari surah Al-Fatihah, “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan“.
Sabar dan Refleksi Diri: Mungkin ada maksiat yang menghalangi cahaya Al-Qur’an masuk ke dalam hati. Imam Syafi’i pernah mengadukan sulitnya hafalan kepada gurunya, lalu dinasihati untuk meninggalkan maksiat.
Berlindung dari Setan: Setan selalu berusaha membuat manusia lupa dan lalai dari mengingat Allah. Perbanyak ta’awudz dan dzikir.
Simpulan
Menghafal Al-Qur’an adalah sebuah proses meneladani wahyu, bukan sebuah perlombaan kecepatan. Perjalanan ini dibangun di atas pilar-pilar utama: proses bertahap sesuai sunnatullah, tujuan untuk tadabbur bukan sekadar ingatan, konsistensi dalam beramal, dan sandaran total kepada Allah saat menghadapi tantangan.
Baik menggunakan Metode Yadain di QLC Yogyakarta atau metode lainnya, ingatlah bahwa metode hanyalah alat. Hakikat keberhasilan terletak pada taufik dari Allah yang diraih melalui kesungguhan, kesabaran, dan niat yang lurus. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Semoga Allah SWT memudahkan langkah kita untuk menjadi bagian dari sebaik-baik manusia tersebut. Aamiin.
Biaya Program Executive Tahfizh Al-Qur’an dan Fasilitas
Program Executive Tahfizh Al-Qur’an di QLC Yogyakarta menawarkan berbagai fasilitas dan biaya yang terjangkau untuk mendukung proses penghafalan Al-Qur’an. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam mengenai biaya yang perlu dikeluarkan serta fasilitas yang tersedia selama program berlangsung.
Biaya Program Executive Tahfizh Al-Qur’an
Biaya yang dikenakan untuk mengikuti Program Executive Tahfizh Al-Qur’an di QLC Yogyakarta bervariasi tergantung pada durasi dan jenis program yang dipilih. Secara umum, biaya program ini mencakup:
Biaya pendaftaran
Biaya program
Setiap peserta diharapkan untuk menyiapkan anggaran yang sesuai agar dapat mengikuti program ini dengan lancar. Dalam metode Yadain Litahfizhil Qur’an, biaya dapat disesuaikan dengan fasilitas yang diinginkan.
Program Executive Tahfizh – QLC Yogyakarta
Periode: September-Desember 2025 • Total Biaya Akomodasi: Rp6.700.000 • DP untuk amankan kuota: Rp200.000
1) Executive Tahsin Tilawah 30 Juz Perbaikan bacaan Al-Qur’an 30 juz sesuai kaidah tajwid dalam 28 hari. Biaya: Rp6.700.000
6) Executive Tahfizh Online Setoran/menghafal harian 15 menit via Video Call WhatsApp. Biaya: Rp350.000
7) Executive Custom Program khusus sesuai kebutuhan individu/kelompok. Hubungi via WhatsApp untuk penawaran.
Fasilitas yang Tersedia
Selain biaya, fasilitas yang disediakan dalam Program Executive Tahfizh Al-Qur’an sangat mendukung bagi setiap peserta. Beberapa fasilitas tersebut antara lain:
Kelas pengajaran yang nyaman
Pengajaran oleh ustadz berpengalaman
Materi pelajaran yang lengkap dan terstruktur
Akses ke sumber belajar online
Support group untuk motivasi dan bimbingan
Fasilitas ini memastikan bahwa setiap peserta dapat belajar dengan optimal. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman, “Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107). Ini menunjukkan betapa pentingnya proses pembelajaran dalam agama kita.
Keuntungan Mengikuti Program di QLC Yogyakarta
Mengikuti program di QLC Yogyakarta memberikan banyak keuntungan. Beberapa di antaranya adalah:
Metode pengajaran yang inovatif dan efektif
Lingkungan belajar yang kondusif
Peningkatan hafalan yang signifikan dalam waktu singkat
Dengan metode yang tepat, hafalan Al-Qur’an bisa menjadi lebih mudah. Dalam mengatasi kesulitan hafalan, kami menyediakan berbagai teknik untuk membantu peserta.
Bagaimana Mendaftar?
Untuk mendaftar ke Program Executive Tahfizh Al-Qur’an, Anda dapat menghubungi kami melalui WhatsApp di nomor +6281224003100. Kami siap membantu Anda dalam proses pendaftaran dan memberikan informasi lebih lanjut mengenai program ini.
Dengan mengikuti Program Executive Tahfizh Al-Qur’an di QLC Yogyakarta, Anda tidak hanya mendapatkan bimbingan untuk menghafal Al-Qur’an, tetapi juga berbagai fasilitas yang mendukung proses belajar Anda. Mari bergabung dan jadikan Al-Qur’an bagian dari hidup Anda!
Informasi dan Pendaftaran WA +6281224003100.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Quran Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta