Keutamaan Membaca Al-Qur’an: Perspektif Hadits

Membaca Al-Quran adalah ibadah lisan yang paling utama, sebuah dialog antara hamba dengan Rabb-nya melalui firman-Nya. Keutamaannya tidak hanya terbatas pada ganjaran pahala, tetapi juga mencakup kemuliaan, keberkahan, dan perbaikan karakter bagi pembacanya.

Selain hadits-hadits populer yang sering kita dengar, terdapat banyak hadits shahih lainnya yang menggambarkan keagungan Al-Quran dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

1. Kemuliaan Bagi Semua Level Pembaca (Mahir dan Terbata-bata)

Islam adalah agama yang memberikan motivasi kepada semua kalangan, tanpa memandang tingkat kemampuannya. Dalam membaca Al-Quran, baik mereka yang sudah lancar maupun yang masih bersusah payah, keduanya mendapatkan kemuliaan di sisi Allah, bahkan yang kesulitan mendapatkan pahala ganda sebagai penghargaan atas usahanya.

Dalil Hadits: Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang mahir membaca Al-Quran, maka ia akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata dan ia kesulitan membacanya, maka baginya dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini adalah kabar gembira yang luar biasa, menghapus rasa minder bagi para pemula dan menegaskan bahwa setiap usaha dalam mempelajari Al-Quran sangat dihargai oleh Allah SWT.

2. Perumpamaan Indah Bagi Orang Beriman yang Membaca Al-Quran

Rasulullah ﷺ sering menggunakan perumpamaan (amtsal) untuk memudahkan pemahaman. Beliau memberikan perumpamaan yang sangat indah untuk menggambarkan karakter seorang mukmin yang hatinya senantiasa terikat dengan Al-Quran.

Dalil Hadits: Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الأُتْرُجَّةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ. وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ، لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ…

“Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Quran adalah seperti buah utrujjah (sejenis jeruk), baunya wangi dan rasanya enak. Dan perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Quran adalah seperti buah kurma, tidak ada baunya namun rasanya manis…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjelaskan bahwa seorang mukmin yang membaca Al-Quran memiliki kebaikan lahir dan batin. Lisannya harum dengan bacaan Al-Quran dan hatinya manis dengan keimanan.

3. Al-Quran Sebagai Pembangun Jiwa dan Hati

Hati seorang muslim akan menjadi hidup dan bercahaya dengan Al-Quran. Sebaliknya, hati yang kosong dari Al-Quran diibaratkan seperti bangunan yang runtuh, tidak memiliki pondasi dan kehidupan.

Dalil Hadits: Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ

“Sesungguhnya orang yang di dalam dirinya tidak ada sedikit pun Al-Quran adalah seperti rumah yang runtuh.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan shahih)

Hadits ini menjadi pengingat betapa pentingnya mengisi hati dan pikiran kita dengan hafalan dan pemahaman Al-Quran agar jiwa kita kokoh, bercahaya, dan tidak kosong.

Cara Meningkatkan Kecintaan Membaca Al-Quran

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus meningkatkan kecintaan terhadap Al-Quran. Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan:

  • Menjadikan membaca Al-Quran sebagai rutinitas harian.
  • Melatih diri untuk memahami makna dari setiap ayat yang dibaca.
  • Bergabung dengan komunitas atau majelis yang membahas Al-Quran.
  • Menetapkan target hafalan dan membaca ayat-ayat tertentu setiap hari.

Secara keseluruhan, hadits-hadits tentang keutamaan membaca Al-Quran menunjukkan betapa pentingnya aktivitas ini dalam setiap aspek kehidupan seorang Muslim. Dari janji pahala bagi yang terbata-bata hingga perumpamaan indah sebagai buah yang wangi dan lezat, semuanya mendorong kita untuk tidak pernah jauh dari Al-Quran.

Dengan memahami dan mengamalkannya, kita tidak hanya memperoleh manfaat di akhirat, tetapi juga membangun jiwa yang kokoh dan mulia di dunia. Mari kita tingkatkan kecintaan kita terhadap Al-Quran dan menjadikannya sebagai pedoman hidup.

Baca Juga

Karantina Tahfidz Nasional Jogja

Informasi dan Pendaftaran WA +6281224003100

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Quran
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri