Anak Susah Belajar? Mungkin Kita Lupa Satu Hal Penting Ini

Pernah nggak, Sahabat, kita duduk di samping si kecil, mencoba menjelaskan sesuatu berulang kali, tapi rasanya seperti angin lalu? Lelah, pasti. Kadang muncul rasa frustrasi, bahkan sedikit putus asa. Wajar banget, kok. Perjuangan mendampingi anak belajar di rumah memang punya seninya sendiri. Kita sudah siapkan buku, pulpen warna-warni, tapi ilmunya seakan mental lagi.

Mungkin… bukan metode kita yang salah. Mungkin kita hanya lupa satu hal yang sangat mendasar. Sesuatu yang Allah anugerahkan sejak kita lahir.

Panca indera.

Saat Otak Anak Menjadi Taman yang Subur

Coba kita bayangkan otak anak itu seperti sepetak taman yang subur. Selama ini, mungkin kita hanya menyiraminya dari satu sisi saja. Yaitu lewat mata (visual) dengan buku dan telinga (auditori) dengan penjelasan kita. Padahal, taman itu akan jauh lebih indah dan rimbun jika nutrisinya datang dari berbagai arah.

Allah SWT membekali kita dengan perangkat yang luar biasa lengkap. Bukan tanpa alasan.

وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)

Lihat, Sahabat? Pendengaran, penglihatan, dan hati (perasaan) disebut secara eksplisit. Inilah kunci untuk membuka gerbang pemahaman anak. Ketika kita hanya fokus pada ‘lihat buku’ dan ‘dengar penjelasan’, kita baru menggunakan sebagian kecil dari potensi luar biasa yang Allah berikan.

Inilah Kunci Mendampingi Anak Belajar di Rumah: Libatkan Semuanya!

Jadi, bagaimana cara praktisnya? Yuk, kita ubah sedikit cara pandang kita. Belajar itu bukan cuma duduk diam di meja. Belajar adalah sebuah petualangan rasa.

Dari Mata Turun ke Tangan

Saat mengajarkan huruf hijaiyah, misalnya. Jangan hanya menunjuk di buku Iqro’. Ajak anak membentuk huruf ‘Alif’ atau ‘Ba’ menggunakan adonan plastisin (play-doh). Biarkan jemari mungilnya merasakan lekuk setiap huruf. Rasakan sensasi lembut dan dinginnya di kulit. Ini adalah pengalaman yang tidak akan pernah ia dapatkan hanya dari melihat.

Atau saat belajar berhitung. Alih-alih menulis angka 1, 2, 3 di kertas, ajak ia ke halaman rumah. Kumpulkan kerikil, daun kering, atau bunga. “Yuk, kita hitung ada berapa daun yang gugur hari ini?” Pengalaman menyentuh tekstur daun yang rapuh sambil berhitung akan terekam jauh lebih kuat di memorinya.

Suara yang Menghidupkan Cerita

Telinga anak sangat peka terhadap nada dan irama. Saat membacakan kisah para Nabi, jangan datar. Gunakan intonasi yang berbeda untuk setiap tokoh. Tirukan suara angin yang kencang saat kisah Nabi Nuh, atau suara lembut penuh kasih saat kisah Nabi Muhammad SAW. Ini membuat cerita menjadi hidup, bukan sekadar rangkaian kata.

Bahkan, saat kita mengajarkan Al-Qur’an pun, suara memegang peranan penting. Ada adab dan cara yang perlu kita perhatikan, seperti yang pernah kita bahas mengenai apakah bicara saat baca Quran, bolehkah? Ini adabnya. Mengajarkan dengan suara yang tartil dan penuh perasaan akan menyentuh kalbu mereka lebih dalam.

Jangan Lupakan Aroma dan Rasa

Ini bagian yang paling sering terlupakan. Padahal indera penciuman dan perasa adalah gerbang memori yang sangat kuat. Pernah mencium aroma masakan ibu dan tiba-tiba teringat masa kecil? Itulah kekuatannya.

Saat mengenalkan nama-nama buah yang disebut dalam Al-Qur’an seperti kurma, anggur, atau delima, jangan hanya tunjukkan gambarnya. Beli buahnya. Ajak anak mencium aromanya yang khas. Biarkan lidahnya merasakan manisnya. Pengalaman ini akan mengikat informasi (nama buah) dengan emosi (rasa senang) secara permanen.

Belajar tentang hujan? Ajak ia berdiri di teras, cium aroma tanah basah yang khas itu. Namanya petrichor. Biarkan ia merasakan sejuknya udara setelah hujan. Ini adalah tadabbur alam yang paling sederhana namun sangat bermakna.

Belajar Bukan Beban, Tapi Perayaan

Sahabat Qur’an,

Pada akhirnya, mengubah cara kita mendampingi anak belajar adalah tentang mengubah ‘beban’ menjadi ‘perayaan’. Merayakan setiap indera yang Allah berikan. Merayakan rasa ingin tahu mereka yang tak terbatas.

Tidak perlu semua harus sempurna. Mulai saja dari yang sederhana. Hari ini mencoba belajar dengan plastisin, besok mencoba belajar sambil mencium wangi bunga di taman. Sedikit demi sedikit, kita akan melihat perubahan itu. Bukan hanya pada pemahaman akademisnya, tapi juga pada binar matanya yang kembali menyala saat mendengar kata “belajar”.

Karena sejatinya, tugas kita bukanlah mengisi bejana kosong, melainkan menyalakan api semangat. Semoga perjalanan kita mendampingi anak belajar di rumah menjadi lebih berwarna, menyenangkan, dan penuh berkah dari-Nya. Aamiin.


Daftar Referensi

  • Al-Qur’an Al-Karim, Surah An-Nahl.
  • Armstrong, T. (2009). Multiple Intelligences in the Classroom. ASCD.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat untuk mencetak para Hafizh dan Hafizhah dalam program unggulan Executive Tahfizh.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri