Diam atau Bertanya: Mana Adab yang Benar?
Pernahkah Anda begitu khusyuk membaca Al-Quran, lalu sebuah pertanyaan mendesak muncul di benak? Ingin sekali rasanya berhenti sejenak, bertanya pada teman di sebelah, atau sekadar memastikan pemahaman. Tapi sebuah suara lain berbisik, “Jangan bicara saat membaca Kitabullah.” Kita pun dilema.
Kita terbiasa dengan pemahaman bahwa adab tertinggi saat berinteraksi dengan Al-Quran adalah diam dan fokus. Tidak ada obrolan. Tidak ada interupsi. Hanya kita dan Kalam-Nya. Ini adalah prinsip yang agung. Namun, apakah ia mutlak tanpa kecuali?
Mari kita belajar dari salah satu sahabat terbaik, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Beliau adalah cerminan adab. Setiap gerak-geriknya adalah cerminan sunnah. Perhatikan bagaimana beliau mempraktikkan adab berbicara saat membaca Al-Quran dalam sebuah riwayat yang indah.
كَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا قَرَأَ لَمْ يَتَكَلَّمْ حَتَّى يَفْرُغَ مِمَّا يُرِيدُ أَنْ يَقْرَأَهُ قَالَ: فَدَخَلَ يَوْمًا فَقَالَ: أَمْسِكْ عَلَيَّ سُورَةَ الْبَقَرَةِ… فَلَمَّا أَتَى عَلَى مَكَانٍ مِنْهَا قَالَ: «أَتَدْرِي فِيمَ أُنْزِلَتْ؟» قُلْتُ: لَا. قَالَ: «فِي كَذَا وَكَذَا» ثُمَّ مَضَى فِي قِرَاءَتِهِ. قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ: …وَلَوْ كَانَ الْكَلَامُ مِنْ أَحَادِيثِ النَّاسِ وَأَخْبَارِهِمْ كَانَ عِنْدِي مَكْرُوهًا أَنْ تُقْطَعُ الْقِرَاءَةُ بِهِ
Nafi’ berkata: “Abdullah bin Umar jika membaca Al-Quran, beliau tidak akan berbicara hingga selesai dari bacaan yang dikehendakinya.” Nafi’ melanjutkan: “Suatu hari beliau masuk, lalu berkata: ‘Peganglah untukku Surah Al-Baqarah.’ … Ketika sampai pada suatu ayat, beliau bertanya: ‘Tahukah engkau tentang apa ayat ini diturunkan?’ Aku menjawab: ‘Tidak.’ Beliau berkata: ‘(Ayat ini) turun tentang perkara ini dan itu.’ Kemudian beliau melanjutkan bacaannya.” Abu ‘Ubaid berkata: “…Seandainya perkataan itu berupa obrolan dan berita dari manusia (urusan dunia), menurutku makruh untuk memotong bacaan dengannya.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadha’il Al-Qur’an)
Ketika Interupsi Adalah Tadabbur
Renungkanlah.
Prinsip awalnya jelas: Ibnu Umar tidak berbicara saat membaca Al-Quran. Beliau menjaga kekhusyukan itu. Namun, suatu ketika, beliau sengaja berhenti. Beliau memotong bacaannya sendiri. Untuk apa? Untuk bertanya kepada Nafi’.
Bukan pertanyaan tentang dunia. Bukan obrolan ringan. Pertanyaan itu lahir dari ayat yang sedang dibaca. “Tahukah engkau tentang apa ayat ini diturunkan?”
Ini adalah sebuah jeda untuk tadabbur. Sebuah pemberhentian untuk pendalaman makna. Ibnu Umar tidak hanya ingin membaca lafaznya, beliau ingin memastikan pemahaman tentang sebab turunnya ayat itu sampai kepada orang di dekatnya. Setelah menjelaskan, beliau kembali melanjutkan bacaannya. Hening kembali.
Komentar dari Abu ‘Ubaid di akhir riwayat memberikan kunci pemahaman yang sangat penting. Beliau menegaskan bahwa keringanan yang dilakukan Ibnu Umar ini berlaku karena perkataan tersebut adalah bagian dari penjelasan Al-Quran itu sendiri. Ini adalah sebuah kaidah emas dalam adab berbicara saat membaca Al-Quran.
Membedakan Obrolan Dunia dan Dialog Iman
Apa yang dilakukan Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud (yang juga diriwayatkan biasa membacakan Al-Quran lalu menafsirkannya kepada sahabatnya) mengajarkan kita sebuah perbedaan fundamental.
Memotong bacaan Al-Quran untuk membicarakan urusan pekerjaan, berita terbaru, atau candaan ringan adalah hal yang makruh (dibenci). Ia merusak kekhusyukan dan menunjukkan kurangnya penghormatan pada Kalamullah yang sedang dibacakan.
Namun, memotong bacaan Al-Quran untuk bertanya tentang makna sebuah kata, mendiskusikan sebab turunnya sebuah ayat, atau berbagi hikmah yang baru terpikirkan… itu adalah hal yang berbeda. Itu bukan interupsi. Itu adalah bentuk interaksi yang lebih dalam. Itu adalah upaya untuk tidak sekadar membaca, tapi untuk memahami dan meresapi.
Maka, adab berbicara saat membaca Al-Quran yang benar adalah membatasi pembicaraan hanya untuk hal-hal yang berkaitan dengan Al-Quran itu sendiri. Inilah yang mengubah tilawah dari sekadar rutinitas lisan menjadi sebuah perjalanan ruhani yang hidup.
Hidupkan Bacaan Anda
Jangan takut untuk berhenti sejenak. Jangan ragu untuk bertanya. Jika Anda membaca bersama pasangan atau sahabat, ciptakan momen untuk saling berbagi, “Subhanallah, ayat ini indah sekali maknanya,” atau, “Aku baru sadar, ternyata maksud ayat ini begini ya?”
Al-Quran bukanlah monolog dari langit yang hanya boleh kita dengarkan dalam diam membisu. Ia adalah dialog abadi antara Sang Pencipta dengan hamba-Nya. Dan dalam dialog, ada kalanya kita perlu berhenti untuk memastikan kita benar-benar paham apa yang sedang Dia firmankan kepada kita.
Memahami adab berbicara saat membaca Al-Quran dengan benar akan membebaskan kita dari kekakuan dan membawa kita pada interaksi yang lebih kaya dan bermakna. Jika Anda merindukan sebuah lingkungan yang mendukung dialog iman seperti ini, di mana Al-Quran tidak hanya dihafal tapi juga didalami bersama, kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta siap mendampingi perjalanan Anda.
Daftar Referensi
- Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam. Fadha’il Al-Qur’an wa Ma’alimuhu wa Adabuhu.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100


