Pernahkah Anda merasakan ada yang hilang di penghujung hari? Sebuah kekosongan halus yang sulit dijelaskan, meski semua urusan dunia tampak beres. Mungkin, hari itu kita lupa menyapa Kalam-Nya. Kita melewatkan ‘janji temu’ harian kita dengan Al-Quran.
Ini bukan perasaan yang aneh. Ini adalah fitrah jiwa yang merindukan sumber cahayanya. Generasi terbaik umat ini, para salafus shalih, memahami betul esensi dari janji temu ini. Mereka menyebutnya hizb, atau wirid. Sebuah komitmen pribadi yang tak bisa ditawar.
Bayangkan sebuah malam di Madinah. Sekelompok delegasi dari Bani Malik sedang menunggu Rasulullah ﷺ untuk berbincang seperti biasa setelah Isya. Tapi malam itu, beliau terlambat. Sangat terlambat. Rasa cemas mulai menjalari hati para sahabat. Ketika akhirnya beliau datang, mereka pun bertanya.
Jawaban beliau bukanlah tentang urusan negara atau keluarga. Jawabannya adalah tentang sebuah prioritas yang mengalahkan segalanya.
نَعَمْ طَرَأَ عَلَيَّ حِزْبِي مِنَ الْقُرْآنِ، فَكَرِهْتُ أَنْ أَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى أَقْضِيَهُ
“Benar, telah datang waktu hizb (bagian wirid)-ku dari Al-Qur’an, maka aku tidak suka keluar dari masjid hingga aku menyelesaikannya.” (HR. Ad-Darimi)
Allahu Akbar. Renungkanlah. Rasulullah ﷺ, manusia paling sibuk dengan urusan umat, merasa “tidak suka” untuk beranjak sebelum komitmennya dengan Al-Quran tuntas. Ini bukan beban. Ini adalah kebutuhan. Ini adalah sumber kekuatan beliau.
Janji Temu yang Terstruktur
Lalu, seperti apa ‘janji temu’ ini? Para sahabat yang penasaran pun bertanya kepada sahabat-sahabat Rasulullah yang lain, “Bagaimana kalian membagi Al-Quran?”
Mereka menjawab dengan sebuah formula yang indah, menunjukkan betapa terstrukturnya interaksi mereka.
نُحَزِّبُهُ: ثَلَاثَ سُوَرٍ، وَخَمْسَ سُوَرٍ، وَسَبْعَ سُوَرٍ وَتِسْعَ سُوَرٍ، وَإِحْدَى عَشْرَةَ سُورَةٍ، وَثَلَاثَ عَشْرَةَ سُورَةً، وَحِزْبَ الْمُفَصَّلِ مَا بَيْنَ قَافٍ فَأَسْفَلَ
“Kami membaginya: tiga surat, lima surat, tujuh surat, sembilan surat, sebelas surat, tiga belas surat, dan bagian Al-Mufashshal dari surat Qaf hingga akhir.” (HR. Ad-Darimi)
Mereka memiliki target. Terukur. Jelas. Bukan sekadar membaca tanpa arah. Inilah salah satu inti dari cara menjaga wirid Al Quran: memiliki porsi yang jelas dan berkomitmen padanya. Tidak harus sama persis, namun semangatnya adalah memiliki porsi harian yang kita jaga sekuat tenaga.
Bagaimana Jika Terlewat?
Manusia tempatnya lupa dan lelah. Ada kalanya kesibukan menyita, atau rasa kantuk mengalahkan. Apakah semua hilang begitu saja? Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memberikan sebuah solusi penuh rahmat, sebuah kelonggaran yang memotivasi.
مَنْ فَاتَهُ حِزْبُهُ مِنَ اللَّيْلِ فَقَرَأَهُ حَتَّى تَزُولَ الشَّمْسِ إِلَى صَلَاةِ الظُّهْرِ، فَكَأَنَّهُ لَمْ يَفُتْهُ، أَوْ كَأَنَّهُ أَدْرَكَهُ
“Barangsiapa yang hizb malamnya terlewat, lalu ia membacanya hingga matahari tergelincir sampai shalat Zhuhur, maka seakan-akan ia tidak melewatkannya.” (Atsar riwayat Umar bin Khattab)
Subhanallah. Ini bukan izin untuk menyepelekan, melainkan sebuah pintu harapan. Terlewat di malam hari? Bayarlah di waktu Dhuha hingga sebelum Zhuhur. Prioritasnya begitu tinggi, sampai-sampai ada waktu khusus untuk ‘meng-qadha’-nya. Pernah suatu ketika seseorang meminta izin bertemu Umar di waktu yang panas, namun beliau menahannya cukup lama. Saat ditanya, beliau menjawab, “Aku sedang menyelesaikan wirid-ku.”
Begitulah. Wirid adalah hutang yang harus dibayar lunas.
Wirid Adalah Bagian dari Napas Kehidupan
Komitmen para salaf ini melampaui sekadar ritual di atas sajadah. Ia menyatu dengan denyut nadi kehidupan mereka. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Sungguh aku membaca juz-ku (atau sepertujuh bagianku) sementara aku duduk di atas tempat tidurku.”
Di atas ranjang. Dalam suasana santai. Wirid bukanlah sesuatu yang kaku, ia adalah sahabat di setiap kondisi.
Bahkan lebih dari itu, Ibnu Abbas dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum, mereka berdua membaca juz mereka setelah keluar dari kamar kecil, bahkan sebelum berwudhu. Betapa berharganya waktu bagi mereka. Betapa mereka tak ingin jeda terlalu lama dari Kalamullah.
Kisah-kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah cermin. Cermin untuk kita bertanya pada diri sendiri: Di manakah posisi Al-Quran dalam 24 jam yang kita miliki? Apakah ia menjadi prioritas utama, atau sekadar pengisi waktu sisa?
Memulai sebuah wirid mungkin terasa berat. Namun, konsistensi walau sedikit adalah kunci yang diajarkan Rasulullah. Mungkin hanya satu halaman. Mungkin hanya beberapa ayat. Tapi dilakukan setiap hari. Tanpa henti.
Itulah cara menjaga wirid Al Quran yang paling hakiki. Menjadikannya sebagai detak jantung harian kita, sebuah janji temu yang kita rindukan, dan sebuah komitmen yang tak akan kita biarkan terlewatkan. Karena saat kita menjaga Al-Quran, sejatinya Al-Quranlah yang sedang menjaga kita.
Jika Anda merasakan panggilan untuk memulai atau memperkuat komitmen ini, ketahuilah bahwa lingkungan yang mendukung adalah separuh dari perjalanan. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami membantu para eksekutif dan profesional membangun kebiasaan mulia ini, menjadikan Al-Quran sebagai sahabat di tengah kesibukan dunia.
Daftar Referensi
- Kitab Fadhailul Qur’an karya Abu Abdillah Muhammad bin Ayyub bin Yahya bin adh-Dhurais al-Bajali, Bab “Pembaca Al-Qur’an Menjaga Juz dan Wiridnya dari Al-Qur’an di Malam dan Siang Hari, dalam Shalat atau di Luar Shalat”.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100


