Ada kalanya, sebuah perpisahan justru menjadi gerbang bagi sebuah warisan tak ternilai. Bukan harta, bukan pula takhta, melainkan untaian nasihat yang terpatri abadi di dalam jiwa. Bayangkan sebuah senja di kota Basrah, saat seorang sahabat mulia, Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, hendak pergi. Orang-orang yang mencintainya mengantar dengan berat hati, lalu memohon sebuah bekal, sebuah wasiat yang akan menerangi jalan mereka sepeninggalnya.

Maka, dari lisan yang pernah begitu dekat dengan Rasulullah ﷺ, mengalirlah mutiara-mutiara hikmah. Ini bukan sekadar kata, melainkan peta jalan keselamatan yang merangkum esensi kehidupan seorang mukmin. Sebuah wasiat sahabat Nabi tentang Al-Qur’an, kehidupan, dan prioritas abadi yang semestinya kita genggam erat hingga akhir hayat.

Fondasi Pertama: Kesucian Perut, Cermin Batin

Hal pertama yang disentuh oleh Jundub bukanlah tentang ibadah ritual yang agung, melainkan tentang sesuatu yang sering kita anggap remeh: isi perut kita. Beliau berpesan, “Barang siapa di antara kalian yang mampu untuk tidak memasukkan ke dalam perutnya kecuali yang baik (thayyib), maka lakukanlah.” Mengapa ini begitu penting? Beliau melanjutkan dengan sebuah pengingat yang menyentak, “Karena sesungguhnya yang pertama kali membusuk dari manusia adalah perutnya.”

Pesan ini begitu dalam. Perut adalah muara dari segala energi yang akan kita gunakan untuk beribadah dan beraktivitas. Jika muaranya keruh oleh sesuatu yang haram atau syubhat, bagaimana mungkin alirannya bisa jernih? Makanan yang thayyib tidak hanya menyehatkan jasad, tetapi juga menyucikan ruh, melembutkan hati, dan menjadi sebab terkabulnya doa. Nasihat ini adalah fondasi, bahwa kesucian lahiriah adalah gerbang menuju kesucian batiniah.

Dinding Surga Itu Bernama Kehormatan Darah

Setelah urusan perut, wasiat beranjak pada urusan yang lebih besar: hubungan antar sesama manusia. Jundub memperingatkan dengan sangat keras, “Barang siapa di antara kalian yang mampu untuk tidak terhalang antara dirinya dan surga oleh segenggam darah seorang muslim yang ia tumpahkan seakan-akan ia menyembelih seekor ayam, maka lakukanlah.”

Subhanallah, sebuah perumpamaan yang luar biasa. Menumpahkan darah seorang muslim—yang dianggap remeh laksana menyembelih ayam—bisa menjadi dinding tebal yang menghalangi kita dari setiap pintu surga. Ini bukan hanya tentang pembunuhan fisik. Ini adalah tentang menjaga lisan dari fitnah yang membunuh karakter, menjaga tangan dari kezaliman, dan menjaga hati dari kebencian yang bisa memicu permusuhan. Menjaga kehormatan seorang muslim adalah syarat untuk melangkah ringan menuju taman-taman surga.

Al-Qur’an: Cahaya di Siang dan Malam Hari

Inilah puncak dari untaian nasihat itu, sebuah wasiat yang menjadi inti dari perjalanan kita. Beliau berkata, “Dan wajib atas kalian berpegang pada Al-Qur’an; karena ia adalah petunjuk di siang hari dan cahaya di malam yang kelam.” Dalam kalimat yang puitis ini, terkandung makna yang sangat luas.

Al-Qur’an bukan hanya pelita saat kita tersesat dalam gelap (malam yang kelam). Ia juga kompas saat semua terlihat jelas dan benderang (siang hari), agar kita tidak terlena atau salah arah. Ia adalah teman di kala sepi dan penasihat di kala ramai. Maka, Jundub melanjutkan, “Amalkanlah ia dalam keadaan susah maupun lapang.” Inilah bukti cinta sejati pada Kalamullah. Mengamalkannya bukan hanya saat kondisi ideal, tetapi justru saat kesulitan dan kesempitan menerpa. Inilah esensi dari sebuah wasiat sahabat Nabi tentang Al-Qur’an yang paling menyentuh.

Skala Prioritas Abadi: Harta, Nyawa, dan Agama

Bagaimana jika badai ujian datang menerpa? Sahabat mulia ini memberikan kita skala prioritas yang tak lekang oleh waktu. Urutannya begitu jelas dan tegas:

  1. Jika datang ujian (bala’): “Dahulukan hartamu untuk melindungi darahmu (nyawamu).” Artinya, korbankan materi demi keselamatan jiwa.
  2. Jika ujian semakin berat: “Dahulukan darahmu (nyawamu) untuk melindungi agamamu.” Artinya, korbankan nyawa demi mempertahankan iman dan prinsip kebenaran.

Kemudian, beliau menutupnya dengan sebuah definisi kerugian yang hakiki. “Sesungguhnya orang yang dirampok adalah yang dirampok agamanya, dan orang yang dicuri adalah yang dicuri agamanya.” Harta bisa dicari, kedudukan bisa hilang dan datang, bahkan nyawa pun akan berakhir. Tetapi jika agama yang hilang, maka kita telah kehilangan segalanya. Inilah puncak pemahaman tentang apa yang benar-benar berharga.

Kekayaan Hakiki dan Kemiskinan Abadi

Sebagai penutup, Jundub bin Abdullah memberikan kita sebuah perspektif akhirat yang meluruskan semua pandangan duniawi kita. “Sesungguhnya tidak ada kemiskinan setelah Surga, dan tidak ada kekayaan setelah Neraka.” Apa pun penderitaan di dunia, ia akan menjadi tiada arti begitu kaki kita menginjak surga. Sebaliknya, apa pun kemewahan di dunia, ia tak akan mampu menolong sedikit pun dari pedihnya siksa neraka.

Mari kita resapi kembali wasiat agung ini. Mulai dari sucinya perut, terjaganya darah sesama muslim, berpegang teguh pada Al-Qur’an dalam segala kondisi, hingga memahami prioritas tertinggi dalam hidup. Inilah warisan terindah dari generasi terbaik, sebuah peta jalan pulang menuju keridhaan-Nya.

فَقَالَ: «مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَلَّا يَجْعَلَ فِي بَطْنِهِ إِلَّا طَيِّبًا فَلْيَفْعَلْ… وَعَلَيْكُمْ بِالْقُرْآنِ؛ فَإِنَّهُ هُدَى النَّهَارِ وَنُورُ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، فَاعْمَلُوا بِهِ عَلَى مَا كَانَ مِنْ جَهْدٍ وَفَاقَةٍ، فَإِنْ عَرَضَ بَلَاءٌ فَقَدِّمُوا أَمُوَالَكُمْ دُونَ دِمَائِكُمْ فَإِنْ تَجَاوَزَهَا الْبَلَاءُ فَقَدِّمُوا دِمَاءَكُمْ دُونَ دِينِكُمْ، فَإِنَّ الْمَحْرُوبَ مَنْ حُرِبَ دِينَهُ، وَإِنَّ الْمَسْلُوبَ مَنْ سُلِبَ دِينَهُ. إِنَّهُ لَا فَقْرَ بَعْدَ الْجَنَّةِ، وَلَا غِنَى بَعْدَ النَّارِ»

Beliau (Jundub bin Abdullah) berkata: “Barang siapa di antara kalian yang mampu untuk tidak memasukkan ke dalam perutnya kecuali yang baik (thayyib), maka lakukanlah… Dan wajib atas kalian berpegang pada Al-Qur’an; karena ia adalah petunjuk di siang hari dan cahaya di malam yang kelam. Amalkanlah ia dalam keadaan susah maupun lapang. Jika datang ujian, maka dahulukan hartamu untuk melindungi nyawamu. Jika ujiannya lebih dari itu, maka dahulukan nyawamu untuk melindungi agamamu. Sesungguhnya orang yang dirampok adalah yang dirampok agamanya, dan orang yang dicuri adalah yang dicuri agamanya. Sungguh, tidak ada kemiskinan setelah Surga, dan tidak ada kekayaan setelah Neraka.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubayd al-Qasim ibn Sallam)

Semoga kita dimampukan untuk mengamalkan setiap butir dari wasiat sahabat Nabi tentang Al-Qur’an dan kehidupan ini. Aamiin.

Daftar Referensi

  • Abu ‘Ubayd al-Qasim ibn Sallam. Fadha’il al-Qur’an. (tahqiq: Marwan al-‘Athiyyah, dkk.). Damaskus: Dar Ibn Kathir, 1415 H/1995 M.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,