Kisah-kisah para sahabat Rasulullah ﷺ senantiasa menyuguhkan mutiara hikmah yang tak lekang oleh zaman. Dalam suatu waktu, ketika seorang sahabat mulia bernama Jundub bin Abdillah hendak berpisah dengan masyarakat Bashrah, mereka menghantarkan kepergiannya dengan sebuah pinta yang tulus: “Wahai sahabat Rasulullah ﷺ, berilah kami wasiat.” Permintaan itu dijawab dengan untaian nasihat yang padat makna, sarat petunjuk, dan mengandung esensi terdalam tentang bagaimana seharusnya seorang Muslim meniti kehidupannya.
Asupan Halal: Fondasi Kesucian Jiwa dan Raga
Nasihat pertama yang terucap dari lisan Jundub bin Abdillah adalah tentang kehati-hatian dalam mengonsumsi makanan. “Barangsiapa di antara kalian mampu untuk tidak memasukkan ke dalam perutnya melainkan yang baik (thayyib), maka lakukanlah. Sebab, bagian pertama dari manusia yang akan membusuk adalah perutnya.” Petuah ini melampaui sekadar anjuran diet sehat. Ia adalah penekanan fundamental terhadap integritas spiritual dan moral. Apa yang kita masukkan ke dalam tubuh akan memengaruhi bukan hanya kondisi fisik, melainkan juga kejernihan pikiran, ketenangan hati, dan bahkan kualitas ibadah kita.
Memilih yang thayyib mencakup dimensi kehalalan zatnya, kebersihan prosesnya, dan keberkahan cara mendapatkannya. Ia harus diperoleh dari jalan yang diridai Allah, bebas dari syubhat apalagi keharaman. Ketika perut kita terpelihara dari yang kotor dan buruk, niscaya akan terpancar pula pancaran kebaikan dari tutur kata dan laku perbuatan. Sebaliknya, makanan yang haram atau subhat, meski sekecil apa pun, dapat menjadi titik awal kekeruhan hati dan penghalang terangkatnya doa. Ini adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan jiwa dan raga, yang dampaknya terasa hingga akhirat.
فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Maksudnya, “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah-Nya.” (Q.S. An-Nahl: 114). Ayat ini menguatkan urgensi memilih yang halal dan thayyib sebagai wujud syukur dan penghambaan kepada Sang Pencipta.
Menjaga Marwah Jiwa: Simpul Ukhuwah yang Kokoh
Wasiat selanjutnya menyentuh aspek yang amat sensitif dan krusial dalam hubungan antarmanusia, khususnya sesama Muslim: “Dan barangsiapa di antara kalian mampu untuk tidak menjadikan antara dirinya dan surga penghalang sebesar segenggam darah seorang Muslim yang ia tumpahkan, seolah-olah ia menyembelih ayam, sehingga ia tidak mendatangi satu pun pintu surga kecuali ia terhalang darinya, maka lakukanlah.” Petuah ini adalah peringatan keras yang menggema, menggarisbawahi betapa agungnya kehormatan nyawa seorang Muslim di sisi Allah.
Menumpahkan darah sesama Muslim tanpa hak adalah dosa besar yang melampaui batas. Analogi “menyembelih ayam” menggambarkan betapa ringannya tindakan tersebut di mata pelaku, namun di hadapan Allah, ia menjadi dosa yang menggunung, berpotensi menutup setiap pintu surga. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan, kasih sayang, dan kedamaian. Pertikaian, permusuhan, apalagi kekerasan fisik yang menumpahkan darah, adalah manifestasi kerusakan dalam tatanan sosial yang harus kita hindari sekuat tenaga. Kehidupan seorang Muslim adalah amanah yang wajib kita jaga, bukan untuk dicabut sembarangan. Kita dituntut untuk menjadi pribadi yang menebarkan kedamaian, bukan kekacauan.
Al-Qur’an: Pelita Hati di Gelapnya Kehidupan
Kemudian, nasihat yang tak kalah fundamental adalah tentang mahkota petunjuk: Al-Qur’an. “Dan berpegang teguhlah kalian kepada Al-Qur’an; sesungguhnya ia adalah petunjuk di siang hari dan cahaya di malam yang gelap. Maka amalkanlah dengannya semampu kalian, baik dalam keadaan susah maupun butuh.” Ini adalah jantung dari setiap arahan hidup seorang mukmin. Al-Qur’an bukanlah sekadar kumpulan ayat yang dibaca, melainkan sebuah manifestasi rahmat ilahi, sebuah panduan komprehensif yang menerangi setiap relung kehidupan.
Di tengah kegelapan kebingungan, kegamangan, dan tantangan yang silih berganti, Al-Qur’an hadir sebagai hudan (petunjuk) yang nyata. Di saat hati gundah gulana dan jiwa dilanda resah, ia menjadi nur (cahaya) yang menenangkan dan mengarahkan. Mengamalkan Al-Qur’an berarti menelusuri maknanya, meresapi hikmahnya, dan menjadikannya ruh dalam setiap keputusan serta tindakan, baik ketika kita berada dalam kemudahan maupun kesukaran. Ia adalah obat bagi segala penyakit hati, solusi bagi setiap problematika, dan penjaga dari ketergelinciran.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
Artinya, “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (Q.S. Yunus: 57). Ayat ini menggarisbawahi multi-fungsi Al-Qur’an sebagai penasihat, penyembuh, petunjuk, dan rahmat bagi setiap jiwa yang beriman.
Puncak Pengorbanan: Agama di Atas Segalanya
Pesan Jundub bin Abdillah mencapai puncaknya dengan arahan yang sangat bijaksana dalam menghadapi musibah: “Jika datang suatu bala (ujian/musibah), maka dahulukanlah harta kalian di atas darah kalian. Jika bala itu melampaui batas, maka dahulukanlah darah kalian di atas agama kalian. Sesungguhnya yang terampas adalah siapa yang agamanya terampas, dan sesungguhnya yang tersisihkan adalah siapa yang agamanya tersisihkan.” Ini adalah hierarki nilai yang mengajarkan kita tentang prioritas tertinggi dalam hidup.
Pertama, saat berhadapan dengan pilihan antara harta atau nyawa, Islam memerintahkan kita untuk melindungi nyawa. Namun, ketika pilihan itu adalah antara nyawa atau agama, maka agama harus menjadi garda terdepan yang wajib dipertahankan, bahkan dengan mengorbankan jiwa. Mengapa demikian? Karena harta dan nyawa adalah fana, sementara agama adalah bekal abadi menuju kehidupan yang kekal. Kehilangan agama berarti kehilangan arah, kehilangan identitas, dan kehilangan tujuan hakiki keberadaan. Istilah “yang terampas” dan “yang tersisihkan” secara gamblang menggambarkan kerugian total yang menimpa seseorang yang tercerabut dari agama dan keyakinannya.
Wasiat ini menegaskan bahwa iman adalah aset tak ternilai. Demi menjaga keimanan dan prinsip-prinsip agama, seorang Muslim harus rela mengorbankan apa pun. Ini adalah manifestasi dari puncak kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, sebuah tekad untuk menjaga obor kebenaran tetap menyala dalam sanubari, bahkan di tengah badai cobaan terberat sekalipun.
Refleksi Akhirat: Realitas Kekayaan dan Kemiskinan Hakiki
Sebagai penutup, sahabat Jundub bin Abdillah menghadirkan perspektif akhirat yang mencerahkan: “Sesungguhnya tidak ada kemiskinan setelah surga, dan tidak ada kekayaan setelah neraka. Sesungguhnya tawanan neraka tidak akan dibebaskan, dan orang miskin di dalamnya tidak akan menjadi kaya.” Kata-kata ini adalah pengingat yang menusuk jiwa, tentang hakikat kemiskinan dan kekayaan yang sesungguhnya.
Surga adalah puncak segala kenikmatan, tempat di mana segala bentuk kekurangan sirna. Sebaliknya, neraka adalah jurang penderitaan sejati, di mana tiada harapan akan kebebasan atau kekayaan. Pemahaman ini seharusnya menjadi motor penggerak bagi kita untuk menjadikan kehidupan dunia ini sebagai ladang amal yang subur, mengumpulkan bekal terbaik untuk kehidupan abadi. Setiap pilihan yang kita ambil, setiap tindakan yang kita lakukan, dan setiap pengorbanan yang kita berikan, haruslah berlandaskan pada kesadaran akan hari kemudian. Sebab, di sanalah letak perhitungan hakiki, di sanalah penentuan nasib yang kekal.
Wasiat Jundub bin Abdillah adalah sebuah peta jalan yang utuh dan menyeluruh. Ia membimbing kita dari hal-hal mendasar seperti asupan makanan, hingga perkara agung seperti menjaga kehormatan jiwa dan memprioritaskan agama. Ia mengarahkan pandangan kita bukan hanya pada kehidupan dunia, tetapi juga pada realitas akhirat yang kekal. Semoga untaian nasihat berharga ini menjadi kompas yang senantiasa menuntun langkah kita menuju keridaan-Nya.
—-
Untuk Anda yang rindu menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dan panduan utama dalam hidup, Executive Tahfizh membuka pintu kesempatan. Mari bergabunglah dengan kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta, sebuah program yang dirancang khusus untuk memfasilitasi Anda dalam menghafal, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an dengan metode yang teruji dan efektif.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Kitab Fadha’il Al-Qur’an oleh Abu Ubaid, Bab Fadhlu Al-Hadh ala Al-Qur’an wa Al-I’sha’ bihi wa Itharuhu ala Ma Siwahu, halaman 77-78. Diakses dari sumber di Perpustakaan Islam Shamela
- Q.S. An-Nahl: 114
- Q.S. Yunus: 57
