Kisah-kisah para pendahulu saleh bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan cermin jernih tempat kita merefleksikan kualitas diri. Di antara ribuan cermin itu, ada satu yang memantulkan cahaya ketekunan dan kerendahan hati yang luar biasa: potret Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau, sang tinta umat (Habrul Ummah) dan sepupu Rasulullah ﷺ, justru mengajarkan bahwa kemuliaan nasab tidak serta-merta menjadi tiket kehormatan. Ada perjuangan, ada pengorbanan, dan ada kesungguhan yang harus dibayarkan. Inilah pelajaran tentang bagaimana mengerahkan semangat tinggi dalam menuntut ilmu syar’i seperti Ibnu Abbas, sebuah warisan yang tak lekang oleh zaman.

Memahami Akar Semangat Sang Bintang Umat

Coba kita renungkan sejenak. Jika kita berada dalam posisi Ibnu Abbas—kerabat dekat pemimpin paling dihormati—mungkin akan ada sedikit rasa bangga yang menyelinap. Namun, beliau justru menempuh jalan yang berbeda. Beliau sadar betul bahwa ilmu syar’i, khususnya Al-Qur’an dan Sunnah, adalah sumber kemuliaan hakiki yang cahayanya terpancar dari dalam rumah kenabian. Maka, menjadi sebuah keniscayaan bagi Ahlul Bait untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga dan menyebarkannya.

Dalam sebuah riwayat yang menyentuh, Ibnu Abbas berkisah tentang perjalanannya mencari hadits setelah Rasulullah ﷺ wafat. Beliau mendatangi seorang sahabat Anshar untuk belajar, namun sahabat tersebut sedang beristirahat siang. Apa yang beliau lakukan? Beliau tidak mengetuk pintu atau meminta sang empunya rumah dibangunkan. Sebaliknya, beliau menggelar rida’ (selendang)-nya di depan pintu, menjadikannya bantal, dan berbaring di atas tanah yang berdebu. Beliau menunggu dengan sabar hingga sahabat itu keluar. Betapa terkejutnya sang sahabat melihat pemandangan itu.

“Wahai putra paman Rasulullah, ada apa gerangan? Mengapa engkau tidak mengutus seseorang saja agar aku yang datang kepadamu?” tanya sahabat itu. Dengan penuh kerendahan hati, Ibnu Abbas menjawab, “Tidak, akulah yang lebih pantas untuk mendatangimu.”

Kisah ini bukan sekadar tentang adab, melainkan tentang sebuah pola pikir. Ibnu Abbas memandang ilmu sebagai sesuatu yang begitu berharga sehingga harus dikejar, didatangi, dan ditunggu dengan penuh kesabaran, bahkan jika harus mengorbankan kenyamanan diri.

Kunci Mengerahkan Semangat Tinggi dalam Menuntut Ilmu Syar’i Seperti Ibnu Abbas

Dari jejak langkah Ibnu Abbas, kita bisa memetik beberapa kunci fundamental untuk membangkitkan gairah keilmuan dalam diri. Ini bukan hanya tentang teknik, tetapi tentang transformasi jiwa yang memandang ilmu sebagai kebutuhan pokok.

1. Melepas Jubah Kebesaran demi Kemuliaan Ilmu

Penghalang terbesar dalam belajar sering kali adalah ego dan rasa gengsi. Ibnu Abbas, dengan status sosialnya yang tinggi, memberikan teladan sempurna tentang bagaimana menanggalkan semua atribut duniawi di hadapan ilmu. Beliau rela memosisikan dirinya sebagai murid yang butuh, bukan sebagai kerabat Nabi yang harus dilayani. Inilah esensi dari mengerahkan semangat tinggi dalam menuntut ilmu syar’i seperti Ibnu Abbas; kita harus merasa “miskin” di hadapan ilmu agar Allah “mengayakan” kita dengannya.

2. Memandang Guru sebagai Pintu Keberkahan

Lihatlah bagaimana Ibnu Abbas memuliakan para ulama di masanya. Diriwayatkan bahwa beliau pernah menuntun tali kekang kendaraan Zaid bin Tsabit, seorang ahli waris dan penulis wahyu. Ketika Zaid bertanya mengapa beliau melakukannya, Ibnu Abbas menjawab, “Beginilah kami diajarkan untuk memperlakukan para ulama kami.” Penghormatan ini bukanlah basa-basi, melainkan keyakinan bahwa dari kerendahan hati di hadapan guru, pintu-pintu keberkahan ilmu akan terbuka lebar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang kedudukan orang berilmu:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“…Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (Q.S. Al-Mujadilah: 11).

3. Konsistensi Adalah Nafas Perjuangan

Semangat Ibnu Abbas bukanlah semangat yang menyala sesaat lalu padam. Beliau melakukannya secara konsisten. Setelah Rasulullah ﷺ wafat, beliau berkata kepada seorang pemuda Anshar, “Mari kita bertanya kepada para sahabat Nabi selagi mereka masih banyak.” Meski awalnya diremehkan, Ibnu Abbas tetap teguh pada jalannya. Hasilnya? Pemuda Anshar itu di kemudian hari melihat Ibnu Abbas dikelilingi lautan manusia yang bertanya kepadanya, dan ia pun mengakui, “Pemuda ini (Ibnu Abbas) dahulu lebih cerdas dariku.” Konsistensi inilah yang mengubah batu biasa menjadi permata.

Membangun Kembali Kemuliaan Umat

Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Orang yang mulia sesungguhnya adalah ia yang dimuliakan oleh ilmunya.” Pernyataan ini menjadi benang merah yang mengikat seluruh kisah Ibnu Abbas. Kemuliaan sejati tidak diwariskan lewat darah, melainkan diperjuangkan lewat tinta dan kesungguhan di hadapan kitab dan para guru.

Pada akhirnya, warisan terbesar yang bisa kita berikan kepada generasi mendatang bukanlah harta atau nama besar, melainkan semangat untuk terus belajar, terutama belajar Al-Qur’an. Karena dari sanalah sumber segala ilmu dan kemuliaan berasal. Sebagaimana para pendahulu kita membangun peradaban di atas fondasi wahyu, kita pun dipanggil untuk melakukan hal yang sama.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“…Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”…” (Q.S. Az-Zumar: 9).

Semoga kita diberi kekuatan untuk menapaki jejak para raksasa ilmu seperti Abdullah bin Abbas, menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat sejati, dan merasakan manisnya kemuliaan yang datang dari ilmu dan adab. Ini adalah undangan untuk memulai perjalanan, sebuah perjalanan yang menuntut kerendahan hati dan semangat yang tak pernah padam.

Perjalanan menghafal dan memahami Al-Qur’an adalah salah satu wujud nyata dari upaya kita mengerahkan semangat tinggi dalam menuntut ilmu syar’i seperti Ibnu Abbas. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami membersamai Anda dalam perjalanan mulia ini, merancang metode yang sesuai dengan kesibukan Anda tanpa mengurangi kualitas interaksi bersama Al-Qur’an.

Daftar Referensi

  • Al-Husain bin Al-Mansur Billah Al-Qasimi. Ādāb al-ʿUlamāʾ wa al-Mutaʿallimīn.
  • Q.S. Al-Mujadilah: 11
  • Q.S. Az-Zumar: 9

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri