Ada sebuah perjalanan jiwa yang begitu syahdu, sebuah pelayaran mengarungi samudra Kalamullah yang tak bertepi. Setiap lembar yang kita baca, setiap ayat yang kita lantunkan, adalah kayuhan yang mendekatkan kita pada dermaga keridhaan-Nya. Lalu, ketika kapal kita mendekati surah An-Naas, ada debar haru yang menyelinap. Inilah garis finis, momen khatam yang kita rindukan. Namun, pernahkah kita berpikir, adakah momen terindah untuk menyentuh garis finis itu? Ternyata, para salafush shalih telah memberikan kita sebuah warisan berharga tentang waktu terbaik mengkhatamkan Al-Quran, sebuah momen di mana pintu langit terbuka dan doa para malaikat tercurah.

Momen Khatam yang Didoakan Para Malaikat

Setiap interaksi kita dengan Al-Quran adalah istimewa. Namun, mengakhiri sebuah siklus tilawah atau hafalan adalah sebuah perayaan ruhani. Ia laksana panen raya setelah berbulan-bulan menanam benih kesabaran dalam dada. Imam Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam dalam kitabnya yang monumental, Fadhailul Qur’an, mengabadikan sebuah petunjuk indah dari generasi terbaik umat ini, sebuah atsar dari Ibrahim At-Taimi yang menyingkap rahasia ini:

إِذَا خَتَمَ الرَّجُلُ الْقُرْآنَ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَإِذَا خَتْمَهُ أَوَّلَ اللَّيْلِ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ بَقِيَّةَ لَيْلَتِهِ… وَكَانُوا يَسْتَحِبُّونَ إِذَا خَتَمُوا مِنَ اللَّيْلِ أَنْ يَخْتِمُوا فِي الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَإِذَا خَتَمُوا مِنَ النَّهَارِ أَنْ يَخْتِمُوا فِي الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ

“Dahulu dikatakan: ‘Apabila seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an di awal siang (pagi hari), niscaya para malaikat akan mendoakannya sepanjang sisa hari itu. Dan apabila ia mengkhatamkannya di awal malam, niscaya para malaikat akan mendoakannya sepanjang sisa malam itu.’ … Dan mereka (para salaf) gemar mengkhatamkan Al-Qur’an di waktu malam pada shalat dua rakaat setelah Maghrib, dan jika mengkhatamkan di waktu siang, mereka melakukannya pada shalat dua rakaat sebelum Fajar.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhailul Qur’an)

Subhanallah, betapa agung balasan ini! Bukan sekadar lega karena telah menuntaskan bacaan, tetapi ada iring-iringan doa dari makhluk suci yang tak pernah bermaksiat kepada Allah. Mereka memohonkan rahmat dan ampunan untuk kita, hanya karena kita memilih waktu yang tepat untuk sebuah penutupan yang khusyuk.

Menyelami Dua Waktu Mustajab

Dari atsar di atas, kita diajak untuk merenungi dua pilihan waktu utama. Memilih salah satu di antara keduanya bukan sekadar mengikuti kebiasaan, melainkan sebuah upaya untuk meraih keutamaan yang lebih besar. Pemilihan waktu terbaik mengkhatamkan Al-Quran ini sarat akan makna spiritual.

1. Di Awal Siang: Dua Rakaat Sebelum Fajar

Bayangkan heningnya sepertiga malam terakhir, saat dunia masih terlelap. Kita bangkit, berwudhu, lalu menggelar sajadah untuk melaksanakan shalat sunnah qabliyah fajar. Di dalam shalat yang lebih baik dari dunia dan seisinya itulah kita melantunkan ayat-ayat terakhir dari mushaf. Kita menutup perjalanan 30 juz kita tepat saat fajar mulai menyingsing. Inilah awal hari yang paling diberkahi. Mengkhatamkan Al-Quran di waktu ini seolah-olah kita memulai hari dengan cahaya paling terang, dan sebagai ganjarannya, para malaikat mendoakan kita sepanjang hari itu. Aktivitas kita, pekerjaan kita, dan setiap helaan napas kita dinaungi oleh doa mereka.

2. Di Awal Malam: Dua Rakaat Setelah Maghrib

Saat senja meredup dan sang surya kembali ke peraduannya, ada jeda waktu yang penuh ketenangan. Setelah menunaikan shalat Maghrib, kita berdiri lagi untuk shalat sunnah ba’diyah. Di sinilah momen emas kedua itu tiba. Mengakhiri lantunan ayat suci di awal malam adalah cara terindah untuk menutup lelahnya hari. Kita serahkan segala kepenatan dunia dan kita sambut gelapnya malam dengan cahaya Al-Quran. Maka, saat kita terlelap pun, doa para malaikat tak henti-hentinya mengalir untuk kita hingga fajar menjelang. Malam kita menjadi malam yang dijaga dan diberkahi.

Mengapa Ini Begitu Penting?

Kebiasaan para salaf ini bukanlah tanpa alasan. Mereka adalah generasi yang paling memahami bagaimana cara memuliakan Al-Quran. Dengan mengkhatamkan Al-Quran di dalam shalat, mereka menyatukan dua ibadah paling agung: shalat dan tilawah. Dan dengan memilih waktu fajar atau awal malam, mereka meraih keberkahan pergantian waktu yang disaksikan para malaikat.

Ini adalah pelajaran bagi kita, bahwa interaksi dengan Al-Quran bukanlah sekadar rutinitas, melainkan sebuah seni mendekatkan diri kepada Allah. Memperhatikan detail seperti waktu terbaik mengkhatamkan Al-Quran menunjukkan kesungguhan dan cinta kita pada Kalam-Nya. Ini adalah cara kita berkata, “Ya Allah, bahkan untuk mengakhirinya pun, hamba ingin melakukannya dengan cara terindah di waktu terbaik.”

Semoga Allah mampukan kita untuk tidak hanya membaca dan menghafal, tetapi juga merasakan setiap keindahan dan keagungan Al-Quran. Semoga kita bisa meneladani para salaf dalam memuliakan kitab suci ini, meraih doa-doa malaikat di setiap khataman kita. Jika perjalanan Anda terasa berat, atau Anda merindukan bimbingan untuk bisa istiqamah bersama Al-Quran, jangan pernah ragu untuk mencari sahabat seperjuangan. Karena bersama, perjalanan ini akan terasa lebih ringan dan indah.

Daftar Referensi

  • Al-Qasim bin Sallam, Abu ‘Ubaid. Fadhailul Qur’an. (Maktabah Syamilah).

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,