Pendahuluan: Kemuliaan di Balik Ketidakterkenalan
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْبِرَّ بِالْوَالِدَيْنِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
“Segala puji bagi Allah yang menjadikan bakti kepada kedua orang tua sebagai jalan menuju surga. Shalawat serta salam bagi Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.”
Hadirin yang dirahmati Allah, seringkali kita mengejar popularitas di mata manusia. Namun, ada seorang pemuda di zaman Rasulullah yang hidup dalam kefakiran, menderita penyakit kusta, dan tidak dikenal oleh penduduk bumi, namun namanya disebut-sebut oleh penduduk langit. Beliau adalah Uwais al-Qarni. Rahasia kemuliaannya hanya satu: bakti yang luar biasa kepada ibundanya.
Pujian Rasulullah terhadap Uwais
Meskipun Uwais hidup di zaman Nabi, ia tidak pernah bertemu langsung dengan beliau karena harus menjaga ibunya yang tua, buta, dan lumpuh di Yaman. Namun, Rasulullah SAW bersabda kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib bahwa kelak akan datang seorang pria dari Yaman bernama Uwais. Nabi berpesan:
إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِينَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ، وَلَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ
“Sesungguhnya Tabi’in yang terbaik adalah seorang lelaki yang bernama Uwais. Ia memiliki seorang ibu dan ia sangat berbakti kepadanya.” (HR. Muslim)
Hadirin sekalian, Rasulullah bahkan menyarankan Umar—seorang sahabat yang dijamin masuk surga—untuk meminta doa dan istighfar kepada Uwais. Ini membuktikan bahwa birrul walidain mampu mengangkat derajat seseorang melebihi jabatan dan harta.
Kisah Inspiratif: Menggendong Ibu dari Yaman ke Mekkah
Puncak bakti Uwais adalah ketika ibunya ingin menunaikan ibadah haji. Karena miskin dan tidak punya kendaraan, Uwais tidak berputus asa. Beliau melatih fisiknya dengan menggendong anak lembu naik turun bukit setiap hari selama berbulan-bulan. Penduduk Yaman menganggapnya gila, padahal ia sedang bersiap.
Saat musim haji tiba, Uwais menggendong ibunya di atas punggungnya, berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah melintasi padang pasir yang panas membara. Beliau tawaf sambil menggendong ibunya, berdoa hanya untuk ampunan dosa ibunya. Allah SWT pun mengabulkan doanya, menyembuhkan penyakit kustanya, dan menyisakan satu titik putih di telapak tangannya sebagai tanda bagi para sahabat Nabi kelak.
Kesimpulan dan Penutup
Kesimpulannya, kisah Uwais al-Qarni mengajarkan kita bahwa keridhaan Allah sangat dekat dengan keridhaan orang tua kita. Jika kita ingin doa kita mustajab dan urusan kita dimudahkan, muliakanlah ibu kita. Jangan menunggu kaya untuk membahagiakan mereka, karena Uwais membahagiakan ibunya dengan tenaga dan ketulusannya.
Mari kita memohon agar hati kita dipenuhi rasa bakti:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا بَارِّينَ بِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا، أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا
“Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang berbakti kepada ayah dan ibu kami, baik saat mereka masih hidup maupun setelah mereka tiada.”
Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga kita semua dikumpulkan bersama Uwais al-Qarni di surga kelak. Mohon maaf atas segala kekurangan.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

