Kalamullah, Al-Qur’anul Karim, adalah cahaya yang tiada tara, petunjuk agung bagi setiap insan yang merindukan jalan kebenaran. Dalam setiap ayatnya terkandung lautan hikmah, samudera ilmu, serta janji-janji kebaikan dari Allah Yang Maha Mengasihi. Kedekatan kita dengan Al-Qur’an seharusnya menjadi sebuah perjalanan spiritual yang memurnikan jiwa, bukan sekadar sebuah rutinitas tanpa makna. Namun, seringkali dalam perjalanan berinteraksi dengan kitab suci ini, kita dihadapkan pada sebuah refleksi mendalam: bagaimana seharusnya sikap kita terhadap pemberian atau ‘upah’ yang mungkin menyertai aktivitas kita dengan Al-Qur’an? Adakah batasan etika yang perlu kita tegakkan demi menjaga kemuliaan firman-Nya? Renungan ini membawa kita untuk memahami urgensi menghindari mengambil upah dari Al-Qur’an sebagai motivasi utama dalam berinteraksi dengannya.
Kemuliaan Al-Qur’an dan Niat yang Tulus
Al-Qur’an adalah mukjizat yang abadi, anugerah terbesar bagi umat manusia. Ia adalah ruh yang menghidupkan hati, penawar bagi jiwa yang gersang, dan peta jalan menuju kebahagiaan hakiki. Ketika kita membaca, menghafal, atau mengajarkan Al-Qur’an, sejatinya kita sedang berinteraksi langsung dengan firman Allah. Interaksi semulia ini menuntut sebuah fondasi yang kokoh, yaitu niat yang tulus ikhlas, semata-mata mencari ridha Allah. Tanpa keikhlasan, ibadah yang agung ini bisa saja kehilangan esensinya, berubah menjadi sekadar rutinitas tanpa ruh yang mampu mengubah diri dan semesta.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (Q.S. Al-Bayyinah: 5)
Ayat ini menegaskan betapa sentralnya keikhlasan dalam setiap amal perbuatan, apalagi dalam perkara yang berkaitan langsung dengan Kalamullah. Ketika niat kita bersih dari tendensi duniawi, barulah keberkahan sejati dari Al-Qur’an akan meresap dalam diri kita.
Peringatan Tegas Umar bin Khattab tentang Upah Al-Qur’an
Sejarah Islam mencatat sebuah peristiwa penting yang menjadi landasan kuat dalam etika berinteraksi dengan Al-Qur’an. Diriwayatkan dari Amirul Mukminin, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, yang mendengar kabar dari Sa’d. Sa’d berkata, “Barang siapa yang membaca Al-Qur’an, aku akan memberinya bagian (dari perbendaharaan baitul mal).” Mendengar perkataan ini, Umar bin Khattab pun bereaksi dengan sangat keras, beliau bersabda:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنِ الشَّيْبَانِيِّ، عَنْ أُسَيْرِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: بَلَغَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أَنَّ سَعْدًا، قَالَ: ” مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ أَلْحَقْتُهُ فِي الْعَيْنِ فَقَالَ: «أُفًّا أُفًّا، أَيُعْطَى عَلَى كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؟»
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, dari Sufyan, dari Asy-Syaibani, dari Usair bin Amr, ia berkata: Telah sampai kepada Umar bin Khattab bahwa Sa’d berkata: “Barang siapa yang membaca Al-Qur’an, aku akan memberinya bagian (dari harta baitul mal).” Maka Umar berkata: “Uffan, Uffan! Apakah (seseorang) diberi atas Kitab Allah Azza wa Jalla?”
Respons Umar bin Khattab, “Uffan, Uffan!”, menunjukkan penolakan dan ketidaksetujuan yang sangat kuat. Kata ini dalam bahasa Arab mengekspresikan rasa tidak suka atau kejijikan terhadap sesuatu. Beliau mempertanyakan, “Apakah (seseorang) diberi atas Kitab Allah Azza wa Jalla?” Ini adalah sebuah pertanyaan retoris yang mengandung makna penegasan bahwa Al-Qur’an adalah sesuatu yang terlalu mulia untuk dijadikan alat mencari keuntungan duniawi. Ini menegaskan prinsip fundamental untuk menghindari mengambil upah dari Al-Qur’an sebagai tujuan utama.
Memahami Spirit Larangan: Niat di Atas Segala-galanya
Kisah Umar bin Khattab ini bukan berarti kita dilarang secara mutlak menerima rezeki atau tunjangan dari Baitul Mal, atau bahkan dari pihak lain, bagi mereka yang berkhidmat penuh waktu untuk Al-Qur’an, seperti para penghafal, pengajar, dan ulama. Namun, larangan keras ini lebih ditekankan pada *niat* seseorang. Apakah motivasi utama kita berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah untuk mendapatkan imbalan materi? Atau, apakah imbalan itu datang sebagai konsekuensi tak terhindarkan dari dedikasi penuh kita terhadap Al-Qur’an, sementara niat kita tetap murni karena Allah?
Para ulama menjelaskan bahwa perbedaan mendasar terletak pada menjadikan Al-Qur’an sebagai ‘mata pencarian’ yang *ditargetkan* dan *diminta-minta*, versus menerima dukungan untuk memungkinkan seseorang terus berkhidmat pada Al-Qur’an tanpa harus disibukkan urusan dunia. Contohnya, seorang penghafal atau pengajar Al-Qur’an yang mencurahkan seluruh waktunya demi Allah, tentu memerlukan dukungan agar ia bisa terus menjalankan misi suci tersebut. Dukungan ini harus dipandang sebagai anugerah dari Allah melalui perantara manusia, bukan sebagai ‘upah’ yang dituntut dari Al-Qur’an itu sendiri. Oleh karena itu, penting sekali untuk menghindari mengambil upah dari Al-Qur’an dengan niat mencari keuntungan pribadi.
Rezeki Hakiki Bersumber dari Allah, Bukan dari Al-Qur’an
Keyakinan seorang Muslim sejati adalah bahwa rezeki sepenuhnya berada di tangan Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika kita mendedikasikan diri untuk berkhidmat pada Al-Qur’an dengan niat tulus, Allah tidak akan menyia-nyiakan kita. Rezeki akan datang dari arah yang tidak disangka-sangka, dengan cara yang tidak terduga. Ini adalah janji Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ. وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ، جَمَعَ اللهُ لَهُ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.
Artinya: “Barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kemiskinan di depan matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya melainkan apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa menjadikan akhirat sebagai niatnya, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan dalam hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.” (H.R. Ibnu Majah)
Hadits ini adalah pengingat yang powerful. Jika niat kita adalah akhirat, termasuk dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, maka dunia justru akan tunduk dan datang kepada kita. Ini menggarisbawahi mengapa menghindari mengambil upah dari Al-Qur’an sebagai tujuan adalah kunci keberkahan. Kita meyakini bahwa Al-Qur’an adalah jalan menuju pahala abadi, bukan sekadar tangga untuk meraih kenikmatan fana.
Menjaga Kehormatan dan Kemuliaan Kalamullah
Al-Qur’an adalah firman Allah, kalam-Nya yang suci. Segala bentuk perlakuan kita terhadap Al-Qur’an haruslah mencerminkan penghormatan dan pengagungan terhadap-Nya. Ketika seseorang menjadikan Al-Qur’an sebagai sarana untuk mendapatkan imbalan materi, hal itu sedikit banyak dapat mengurangi martabat Al-Qur’an di mata manusia. Masyarakat bisa jadi melihat para pengemban Al-Qur’an sebagai kelompok yang memanfaatkan agama untuk kepentingan pribadi, padahal seharusnya mereka adalah teladan kesederhanaan, keikhlasan, dan kedermawanan.
Menjaga kehormatan Al-Qur’an berarti menempatkannya di posisi tertinggi, jauh di atas segala ambisi duniawi. Kita mengabdikan diri kepada Al-Qur’an bukan karena berharap pujian, jabatan, atau harta, melainkan semata-mata karena cinta kepada Allah dan rasul-Nya, serta demi kebaikan umat. Ini adalah sebuah bentuk jihad spiritual, membersihkan diri dari segala noda keserakahan duniawi, dan sepenuhnya bertawakal kepada Allah dalam urusan rezeki.
Aplikasi Praktis dalam Kehidupan Sehari-hari
Bagaimana kita bisa mengaplikasikan prinsip menghindari mengambil upah dari Al-Qur’an dalam kehidupan kita sehari-hari?
Pertama, bagi para penghafal dan pengajar Al-Qur’an, tanamkan niat yang kokoh bahwa aktivitas ini adalah ibadah murni. Jika ada rezeki yang datang, terimalah sebagai karunia Allah, bukan sebagai ‘harga’ dari hafalan atau pengajaran.
Kedua, bagi para orang tua atau donatur, berikan dukungan kepada para pengemban Al-Qur’an dengan niat bersedekah di jalan Allah, bukan sebagai ‘pembayaran’ atas jasa mereka. Ini akan menjaga kemuliaan pemberi dan penerima.
Ketiga, hindari menjadikan kegiatan membaca atau menghafal Al-Qur’an sebagai perlombaan dengan iming-iming hadiah materi yang berlebihan. Fokuslah pada motivasi spiritual dan pahala di sisi Allah. Tentu saja, hadiah kecil untuk memotivasi anak-anak tetap diperbolehkan, asalkan tidak menggeser niat utama.
Dengan demikian, kita telah berupaya semaksimal mungkin untuk membersihkan interaksi kita dengan Al-Qur’an dari segala bentuk kecenderungan duniawi, menjadikannya murni sebagai jembatan menuju keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala.
Mari kita terus merajut kedekatan dengan Al-Qur’an dengan niat yang tulus dan hati yang bersih. Keberkahan sejati dari Al-Qur’an akan datang kepada mereka yang mengemban risalahnya dengan penuh keikhlasan, menjadikan setiap huruf dan ayat sebagai bekal untuk kehidupan abadi. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang mencintai Al-Qur’an dengan sepenuh hati, tanpa mengharapkan imbalan duniawi, melainkan semata-mata mengharap wajah-Nya.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam. Kitab Fadhailil Qur’an. Bab: Qari’ Yasta’kilu bil Qur’an wa Yarza’u ‘Alaihil Amwal wa Ma Fi Dzalika minal Karahah wat Tasyaddud. Halaman 209.
- Al-Qur’an, Surah Al-Bayyinah, Ayat 5.
- Ibnu Majah. Sunan Ibnu Majah. Kitab Az-Zuhd, Bab: Al-Hammu bil Akhirah. Hadits No. 4105.
