Dalam perjalanan hidup, seringkali kita diuji dengan berbagai capaian, baik itu dalam bentuk ilmu, harta, jabatan, maupun amal ibadah. Ketika kita mencapai sesuatu, sebuah perasaan kagum terhadap diri sendiri bisa muncul. Perasaan ini, jika tidak disikapi dengan bijak, dapat berkembang menjadi apa yang disebut ujub. Ujub adalah perasaan bangga dan kagum terhadap diri sendiri, amal perbuatan, atau prestasi yang kita raih, tanpa menyadari sepenuhnya bahwa semua itu adalah karunia dan anugerah semata dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini adalah ilusi kehebatan pribadi yang sangat halus, seringkali terselubung dalam bentuk rasa puas diri yang berlebihan.

Penting bagi kita untuk memahami bahwa ujub bukanlah sekadar rasa senang atau bersyukur atas nikmat Allah. Rasa senang dan syukur adalah hal yang terpuji. Namun, ujub melampaui batas itu, mengarah pada anggapan bahwa keberhasilan tersebut semata-mata berasal dari usaha dan kecerdasan kita sendiri, seolah kita memiliki kekuatan independen di luar kehendak-Nya. Ujub adalah penyakit hati yang sangat berbahaya, sebab ia secara perlahan mengikis keikhlasan dan merusak amal kebaikan yang telah kita lakukan.

Mengurai Akar Ujub dan Dampaknya

Ujub seringkali bersemi dari kurangnya kesadaran akan hakikat diri kita sebagai hamba yang lemah dan serba membutuhkan. Kita cenderung melupakan bahwa setiap hembusan napas, setiap detak jantung, setiap kemampuan berpikir, berbicara, dan bergerak adalah murni pemberian dari Sang Maha Pencipta. Ketika kita berprestasi, menyelesaikan hafalan Al-Qur’an, mendapatkan pujian atas dakwah, atau mencapai kesuksesan duniawi, ujub membisikkan bahwa itu semua adalah hasil kerja keras dan kecemerlangan kita semata. Kita lupa bahwa tanpa taufik dan hidayah dari Allah, tiada daya dan upaya yang bisa kita wujudkan.

Kesombongan Terselubung yang Merusak

Salah satu dampak paling berbahaya dari ujub adalah ia menjadi pintu gerbang menuju kesombongan. Ujub adalah bentuk kesombongan yang lebih terselubung, tidak terang-terangan seperti takabur. Ia tumbuh di dalam hati, membuai pemiliknya dalam fatamorgana kehebatan. Ketika seseorang sudah terjangkit ujub, ia akan cenderung meremehkan orang lain. Baginya, capaian orang lain terlihat kecil, sementara capaiannya sendiri begitu megah. Ia mungkin akan merasa bahwa orang lain tidak secerdas dirinya, tidak sesaleh dirinya, atau tidak seberhasil dirinya. Perasaan ini, lambat laun, akan memutus tali ukhuwah dan kasih sayang antar sesama Muslim.

Lebih dari itu, ujub juga berpotensi menghapus amal. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga hal yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri.” (HR. Baihaqi). Ini menunjukkan betapa seriusnya penyakit ujub. Amal yang dilakukan dengan ujub bisa jadi tidak diterima di sisi Allah karena hilangnya keikhlasan. Niat yang seharusnya murni karena Allah, tercampuri dengan keinginan untuk membanggakan diri atau mencari pujian. Sebuah amal, betapapun besarnya di mata manusia, jika tidak dilandasi keikhlasan, akan menjadi sia-sia di hadapan Allah.

Menjaga Kemurnian Amal dari Ujub

Lalu, bagaimana kita menjaga diri dari ujub? Solusi Qur’ani menawarkan jalan yang jelas: mengembalikan segala pujian dan nikmat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini adalah inti dari tauhid rububiyah dan uluhiyah. Kita harus senantiasa menyadari bahwa setiap kebaikan, setiap keberhasilan, setiap ilmu, setiap harta, adalah anugerah murni dari-Nya. Tiada sedikit pun dari diri kita yang bisa mengklaim kehebatan tanpa campur tangan-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Q.S. Luqman: 18)

Ayat ini adalah peringatan tegas bagi kita untuk menjauhi sikap angkuh dan membanggakan diri. Sikap memalingkan muka karena sombong dan berjalan dengan angkuh di muka bumi adalah manifestasi lahiriah dari ujub dan kesombongan yang bersemayam di hati. Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri. Ini berarti, orang yang memiliki ujub secara tidak langsung telah menempatkan dirinya di posisi yang tidak disukai oleh Allah.

Selanjutnya, kita harus selalu merasa fakir di hadapan-Nya. Perasaan fakir di sini bukan berarti merasa miskin secara materi, tetapi miskin secara spiritual, yakni merasa tidak memiliki apa-apa tanpa pertolongan Allah. Kita adalah makhluk yang lemah, yang tidak memiliki daya dan kekuatan kecuali dengan izin-Nya. Ketika kita menyadari kefakiran kita, secara otomatis kita akan merendah, menundukkan hati, dan mengembalikan segala pujian hanya kepada-Nya.

Merawat Hati dengan Tawadhu

Salah satu cara efektif untuk memerangi ujub adalah dengan menumbuhkan sifat tawadhu atau rendah hati. Tawadhu adalah lawan dari ujub dan kesombongan. Orang yang tawadhu adalah orang yang menyadari kelemahan dirinya dan mengakui kebesaran Allah. Ia tidak merasa lebih baik dari orang lain, bahkan mungkin merasa dirinya memiliki banyak kekurangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan pentingnya tawadhu:

مَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

Artinya: “Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (H.R. Muslim)

Hadits ini memberikan motivasi besar bagi kita untuk selalu merendahkan diri. Derajat yang diangkat oleh Allah bukanlah sekadar pangkat atau pujian dari manusia, melainkan kemuliaan di sisi-Nya, keberkahan dalam amal, dan ketenangan hati. Ketika kita tawadhu, kita akan lebih mudah menerima nasihat, lebih ikhlas dalam beramal, dan lebih mampu berempati dengan sesama.

Praktik nyata untuk menumbuhkan tawadhu dan menjauhkan diri dari ujub adalah dengan seringnya muhasabah (introspeksi diri). Kita perlu secara rutin merenungkan niat di balik setiap amal yang kita lakukan. Apakah kita melakukannya semata karena Allah, ataukah ada sedikit bisikan ingin dipuji dan dihargai? Membaca Al-Qur’an dan merenungkan maknanya, mengingat kematian, dan mengunjungi makam juga dapat membantu menumbuhkan kesadaran akan kefanaan dunia dan kelemahan diri kita.

Selain itu, senantiasa mengucapkan “Alhamdulillah” dan “Masha Allah” ketika mendapatkan nikmat atau melihat keberhasilan, baik diri sendiri maupun orang lain, adalah bentuk pengakuan bahwa semua itu berasal dari Allah. Mengaitkan setiap kebaikan kepada Allah akan memutuskan akar ujub yang mungkin hendak tumbuh di dalam hati kita. Kita juga perlu menjauhi perdebatan yang hanya bertujuan untuk memamerkan ilmu atau kehebatan diri, serta menghindari lingkungan yang memicu kompetisi tidak sehat dalam urusan duniawi.

Ujub adalah musuh tersembunyi yang bisa merenggut pahala dan merusak keikhlasan kita. Mari kita terus berusaha membersihkan hati dari penyakit ini, dengan senantiasa merasa fakir di hadapan Allah, mengembalikan segala pujian kepada-Nya, dan meneladani sifat tawadhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan begitu, insya Allah, amal-amal kita akan terjaga kemurniannya dan diterima di sisi Allah.

Jika kita merindukan hati yang lebih bersih, jiwa yang tenang, dan keinginan kuat untuk mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, Qur’an Learning Center Yogyakarta siap menjadi teman perjalanan Anda. Mari bergabung dan rasakan pengalaman belajar Al-Qur’an yang mendalam, membimbing hati menuju ketawadhuan dan keikhlasan sejati.

Daftar Referensi

  • Q.S. Luqman: 18
  • H.R. Muslim No. 91 (Kitab Iman, Bab Penjelasan bahwa tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan)

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,