Betapa sering kita merasakan kemudahan menimba ilmu di era digital, namun di saat yang sama, jiwa terasa hampa dari keberkahannya. Informasi melimpah ruah di ujung jari, tetapi cahaya ilmu seakan enggan meresap ke dalam hati. Mungkin, ada sesuatu yang hilang dari adab dan semangat kita, sesuatu yang justru menjadi kunci bagi para ulama terdahulu dalam meraih samudra pengetahuan yang berkah.

Mari kita sejenak merenungi sebuah potret ketulusan yang teramat langka, sebuah cermin bagi para pencari ilmu sejati. Kisah ini datang dari seorang yang nasabnya tersambung mulia kepada Rasulullah ﷺ, beliau adalah Muhammad an-Nafs az-Zakiyyah, cicit dari Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Status sosialnya adalah seorang pangeran, seorang yang terhormat. Namun, kemuliaan nasab tidak membuatnya angkuh, justru mendorongnya pada puncak kerendahan hati dalam belajar.

Potret Totalitas Menuntut Ilmu Muhammad an-Nafs az-Zakiyyah

Dalam kitab Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn, terukir sebuah pengakuan jujur dari lisan beliau yang menggetarkan jiwa. Sebuah pengakuan yang menampar kesombongan kita dalam belajar.

كنت أطلب العلم في دور الأنصار حتى أني لأتوسد عتبة أحدهم فيوقظني الإنسان فيقول: إن سيدك قد خرج إلى الصلاة وما يحسبني إلا عبده.

“Dahulu aku berkeliling menuntut ilmu di rumah-rumah kaum Anshar. Sampai-sampai aku tidur berbantalkan ambang pintu rumah salah seorang dari mereka. Lalu ada orang yang membangunkanku seraya berkata: ‘Tuanmu sudah keluar untuk shalat.’ Orang itu tidak mengira aku ini selain seorang budak (milik guruku).”

Subhanallah. Coba kita resapi dalam-dalam. Seorang keturunan Nabi, seorang yang darah kemuliaan mengalir dalam dirinya, rela menjadikan ambang pintu rumah gurunya sebagai bantal. Ia menanti di sana dalam lelapnya, bukan untuk meminta pelayanan, melainkan agar tidak ketinggalan satu momen pun saat sang guru keluar dari rumahnya. Puncaknya, ia disangka seorang budak. Inilah manifestasi sejati dari totalitas menuntut ilmu Muhammad an-Nafs az-Zakiyyah, sebuah dedikasi yang melampaui batas-batas citra diri dan status sosial.

Meruntuhkan Ego Demi Keberkahan Ilmu

Kisah ini bukan sekadar cerita tentang perjuangan fisik, melainkan pelajaran agung tentang bagaimana meruntuhkan benteng ego demi meraih keberkahan. Ego adalah hijab terbesar antara seorang murid dengan ilmu. Ia berbisik, “Kamu lebih hebat,” “Mengapa harus serendah ini?” atau “Cari saja guru lain yang lebih menghargaimu.” Muhammad an-Nafs az-Zakiyyah telah menghancurkan semua bisikan itu.

Beliau mengajarkan kita bahwa ilmu adalah cahaya suci dari Allah. Ia tidak akan sudi bersemayam dalam wadah hati yang kotor oleh kesombongan. Dengan menjadikan dirinya ‘laksana budak’ di hadapan gurunya, beliau justru sedang memuliakan ilmu itu sendiri. Sikap inilah yang membuka pintu-pintu futuh (pemahaman) dari langit. Rasulullah ﷺ bersabda:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya: “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (H.R. Muslim)

Jalan yang dimaksud bukanlah sekadar jalan fisik, melainkan juga jalan spiritual yang ditempuh dengan merendahkan hati, mengorbankan kenyamanan, dan memurnikan niat semata-mata karena Allah.

Mengapa Totalitas Menuntut Ilmu Muhammad an-Nafs az-Zakiyyah Wajib Ditiru?

Zaman boleh berganti, namun prinsip meraih ilmu berkah tak akan pernah lekang. Kita mungkin tidak perlu lagi tidur di depan pintu rumah guru kita. Namun, spirit dan esensi dari kisah ini harus kita hidupkan dalam konteks kekinian. Bagaimana caranya? Dengan mematikan notifikasi gawai saat belajar Al-Qur’an, dengan datang lebih awal dari jadwal yang ditentukan, dengan tidak banyak mengeluh atas padatnya waktu, dan dengan menjaga adab tertinggi kepada para pengajar Al-Qur’an. Inilah bentuk perjuangan kita hari ini. Inilah cerminan dari semangat totalitas menuntut ilmu Muhammad an-Nafs az-Zakiyyah dalam kehidupan modern.

Ilmu Tidak Datang di Atas Piring Perak

Satu lagi pelajaran berharga adalah bahwa ilmu sejati—terutama ilmu Al-Qur’an—membutuhkan mujahadah, sebuah perjuangan dan pengorbanan. Ia tidak akan datang dengan sendirinya di atas piring perak kemewahan atau dalam bungkus kenyamanan semata. Ia harus dijemput, diperjuangkan, dan terkadang dibayar dengan tetesan keringat dan rasa lelah yang tulus.

Allah Ta’ala sendiri menegaskan bahwa ada tingkatan derajat bagi mereka yang berjuang dengan ilmunya.

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya: “…niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (Q.S. Al-Mujadilah: 11)

Kata “derajat” menunjukkan adanya sebuah proses, sebuah tangga yang harus dinaiki, bukan lift instan yang membawa kita ke puncak. Setiap anak tangga itu bernama pengorbanan, kesabaran, dan kerendahan hati. Apa yang dicontohkan melalui totalitas menuntut ilmu Muhammad an-Nafs az-Zakiyyah adalah pendakian spiritual tertinggi seorang penuntut ilmu.

Maka, mari kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita menempatkan ilmu, khususnya Al-Qur’an, sebagai prioritas yang layak diperjuangkan? Atau kita masih menganggapnya sebagai pengisi waktu luang yang bisa dikesampingkan kapan saja? Kisah agung dari cicit Rasulullah ﷺ ini adalah pengingat abadi bahwa kemuliaan sejati diraih bukan dengan nasab, melainkan dengan adab dan totalitas dalam menggapai ridha Allah melalui jalan ilmu.

Semoga kita diberikan kekuatan untuk meneladani secuil saja dari semangat beliau, agar Al-Qur’an yang kita pelajari dan hafalkan bukan sekadar menjadi rangkaian huruf di lisan, melainkan cahaya yang menerangi seluruh sendi kehidupan kita. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami mengajak Anda untuk menemukan kembali semangat dan adab menuntut ilmu yang hilang itu. Mari bersama-sama menapaki jalan kemuliaan Al-Qur’an dengan bimbingan yang tulus dan metode yang teruji, dalam sebuah lingkungan yang mendukung lahirnya para pencinta Al-Qur’an sejati.

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an, Surah Al-Mujadilah: 11.
  • Hadits Riwayat Muslim No. 2699.
  • Al-Yusufi, Husain bin Mansur. Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Masukkan di AIOSEO: FAQ_SCHEMA (JSON-LD):

“`json
{
“@context”: “https://schema.org”,
“@type”: “FAQPage”,
“mainEntity”: [
{
“@type”: “Question”,
“name”: “Siapakah Muhammad an-Nafs az-Zakiyyah?”,
“acceptedAnswer”: {
“@type”: “Answer”,
“text”: “Muhammad an-Nafs az-Zakiyyah adalah seorang ulama dan keturunan Nabi Muhammad ﷺ dari jalur cucunya, Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Beliau dikenal karena kesalehan, ilmu, dan kerendahan hatinya yang luar biasa dalam menuntut ilmu.”
}
},
{
“@type”: “Question”,
“name”: “Apa pelajaran utama dari kisah beliau yang tidur di depan pintu gurunya?”,
“acceptedAnswer”: {
“@type”: “Answer”,
“text”: “Pelajaran utamanya adalah tentang pentingnya totalitas, pengorbanan, dan kerendahan hati (tawadhu’) dalam menuntut ilmu. Kisah ini menunjukkan bahwa untuk meraih ilmu yang berkah, seorang murid harus meruntuhkan ego dan status sosialnya di hadapan guru dan ilmu itu sendiri.”
}
},
{
“@type”: “Question”,
“name”: “Bagaimana cara meneladani semangat Muhammad an-Nafs az-Zakiyyah di zaman sekarang?”,
“acceptedAnswer”: {
“@type”: “Answer”,
“text”: “Kita dapat meneladaninya dengan memprioritaskan waktu belajar, mematikan gangguan seperti gawai saat mengaji, menghormati guru dengan adab tertinggi, tidak mudah mengeluh, serta bersabar dalam proses belajar Al-Qur’an, karena ilmu sejati membutuhkan perjuangan (mujahadah).”
}
}
]
}
“`

author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri