Setiap lembar mushaf yang kita buka adalah sebuah permulaan dialog. Bukan dialog biasa, melainkan percakapan jiwa dengan Sang Pencipta. Namun, seberapa sering kita merenungi esensi dari interaksi ini? Kelak di hari Kiamat, Al-Qur’an akan datang dalam wujud yang tak terduga sebagai saksi atas dialog tersebut. Ia akan menjelma menjadi sosok yang membela atau justru menuntut.
Sebuah riwayat indah melukiskan bagaimana Al-Qur’an menjadi pembela sejati bagi sahabatnya. Ia datang dalam rupa seseorang yang pucat, sebagai manifestasi dari pengorbanan yang telah dilakukan.
يَجِيءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الرَّجُلِ كَالرَّجُلِ الشَّاحِبِ، فَيَقُولُ لَهُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَيَقُولُ: أَنَا الَّذِي أَظْمَأْتُ نَهَارَكَ، وَأَسْهَرْتُ لَيْلَكَ
Artinya: “Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat kepada seseorang laksana orang yang pucat pasi, lalu ia bertanya, ‘Siapakah engkau?’ Ia menjawab, ‘Akulah (Al-Qur’an) yang telah membuatmu kehausan di siang hari dan membuatmu terjaga di malam hari’.” (Diriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah)
Hadits ini adalah gambaran ideal, sebuah puncak kerinduan bagi setiap pembaca Al-Qur’an. Namun, sebuah realitas yang tak bisa kita pungkiri, tidak semua interaksi dengan Al-Qur’an berlabuh pada niat yang sama. Sayyidina Ali bin Abi Thalib, dengan kearifan dan pandangannya yang tajam, telah memberikan sebuah pemetaan penting. Peringatan beliau menjadi sebuah cermin besar bagi kita untuk mengenali di mana posisi hati kita saat berinteraksi dengan Kalamullah. Inilah yang dikenal sebagai tiga golongan pembaca Al-Qur’an menurut Ali bin Abi Thalib.
Membedah Tiga Golongan Pembaca Al-Qur’an Menurut Ali bin Abi Thalib
Dalam sebuah nasihatnya kepada Iyas bin Amir, Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu mengklasifikasikan para pembaca Al-Qur’an ke dalam tiga kategori niat yang fundamental. Imam Muhammad bin Al-Husayn Al-Ajurri dalam kitabnya *Mukhtasar Akhlaq Hamalat al-Qur’an* mengutip perkataan ini sebagai panduan agar kita dapat waspada dan senantiasa meluruskan niat.
إِنَّكَ إِنْ بَقِيتَ، فَسَيُقْرَأُ الْقُرْآنُ عَلَى ثَلاثَةِ أَصْنَافٍ: صِنْفٌ للهِ تَعَالَى، وَصِنْفٌ لِلدُّنْيَا، وَصِنْفٌ لِلْجَدَلِ، فَمَنْ طَلَبَ بِهِ أَدْرَك
Artinya: “Sesungguhnya jika engkau masih hidup, Al-Qur’an akan dibaca oleh tiga golongan: golongan (yang membaca) karena Allah Ta’ala, golongan untuk dunia, dan golongan untuk berdebat. Siapa yang mencari (sesuatu) dengannya, ia akan mendapatkannya.”
Mari kita selami lebih dalam setiap golongan ini sebagai sarana untuk introspeksi diri.
Golongan Pertama: Mengharap Ridha Allah Semata
Inilah golongan terbaik, para pewaris sejati dari kemuliaan Al-Qur’an. Mereka adalah orang-orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai tujuan, bukan alat. Setiap huruf yang mereka baca, setiap ayat yang mereka hafal, dan setiap hukum yang mereka pelajari, semuanya bermuara pada satu titik: mencari wajah Allah. Mereka tidak silau dengan pujian manusia, tidak mengharapkan imbalan materi, dan tidak haus akan pengakuan.
Bagi mereka, kelezatan tertinggi adalah saat bisa berdua dengan Al-Qur’an di keheningan malam, merasakan setiap teguran dan belaian-Nya. Mereka adalah orang-orang yang haus di siang hari karena berpuasa dan terjaga di malam hari untuk bermunajat dengan ayat-ayat-Nya. Niat yang lurus inilah fondasi dari segala keberkahan, sebagaimana firman Allah SWT:
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُdا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (Q.S. Al-Bayyinah: 5)
Golongan Kedua: Menjadikan Al-Qur’an Tangga Duniawi
Golongan kedua ini membaca Al-Qur’an, bahkan mungkin dengan suara yang sangat merdu dan hafalan yang kuat, tetapi niatnya telah berbelok. Al-Qur’an yang seharusnya menjadi cahaya ruhani, mereka jadikan sebagai instrumen untuk meraih keuntungan duniawi. Popularitas, status sosial sebagai ‘qari’ atau ‘hafizh’, undangan untuk mengisi acara, hingga keuntungan finansial menjadi tujuan utama mereka.
Hati mereka tidak merasakan getaran saat membaca ayat tentang akhirat, karena fokus mereka adalah “apa yang bisa saya dapatkan di dunia ini” dari bacaan saya. Ini adalah sebuah kerugian yang teramat besar. Mereka menukar kemuliaan abadi dengan kesenangan fana. Perkataan Ali bin Abi Thalib, “siapa yang mencari (sesuatu) dengannya, ia akan mendapatkannya,” menjadi pengingat pedih. Mereka mungkin mendapatkan dunia yang mereka kejar, tetapi kehilangan esensi Al-Qur’an itu sendiri.
Golongan Ketiga: Mencari Pembenaran untuk Berdebat
Di ujung lain spektrum, ada golongan yang menjadikan Al-Qur’an sebagai senjata untuk berdebat. Mereka mempelajari ayat-ayat bukan untuk mendapatkan hidayah, melainkan untuk mencari dalil demi mengalahkan lawan bicara. Mereka pandai memotong ayat, menafsirkannya sesuai hawa nafsu, dan menggunakannya untuk membenarkan pendapat kelompoknya atau menyalahkan orang lain.
Fokus mereka adalah kemenangan dalam perdebatan (jadal), bukan kebenaran (haq). Al-Qur’an yang diturunkan sebagai rahmat dan petunjuk, di tangan mereka menjadi alat pemecah belah dan sumber kesombongan intelektual. Mereka merasa lebih unggul karena merasa “menguasai” dalil, padahal sejatinya mereka telah jauh dari ruh Al-Qur’an. Ini adalah salah satu dari dua golongan yang secara khusus diperingatkan oleh Imam Al-Ajurri agar kita waspada terhadap akhlak mereka.
Refleksi Niat: Di Manakah Posisi Kita?
Klasifikasi tiga golongan pembaca Al-Qur’an menurut Ali bin Abi Thalib ini bukanlah untuk kita gunakan melabeli orang lain. Sebaliknya, ini adalah cermin tajam untuk kita berkaca dan melakukan muhasabah (introspeksi) secara jujur. Saat kita membuka mushaf, mari bertanya pada diri sendiri: “Untuk siapa aku membaca ini?”
Apakah untuk merasakan ketenangan dan kedekatan dengan Allah? Ataukah ada bisikan halus di dalam hati yang mengharapkan pujian, validasi, atau keuntungan lain? Apakah kita membaca untuk mencari petunjuk, atau untuk mengumpulkan amunisi debat? Kejujuran dalam menjawab pertanyaan ini adalah langkah pertama menuju perbaikan. Karena niat adalah ruh dari setiap amal, dan hanya niat yang tulus karena Allah yang akan membuat Al-Qur’an menjadi sahabat setia kita hingga yaumul qiyamah.
Memurnikan niat adalah perjuangan seumur hidup. Ia membutuhkan lingkungan yang mendukung, guru yang membimbing, dan komitmen yang kuat untuk senantiasa kembali ke jalur yang lurus. Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak yang kita baca atau hafal yang menjadi ukuran, melainkan untuk siapa semua itu kita persembahkan.
Semoga Allah membimbing kita untuk termasuk dalam golongan pertama, yang membaca, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an murni untuk mengharap ridha-Nya. Semoga setiap lelah dan kantuk kita dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an menjadi saksi yang meringankan di hari perhitungan kelak. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami berkomitmen untuk membangun fondasi interaksi dengan Al-Qur’an yang berlandaskan niat yang lurus dan metode yang teruji, menemani setiap langkah Anda menuju kedekatan otentik dengan Kalamullah.
Daftar Referensi
- Al-Ajurri, Muhammad bin al-Husayn. Mukhtasar Akhlaq Hamalat al-Qur’an. Disajikan oleh Dr. Khalid bin ‘Utsman as-Sabt. Dar Ibn al-Jawzi.
- Al-Qur’an, Surah Al-Bayyinah: 5.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

