Kalamullah, Al-Qur’an al-Karim, adalah mukjizat abadi yang diturunkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia adalah pelita di tengah kegelapan, penawar bagi hati yang gersang, dan peta jalan menuju kebahagiaan hakiki. Namun, di antara mereka yang berinteraksi dengannya, terdapat ragam niat dan kedalaman pemahaman. Interaksi kita dengan Al-Qur’an, pada dasarnya, mencerminkan kualitas spiritual kita. Artikel ini akan mengajak kita bersama untuk
Menggali Tiga Golongan Pembaca Al-Qur’an: Jalan Menuju Keberkahan Sejati
, agar kita dapat menimbang diri, di manakah posisi kita berada.
Hasan Al-Bashri, seorang tabi’in agung, pernah mengklasifikasikan para pembaca Al-Qur’an menjadi tiga kelompok. Sebuah klasifikasi yang begitu relevan hingga hari ini, menyoroti esensi hubungan seorang hamba dengan Kitabullah. Marilah kita renungkan sabda beliau yang diriwayatkan oleh Abu Ubaid dalam Kitab Fadhailil Qur’an:
حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدٍ قَالَ وَحَدَّثَنَا حَجَّاجٌ، عَنِ الْمُبَارَكِ بْنِ سَعِيدٍ، عَنِ رَجُلٍ، قَدْ سَمَّاهُ أُرَاهُ عَمَّارَ بْنَ سَيْفٍ، عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: ” قُرَّاءُ الْقُرْآنِ ثَلَاثَةُ أَصْنَافٍ: فَصِنْفٌ اتَّخَذُوهُ بِضَاعَةً يَأْكُلُونَ بِهِ، وَصِنْفٌ أَقَامُوا حُرُوفَهُ وَضَيَّعُوا حُدُودَهُ، وَاسْتَطَالُوا بِهِ عَلَى أَهْلِ بِلَادِهِمْ، وَاسْتَدَرُّوا بِهِ الْوُلَاةَ كَثُرَ هَذَا الضَّرْبُ مِنْ حَمَلَةِ الْقُرْآنِ، لَا كَثَّرَهُمُ اللَّهُ، وَصِنْفٌ عَمَدُوا إِلَى دَوَاءِ الْقُرْآنِ فَوَضَعُوهُ عَلَى دَاءِ قُلُوبِهِمْ فَوَكَدُوا بِهِ فِي مَحَارِيبِهِمْ وَحَنُوا بِهِ فِي بَرَانِسِهِمْ، وَاسْتَشْعَرُوا الْخَوْفَ، وَارْتَدُوا الْحُزْنَ، فَأُولَئِكَ الَّذِينَ يَسْقِي اللَّهُ بِهِمُ الْغَيْثَ، وَيَنْصُرُ بِهِمْ عَلَى الْأَعْدَاءِ، وَاللَّهِ لَهَذَا الضَّرْبُ فِي حَمَلَةِ الْقُرْآنِ أَعَزُّ مِنَ الْكَبْرِيتِ الْأَحْمَرِ ”
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Abu Ubaid, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj, dari Al-Mubarak bin Said, dari seorang laki-laki yang dia namakan – aku kira dia adalah Ammar bin Saif – dari Al-Hasan (Al-Bashri), dia berkata: ‘Para pembaca Al-Qur’an itu ada tiga golongan: Golongan pertama, mereka menjadikannya sebagai barang dagangan untuk mencari makan. Golongan kedua, mereka menegakkan huruf-hurufnya (membaca dengan tartil) namun melalaikan batas-batasnya (hukum-hukumnya), dan dengan Al-Qur’an mereka merasa lebih tinggi (sombong) di hadapan penduduk negeri mereka, serta meraih simpati para penguasa. Golongan pembawa Al-Qur’an seperti ini sangat banyak, semoga Allah tidak memperbanyak mereka. Golongan ketiga, mereka menuju kepada obat Al-Qur’an, lalu meletakkannya pada penyakit hati mereka, mereka menguatkannya di mihrab-mihrab mereka, dan menunduk dengannya di dalam pakaian mereka (saat shalat), mereka merasakan takut, dan mengenakan pakaian kesedihan. Merekalah orang-orang yang dengannya Allah menurunkan hujan dan menolong (kaum muslimin) atas musuh-musuh. Demi Allah, golongan pembawa Al-Qur’an seperti ini lebih mulia daripada belerang merah (sesuatu yang sangat langka dan berharga).'”
Golongan Pertama: Al-Qur’an Sebagai Komoditas Duniawi
Kita tentu sering menjumpai, bahkan mungkin tanpa sadar, bahwa Al-Qur’an kadang kala diperlakukan layaknya komoditas. Ada sebagian dari kita yang menjadikan tilawah, pengajaran, atau bahkan hafalan Al-Qur’an sebagai jembatan untuk meraih keuntungan dunia semata. Ini bukan berarti menafikan rezeki yang halal dari ilmu yang bermanfaat, namun lebih kepada niat yang terpatri di hati. Ketika motivasi utama adalah pujian, materi, atau popularitas, maka kemuliaan Al-Qur’an itu sendiri bisa tergerus.
Niat yang lurus adalah fondasi utama dalam setiap ibadah. Jika Al-Qur’an hanya menjadi alat untuk mengisi perut, tanpa adanya upaya meresapi maknanya dan mengamalkan tuntunannya, maka ia akan kehilangan cahayanya. Hati pun tak akan tersentuh hidayah, karena mata hati sibuk menghitung untung-rugi dunia. Ini adalah peringatan bagi kita semua agar senantiasa meluruskan niat saat berinteraksi dengan firman Allah.
Golongan Kedua: Menjaga Huruf, Melalaikan Batas
Golongan kedua ini mungkin terlihat lebih baik secara lahiriah. Mereka adalah para qari yang mahir melafalkan setiap huruf Al-Qur’an dengan tajwid yang sempurna, suara yang merdu, dan tartil yang memukau. Namun, sayangnya, keindahan lisan itu tidak diiringi dengan keindahan akhlak dan kepatuhan terhadap hukum-hukum Allah. Mereka melalaikan “hududahu” – batas-batas atau rambu-rambu syariat yang terkandung di dalamnya.
Fenomena ini seringkali muncul dalam bentuk kesombongan. Dengan kemahiran Al-Qur’an yang dimiliki, mereka merasa lebih mulia dan berhak meremehkan orang lain. Bahkan, tak jarang Al-Qur’an dijadikan “alat” untuk mendekati kekuasaan atau mencari simpati para pemimpin, demi ambisi pribadi. Hasan Al-Bashri dengan tegas menyatakan, “Semoga Allah tidak memperbanyak golongan seperti ini.” Ini adalah tamparan keras bagi kita untuk tidak hanya terpaku pada aspek formalitas Al-Qur’an, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai luhurnya. Ingatlah firman Allah:
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Artinya: “Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Q.S. Luqman: 18)
Menggali Tiga Golongan Pembaca Al-Qur’an: Jalan Menuju Keberkahan Sejati melalui Hati
Inilah golongan yang paling mulia, paling dicintai Allah, dan paling langka. Mereka adalah para pembaca Al-Qur’an yang benar-benar menjadikan Kitabullah sebagai “dawa’ul qulub” – obat bagi segala penyakit hati. Mereka mendekati Al-Qur’an dengan kerendahan hati, meletakkan setiap ayatnya sebagai penawar untuk iri, dengki, sombong, dan penyakit batin lainnya.
Ketika malam tiba, di keheningan mihrab, mereka menguatkan diri dengan Al-Qur’an. Setiap huruf yang dibaca, setiap makna yang direnungkan, menancap kuat dalam jiwa. Mereka menunduk dalam shalat, meresapi setiap firman seolah-olah Al-Qur’an berbicara langsung kepada mereka. Rasa takut kepada Allah (khauf) menjadi pakaian batin mereka, dan kesedihan (huzn) atas dosa-dosa menjadi teman dalam munajat.
Inilah hamba-hamba Allah yang tulus, yang hidupnya sepenuhnya diabdikan pada Al-Qur’an, bukan hanya di bibir, tetapi meresap hingga ke sanubari. Mereka adalah orang-orang yang digambarkan Hasan Al-Bashri sebagai pihak yang dengan perantaraan mereka Allah menurunkan hujan dan memberikan kemenangan atas musuh-musuh. Keberadaan mereka sangat langka, lebih langka dari “belerang merah” – sebuah ungkapan yang menunjukkan betapa berharganya mereka di sisi Allah.
Mari kita renungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Q.S. Al-Isra: 82)
Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an memang adalah penyembuh. Namun, penyembuh ini hanya bekerja bagi mereka yang beriman dan mau mengaplikasikannya pada “penyakit hati” mereka, sebagaimana yang dilakukan oleh golongan ketiga.
Refleksi Diri: Menjadi Bagian dari Golongan Mulia
Setelah
Menggali Tiga Golongan Pembaca Al-Qur’an: Jalan Menuju Keberkahan Sejati
ini, pertanyaan besar yang harus kita jawab adalah, di golongan manakah kita menempatkan diri? Apakah kita hanya mengejar kemanfaatan duniawi, atau hanya fokus pada keindahan lahiriah tanpa menjiwai isinya? Atau, apakah kita sungguh-sungguh berjuang menjadi golongan yang ketiga, yang menjadikan Al-Qur’an sebagai obat dan cahaya bagi hati?
Perjalanan menjadi seorang hamba yang dekat dengan Al-Qur’an memang membutuhkan kesungguhan. Ia bukan hanya tentang berapa banyak ayat yang kita hafal, atau seberapa merdu lantunan kita, melainkan tentang seberapa dalam Al-Qur’an mengubah diri kita menjadi pribadi yang lebih bertakwa, lebih tawadhu, dan lebih mencintai Allah serta sesama.
Mari kita memohon kepada Allah agar senantiasa membimbing kita untuk memahami, merenungi, dan mengamalkan setiap firman-Nya dengan niat yang ikhlas dan hati yang bersih. Semoga kita termasuk golongan yang menjadikan Al-Qur’an sebagai penawar hati, penunjuk jalan, dan sumber kekuatan sejati.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Kitab Fadhailil Qur’an Abu Ubaid, Bab Ma Yu’maru Bihi Hamilul Qur’ani Min Tilawatihi Bil Qira’ati Wal Qiyami Bihi Fis Shalati, halaman 127.
- Q.S. Luqman: 18
- Q.S. Al-Isra: 82
