Ada decak kagum yang begitu tulus dari seorang perempuan di masa Nabi Isa ‘alaihis salam. Melihat sosok sang Nabi yang mulia, terucaplah dari lisannya sanjungan yang membuncah. Pujian itu ia alamatkan bukan hanya kepada sang Nabi, tetapi juga kepada rahim yang telah mengandungnya. Namun, jawaban Nabi Isa justru membawa kita pada perenungan yang jauh lebih dalam tentang sumber kemuliaan sejati. Inilah pelajaran tentang kebahagiaan hakiki pembaca Al-Quran yang melampaui segala pujian duniawi.

Kisah menakjubkan ini terabadikan dalam sebuah riwayat yang berharga, sebagaimana dicatat oleh Abu ‘Ubayd al-Qasim bin Sallam dalam kitabnya yang monumental, Fadha’il al-Qur’an.

مَرَّتِ امْرَأَةٌ عَلَى عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ عليه السلام، فَقَالَتْ: طُوبَى لِحِجْرٍ حَمَلَكَ، وَلِثَدْيَيْنِ رَضَعْتَ مِنْهُمَا فَقَالَ عِيسَى: «طُوبَى لِمَنْ قَرَأَ كِتَابَ اللَّهِ ثُمَّ اتَّبَعَ مَا فِيهِ»

Seorang wanita melewati Isa bin Maryam ‘alaihis salam, lalu ia berkata: “Sungguh beruntung rahim yang telah mengandungmu dan payudara yang telah menyusuimu.” Maka Isa menjawab: “Sungguh beruntung (Thuba) orang yang membaca Kitabullah (Al-Qur’an) kemudian mengikuti apa yang ada di dalamnya.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubayd dalam Fadha’il al-Qur’an)

Jawaban yang Mengubah Perspektif

Pujian perempuan itu adalah fitrah. Siapa yang tak akan memuliakan Ibunda Maryam, wanita suci yang rahimnya dipilih Allah untuk mengandung seorang Nabi Ulul Azmi? Namun, Nabi Isa ‘alaihis salam tidak membiarkan pujian itu berhenti pada kemuliaan nasab atau hubungan biologis semata. Beliau dengan lembut meluruskannya, mengangkat derajat kemuliaan ke tingkat yang lebih tinggi dan abadi.

Beliau seakan-akan berkata, “Kemuliaan hakiki bukanlah karena rahim yang mengandung seorang nabi, melainkan karena hati yang mengandung Kalam Ilahi.” Jawaban ini adalah sebuah fondasi: keistimewaan sejati tidak terletak pada hubungan darah dengan orang saleh, tetapi pada hubungan batin dengan petunjuk Allah SWT.

Makna Thuba: Kebahagiaan Hakiki Pembaca Al-Quran

Kata “Thuba” (طُوبَى) yang diucapkan Nabi Isa bukanlah sekadar kata “beruntung” biasa. Para ulama menafsirkannya sebagai kebaikan yang agung, kebahagiaan yang paripurna, atau bahkan nama sebuah pohon di surga yang menaungi para penghuninya. Ini adalah janji tentang sebuah ganjaran yang tak terhingga nilainya. Dan untuk siapa janji itu diberikan?

Nabi Isa mengarahkannya kepada dua golongan amalan yang tak terpisahkan: membaca Kitabullah dan mengikutinya. Di sinilah letak kebahagiaan hakiki pembaca Al-Quran, sebuah kebahagiaan yang tidak goyah oleh ujian dunia dan tidak lekang oleh waktu.

Bukan Sekadar Membaca, Namun Mengikuti

Mari kita renungkan dua syarat yang disebutkan oleh Nabi Isa:

  1. Membaca Kitabullah (قَرَأَ كِتَابَ اللَّهِ): Ini adalah langkah pertama, gerbang pembuka segala kebaikan. Membaca Al-Qur’an adalah menyambungkan lisan dan hati kita dengan firman-Nya. Setiap hurufnya adalah cahaya, setiap tilawahnya adalah penenang jiwa. Tanpa membacanya, bagaimana mungkin kita bisa mengetahui isinya?
  2. Mengikuti Apa yang Ada di Dalamnya (اتَّبَعَ مَا فِيهِ): Inilah puncaknya. Setelah membaca dan memahami, pilar kemuliaan selanjutnya adalah *ittiba’*, yaitu mengikuti, mengamalkan, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Banyak yang mampu membaca, namun hanya jiwa-jiwa pilihan yang dimudahkan untuk tunduk dan patuh pada setiap perintah dan larangan di dalamnya.

Kombinasi antara membaca dan mengikuti inilah yang melahirkan kemuliaan sejati. Seseorang yang lisannya basah oleh tilawah dan langkah kakinya diatur oleh petunjuk wahyu, dialah yang berhak atas Thuba. Dia mungkin bukan keturunan nabi, bukan pula berasal dari keluarga terpandang, tetapi di sisi Allah, dialah pemilik kemuliaan yang sesungguhnya. Inilah bukti bahwa kebahagiaan hakiki pembaca Al-Quran adalah anugerah yang terbuka bagi siapa saja.

Meraih Kemuliaan Abadi Kita

Kisah ini adalah cermin bagi kita semua. Betapa sering kita mengagumi nasab, kekayaan, atau jabatan seseorang, lalu lupa bahwa ada sumber kemuliaan yang jauh lebih tinggi dan bisa diraih oleh siapa pun: Al-Qur’an.

Jalan menuju kebahagiaan hakiki pembaca Al-Quran memang membutuhkan kesungguhan. Ia menuntut kita untuk meluangkan waktu, mengorbankan tenaga, dan membersihkan hati agar siap menerima cahaya-Nya. Namun, janji Thuba—kebahagiaan paripurna di dunia dan akhirat—adalah hadiah yang terlalu indah untuk dilewatkan.

Maka, mari kita mulai perjalanan mulia ini. Bukan hanya sebagai pembaca, tetapi sebagai hamba yang berusaha sekuat tenaga untuk mengikuti setiap petunjuk di dalamnya. Semoga Allah SWT menganugerahkan kita kemuliaan itu, kemuliaan yang ditegaskan oleh lisan suci Nabi Isa ‘alaihis salam.

Daftar Referensi

  • Abu ‘Ubayd al-Qasim bin Sallam. Fadha’il al-Qur’an. Tahqiq: Marwan al-‘Athiyah, dkk. Beirut: Dar Ibn Katsir.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,