Hati manusia adalah wadah yang penuh misteri, menyimpan segudang rasa dan respons terhadap setiap sentuhan kebenaran. Salah satu sentuhan paling mendalam adalah ketika untaian ayat-ayat suci Al-Qur’an menyapa jiwa. Tidak jarang, respons itu termanifestasi dalam butiran air mata yang mengalir. Fenomena ini, yang sering kita jumpai, terutama saat berjumpa dengan ayat-ayat sajdah, bukan sekadar respons emosional biasa. Ada sebuah kedalaman spiritual di baliknya, sebuah pesan yang merangkum esensi penghambaan. Kita akan menyelami lebih jauh tentang makna tangisan saat membaca Al-Qur’an setelah sajdah tilawah, sebuah refleksi yang mengajak kita menelisik kembali kualitas interaksi kita dengan Kalamullah.

Pernahkah terbesit dalam benak kita, setelah menunaikan sujud tilawah, pertanyaan seperti yang dilontarkan oleh seorang tabi’in mulia? Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Abi Laila, ketika membaca Surah Maryam dan mencapai ayat sajdah ke-58:

حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدٍ قَالَ وَحَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُجَالِدٍ، عَنْ هِلَالٍ الْوَزَّانِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، أَنَّهُ قَرَأَ سُورَةَ مَرْيَمَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى السَّجْدَةِ {خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيَّا} [مريم: ٥٨] فَسَجَدَ بِهَا، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ قَالَ: «هَذِهِ السَّجْدَةُ قَدْ سَجَدْنَاهَا فَأَيْنَ الْبُكَاءُ؟»

Artinya: “Abu Ubaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Isma’il bin Mujalid menceritakan kepada kami, dari Hilal Al-Wazzan, dari Abdurrahman bin Abi Laila, bahwa ia membaca Surah Maryam hingga sampai pada ayat sajdah {kharrū sujjadan wa bukīyā} [Maryam: 58]. Ia lalu bersujud karenanya. Ketika mengangkat kepalanya, ia berkata: ‘Sujud ini telah kita lakukan, lalu di mana tangisannya?'”

Kisah ini, yang terekam dalam kitab Fadhail Al-Qur’an karya Abu Ubaid, secara gamblang menggambarkan bahwa sujud tilawah tidaklah cukup hanya dengan menundukkan fisik. Ada dimensi ruhaniah yang lebih dalam, yaitu hadirnya keharuan dan tangisan. Pertanyaan Abdurrahman bin Abi Laila, “lalu di mana tangisannya?”, bukanlah sekadar retorika. Ia adalah sebuah teguran halus, pengingat akan puncak penghayatan yang seharusnya menyertai setiap sujud, terutama ketika berinteraksi dengan firman ilahi.

Menyelami Kedalaman Hati dalam Sajdah Tilawah

Sujud tilawah, secara harfiah adalah sujud karena bacaan. Ia adalah bentuk ketaatan dan pengagungan kita terhadap kebesaran Allah ketika ayat-ayat yang memerintahkan sujud dibacakan. Namun, kita seringkali terburu-buru menyempurnakan gerakan tanpa sempat meresapi, apalagi membiarkan air mata berlinang. Padahal, Allah sendiri berfirman dalam Al-Qur’an:

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

Artinya: “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (Q.S. Al-Isra’: 109)

Ayat ini, serta kisah Abdurrahman bin Abi Laila, menegaskan bahwa tangisan bukanlah sekadar ekspresi kesedihan, melainkan cerminan dari hati yang khusyuk, yang tersentuh oleh keagungan firman Allah. Tangisan tersebut menandakan adanya getaran iman, pengakuan akan kelemahan diri di hadapan Sang Pencipta, serta penyesalan atas dosa-dosa yang mungkin telah dilakukan. Ini adalah esensi dari makna tangisan saat membaca Al-Qur’an setelah sajdah tilawah.

Mengapa Air Mata Sulit Menetes? Refleksi Diri Kita

Jika para salafush shalih begitu peka hingga merindukan tangisan saat sujud tilawah, mengapa kini kita sering merasa hampa? Bisa jadi, ada beberapa faktor yang menghalangi air mata kita untuk tulus menetes:

  • Minimnya Penghayatan: Kita membaca Al-Qur’an dengan lisan, namun hati belum sepenuhnya membersamai. Makna ayat-ayat yang dibaca belum meresap dalam jiwa.
  • Hati yang Keras: Dosa-dosa yang menumpuk dapat mengerasnya hati, membuatnya sulit tersentuh oleh nasehat Al-Qur’an.
  • Tergesa-gesa: Dalam rutinitas sehari-hari, kita seringkali ingin cepat menyelesaikan bacaan, melupakan esensi tadabbur dan tafakkur.
  • Kurang Ilmu: Minimnya pemahaman akan tafsir dan konteks ayat-ayat Al-Qur’an juga dapat mengurangi kedalaman penghayatan.

Memahami makna tangisan saat membaca Al-Qur’an setelah sajdah tilawah berarti juga menyadari bahwa air mata adalah anugerah. Ia adalah tanda hidupnya hati, jembatan antara kefanaan diri dengan keagungan Ilahi.

Membangun Hati yang Peka untuk Tangisan Tilawah

Untuk mencapai derajat penghayatan seperti Abdurrahman bin Abi Laila, kita perlu melatih hati dan jiwa. Ini bukan tentang memaksakan tangisan, melainkan membangun kepekaan yang akan membuat air mata mengalir secara alami. Berikut beberapa langkah praktis yang bisa kita coba:

  1. Fokus pada Tadabbur: Sebelum atau saat membaca Al-Qur’an, luangkan waktu untuk memahami maknanya. Bacalah terjemah dan sedikit tafsir. Renungkan pesan-pesan Allah yang tersirat di setiap ayat.
  2. Bersihkan Hati dari Dosa: Perbanyak istighfar dan taubat. Hati yang bersih lebih mudah menerima cahaya hidayah dan lebih peka terhadap firman Allah.
  3. Niatkan Mencari Keridhaan Allah: Bukan untuk pamer atau mencari pujian. Niat yang lurus akan membimbing kita pada ketulusan.
  4. Perlambat Bacaan: Jangan terburu-buru. Nikmati setiap huruf, setiap kata, setiap ayat. Biarkan ia meresap perlahan ke dalam relung hati.
  5. Berdoa Memohon Kelembutan Hati: Mohonlah kepada Allah agar diberikan hati yang lembut dan mudah tersentuh oleh ayat-ayat-Nya.

Ketika kita secara sadar melibatkan hati dalam setiap bacaan, terutama pada ayat-ayat sajdah, makna tangisan saat membaca Al-Qur’an setelah sajdah tilawah akan mulai terkuak. Tangisan itu bukan hanya karena takut akan ancaman atau rindu akan janji surga, tetapi juga karena rasa malu atas kelalaian, rasa syukur atas nikmat, dan pengakuan akan kebesaran-Nya yang tak terbatas.

Mari kita jadikan setiap sujud tilawah bukan hanya sebagai ritual fisik, melainkan sebagai momen introspeksi dan penyerahan diri total. Biarkan air mata menjadi saksi bisu dari hati yang tersentuh, tanda dari jiwa yang khusyuk, dan bukti dari interaksi yang mendalam dengan Kalamullah. Karena pada akhirnya, interaksi kita dengan Al-Qur’an haruslah membawa perubahan, menggerakkan hati untuk lebih dekat kepada Sang Pencipta.

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • Kitab Fadha’il Al-Qur’an oleh Abu Ubaid, hlm. 140, bab “ما يستحب لقارئ القرآن من البكاء عند القراءة في صلاة وغير صلاة وما في ذلك” (Maktabah Syamilah: sumber di Perpustakaan Islam Shamela)
  • Al-Qur’an Surah Maryam ayat 58
  • Al-Qur’an Surah Al-Isra’ ayat 109
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,