Getaran Jiwa Sang Kekasih Allah

Pernahkah kita berhenti sejenak, merenungi bagaimana Al-Quran menyapa jiwa kita? Seringkali, ia kita baca sebatas rutinitas, meluncur di lisan tanpa bekas di kalbu. Namun, mari kita tengok sejenak bagaimana Sang Teladan Agung, Rasulullah ﷺ, menjalin hubungan dengan Kalam Ilahi. Kisah yang terukir dalam kitab-kitab klasik bukan sekadar cerita, melainkan cermin untuk melihat betapa dalamnya interaksi Rasulullah dengan Al-Quran, sebuah interaksi yang melahirkan getaran hingga ke relung jiwa terdalam.

Imam Abu ‘Ubayd al-Qasim bin Sallam dalam kitabnya yang monumental, Fadha’il al-Qur’an, merekam dua potret agung yang menggambarkan betapa dahsyatnya pengalaman batin Rasulullah ﷺ saat bersama Al-Quran. Ini bukan sekadar membaca, ini adalah sebuah dialog sunyi yang menggetarkan.

Suara Tangis yang Bagaikan Air Mendidih

Bayangkan sebuah bejana di atas api yang panas, air di dalamnya bergolak dan mendidih, mengeluarkan suara gemuruh yang khas. Suara seperti itulah yang keluar dari rongga dada Rasulullah ﷺ saat beliau sedang tenggelam dalam shalatnya. Bukan teriakan, bukan isakan yang dibuat-buat, melainkan gemuruh tangis tertahan yang lahir dari puncak kekhusyukan.

انْتَهَيْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ يُصَلِّي، وَلِجَوْفِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الْمِرْجَلِ» يَعْنِي مِنَ الْبُكَاءِ

“Aku mendatangi Rasulullah ﷺ saat beliau sedang shalat, dan dari dalam rongga dadanya terdengar suara gemuruh laksana air yang mendidih dalam bejana (al-mirjal),” yakni karena menangis. (Diriwayatkan oleh Abdullah bin Syikhkhir, dalam Fadha’il al-Qur’an oleh Abu ‘Ubayd)

Subhanallah. Ini adalah tangisan rindu, tangisan pengagungan, dan tangisan rasa takut yang menyatu dalam satu harmoni. Inilah bukti paling nyata dari sebuah interaksi Rasulullah dengan Al-Quran yang melampaui batas kata. Ayat-ayat yang beliau lantunkan dalam shalat bukan lagi sekadar teks, melainkan berubah menjadi energi spiritual yang menggetarkan seluruh wujudnya.

Ketika Ayat Azab Membuatnya ‘Pingsan’

Jika riwayat pertama menggambarkan dialog batin dalam shalat, riwayat kedua menunjukkan betapa peka dan terbukanya hati beliau terhadap peringatan Allah. Keimanannya begitu kokoh hingga ayat-ayat tentang azab serasa hadir nyata di hadapan mata beliau.

سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ رَجُلًا يَقْرَأُ: ﴿إِنَّ لَدَيْنَا أَنْكَالًا وَجَحِيمًا، وَطَعَامًا ذَا غُصَّةٍ وَعَذَابًا أَلِيمًا﴾ [المزمل: ١٢-١٣] قَالَ: فَصَعِقَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ

Rasulullah ﷺ mendengar seseorang membaca ayat: “Sungguh, di sisi Kami ada belenggu-belenggu (yang berat) dan neraka Jahim yang menyala-nyala, dan ada makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih.” (Q.S. Al-Muzammil: 12-13). Maka Rasulullah ﷺ pun jatuh pingsan. (Diriwayatkan oleh Humran bin A’yan, dalam Fadha’il al-Qur’an oleh Abu ‘Ubayd)

Beliau jatuh pingsan. Bukan karena lemahnya fisik, tetapi karena dahsyatnya kekuatan makna yang menembus jiwanya. Beliau seolah-olah melihat belenggu itu, merasakan panasnya Jahim, dan menyaksikan pedihnya azab tersebut. Tingkatan interaksi Rasulullah dengan Al-Quran ini adalah buah dari keyakinan yang sempurna (haqqul yaqin) bahwa setiap huruf dari Al-Quran adalah kebenaran mutlak.

Pelajaran untuk Hati yang Kering

Dua kisah ini adalah tamparan lembut bagi kita. Mengapa hati kita seringkali datar saat membaca Al-Quran? Mengapa mata kita sulit basah, dan jiwa kita jarang bergetar? Jawabannya terletak pada kualitas hubungan kita dengan-Nya. Rasulullah ﷺ memiliki kepekaan itu karena beliau adalah manusia yang paling mengenal siapa yang menurunkan firman tersebut.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa puncak dari tilawah bukanlah sekadar keindahan lagu atau kelancaran hafalan, melainkan ketika hati kita mulai merasakan ‘rasa’ dari setiap ayat. Rasa takut saat bertemu ayat azab, rasa harap saat membaca janji surga, dan rasa cinta saat merenungi sifat-sifat-Nya. Model interaksi Rasulullah dengan Al-Quran adalah tujuan kita bersama.

Mungkin hati kita belum selembut hati Nabi, namun perjalanan seribu langkah selalu dimulai dari ayunan pertama. Mari kita mulai membaca Al-Quran bukan hanya dengan lisan, tapi juga dengan segenap jiwa. Berhenti sejenak, renungkan maknanya, dan biarkan cahaya ilahi itu menyirami taman hati kita yang mungkin telah lama kering. Kedalaman interaksi Rasulullah dengan Al-Quran adalah sebuah cermin, mari kita mulai mematut diri di hadapannya.

Jika kita merindukan getaran serupa dan ingin memulai perjalanan yang lebih serius dalam membersamai Al-Quran, mencari bimbingan untuk dapat memahami dan merasakannya lebih dalam adalah sebuah langkah bijak. Semoga Allah melembutkan hati kita untuk dapat menerima Kalam-Nya.

Daftar Referensi

  • Abu ‘Ubayd al-Qasim bin Sallam. Fadha’il al-Qur’an. (Dar Ibn Katsir).
  • Q.S. Al-Muzammil: 12-13.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri