Hati manusia adalah medan yang kompleks, tempat bersemayamnya segala emosi dan refleksi spiritual. Namun, di antara berbagai ekspresi jiwa, tangisan saat shalat—terutama ketika lisan melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an—memiliki kedalaman makna yang luar biasa. Ini bukan sekadar luapan emosi biasa, melainkan manifestasi kekhusyuan dan kedekatan yang mendalam dengan Sang Pencipta. Kita diajak untuk merenungkan, bagaimana sebuah tangisan mampu mengubah shalat dari rutinitas fisik menjadi dialog spiritual yang menghidupkan.
Mari kita menelusuri jejak teladan paling mulia, Baginda Rasulullah ﷺ. Sebuah riwayat yang menggetarkan jiwa datang dari kitab فضائل القرآن (Fadhailul Qur’an) karya Imam Abu Ubaid, menggambarkan sebuah pemandangan yang seharusnya menjadi cerminan bagi setiap jiwa yang merindukan pertemuan intim dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala:
حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، عَنْ مُطَرِّفِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ، عَنْ أَبِيهِ، رَحِمَهُ اللَّهُ قَالَ: «انْتَهَيْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصَلِّي، وَلِجَوْفِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الْمِرْجَلِ» يَعْنِي مِنَ الْبُكَاءِ
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Abu Ubaid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, dari Hammad bin Salamah, dari Tsabit Al-Bunani, dari Mutarrif bin Abdillah bin Asy-Syikhkhir, dari ayahnya, semoga Allah merahmatinya, ia berkata: ‘Aku mendatangi Rasulullah ﷺ saat beliau sedang shalat, dan dari dalam dadanya terdengar suara seperti gemuruh bejana yang mendidih,’ maksudnya adalah karena tangisan.”
Menyelami Kedalaman Hati Rasulullah dalam Shalat
Bayangkanlah adegan itu: di tengah kesunyian shalat, terdengar suara gemuruh dari dada manusia paling mulia. Bukan gemuruh amarah, bukan pula gemuruh kesedihan duniawi, melainkan gemuruh yang lahir dari kekhusyuan, ketakutan, harapan, dan cinta yang begitu membuncah kepada Rabb-nya. Suara yang mirip desis air mendidih dalam bejana itu, mengisyaratkan sebuah intensitas emosi yang tak tertandingi; sebuah bukti nyata bahwa shalat bagi beliau bukanlah sekadar gerakan fisik, melainkan penyerahan total jiwa raga dalam munajat.
Bukan Sekadar Air Mata, tapi Tanda Kehadiran Iman
Tangisan Rasulullah ﷺ saat membaca Al-Qur’an dalam shalat bukanlah indikasi kelemahan, melainkan kekuatan iman yang mengakar. Air mata itu adalah terjemahan dari tadabbur yang mendalam, refleksi atas kebesaran Allah, janji-janji-Nya, peringatan-peringatan-Nya, serta pengakuan tulus atas kefanaan diri. Ketika ayat-ayat dibacakan, hati beliau tersentuh, terguncang, dan merespons dengan cara yang paling jujur: melalui linangan air mata. Ini adalah penanda bahwa firman Allah telah menembus sanubari, menghancurkan sekat-sekat kelalaian, dan membimbing jiwa menuju Hadirat Ilahi.
Keutamaan Menangis Saat Membaca Al-Qur’an dalam Shalat: Sebuah Refleksi Spiritual
Mengapa air mata Rasulullah ﷺ menjadi teladan bagi kita? Karena di dalamnya terdapat Keutamaan Menangis Saat Membaca Al-Qur’an dalam Shalat yang sangat besar. Tangisan yang tulus karena Allah mampu membuka banyak pintu kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Kekhusyuan adalah jiwa shalat, dan tangisan yang lahir dari pemahaman serta penghayatan ayat-ayat-Nya adalah salah satu puncaknya. Ia menjadi tanda ketundukan, kerendahan hati, dan pengakuan akan dosa-dosa serta keagungan Ilahi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا ۚ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman.’ Sesungguhnya orang yang diberi ilmu sebelumnya, apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan muka sambil bersujud, dan mereka berkata, ‘Mahasuci Tuhan kami; sungguh, janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkurkan muka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS. Al-Isra: 107-109)
Mengapa Air Mata Memiliki Daya Pembersih Jiwa?
Tangisan yang diiringi dengan penghayatan Al-Qur’an memiliki daya pembersih yang dahsyat. Ia membasuh karat-karat kelalaian dari hati, melembutkan kekerasan jiwa, dan membangkitkan kesadaran akan hakikat keberadaan kita sebagai hamba. Air mata ini menjadi jembatan antara hamba yang lemah dengan Rabb yang Maha Agung, simbol penyesalan atas dosa, dan harapan akan ampunan-Nya. Ketika hati bergetar dan mata basah, saat itulah jiwa terasa lebih ringan, beban pikiran terangkat, dan kedamaian merasuk ke dalam diri.
Menghadirkan Keutamaan Menangis Saat Membaca Al-Qur’an dalam Shalat dalam Kehidupan Kita
Pertanyaannya, bagaimana kita dapat menginternalisasi dan menghadirkan Keutamaan Menangis Saat Membaca Al-Qur’an dalam Shalat ke dalam ibadah kita? Ini bukanlah hal yang dapat dipaksakan, melainkan buah dari proses panjang penempaan spiritual. Langkah pertama adalah meningkatkan kualitas tadabbur kita terhadap Al-Qur’an. Tidak cukup hanya membaca, tetapi juga merenungkan maknanya, memahami konteks ayat-ayatnya, dan mencoba merasakan pesan yang ingin disampaikan Allah kepada kita.
Langkah-Langkah Praktis Menuju Kekhusyuan yang Meneteskan Air Mata
Untuk mencapai kekhusyuan yang mampu meneteskan air mata, kita perlu melatih diri secara bertahap. Mulailah dengan shalat-shalat sunnah yang dilakukan sendirian, di mana kita dapat lebih fokus tanpa distraksi. Pilihlah surah-surah pendek yang maknanya telah kita pahami. Sebelum memulai shalat, luangkan waktu sejenak untuk merenungkan makna bacaan Al-Qur’an yang akan kita lafalkan. Rasakan seolah-olah Allah sedang berbicara langsung kepada kita melalui ayat-ayat tersebut. Ingatlah dosa-dosa yang pernah kita lakukan dan bayangkan kebesaran serta rahmat Allah yang tak terbatas. Dengan demikian, kita akan semakin merasakan Keutamaan Menangis Saat Membaca Al-Qur’an dalam Shalat sebagai gerbang menuju kedekatan yang hakiki.
Allah juga berfirman tentang orang-orang yang ketika dibacakan ayat-ayat-Nya, mereka bersujud dan menangis:
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا ۩
Artinya: “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih, mereka tunduk bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58)
Air Mata sebagai Jembatan Menuju Kedekatan Ilahi
Air mata yang menetes saat shalat, terutama ketika meresapi Al-Qur’an, adalah bahasa hati yang paling jujur. Ia adalah jembatan yang menghubungkan jiwa hamba dengan Tuhannya, sebuah ekspresi kerinduan, penyesalan, dan harapan yang tak terucap. Allah mencintai hamba-Nya yang datang kepada-Nya dengan kerendahan hati, mengakui kelemahan diri, dan menunjukkan ketaatan yang tulus. Tangisan dalam shalat adalah salah satu bentuk ketaatan tertinggi, sebuah penyerahan total yang tidak hanya melibatkan fisik, tetapi juga kedalaman spiritual.
Marilah kita bersama-sama berusaha untuk menghadirkan kembali semangat dan Keutamaan Menangis Saat Membaca Al-Qur’an dalam Shalat dalam setiap ibadah kita. Bukan untuk pamer atau mencari pujian, melainkan semata-mata demi meraih keridaan Allah dan merasakan manisnya iman. Biarkan hati kita dibasahi oleh firman-Nya, dan biarkan air mata menjadi saksi bisu atas ketaatan dan kecintaan kita kepada-Nya. Dengan demikian, shalat kita akan menjadi oase yang menyejukkan jiwa, dan Al-Qur’an akan menjadi penuntun yang menghidupkan setiap langkah.
Untuk menumbuhkan kekhusyuan dan kedalaman spiritual dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, diperlukan bimbingan yang tepat. Qur’an Learning Center Yogyakarta hadir untuk membantu kita mendalami Al-Qur’an, tidak hanya dari segi hafalan, tetapi juga pemahaman dan penghayatan maknanya. Mari bergabung dan temukan cara terbaik untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam setiap sendi kehidupan kita.
Daftar Referensi
- Kitab Fadhailul Qur’an oleh Abu Ubaid, Bab: Ma Yustahabbu li Qari’il Qur’an minal Bukaa’i indal Qira’ati fi Shalaatin wa Ghairi Shalaatin wa ma fi Dzalika, halaman 136, link: sumber di Perpustakaan Islam Shamela
- Q.S. Al-Isra: 107-109
- Q.S. Maryam: 58
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

