Dalam perjalanan spiritual kita, seringkali kita mencari momen-momen yang mampu menyentuh relung hati terdalam, sebuah pengalaman yang melampaui sekadar rutinitas ibadah. Salah satu momen paling berharga adalah ketika Al-Qur’an yang kita baca mampu menggetarkan jiwa, hingga air mata pun mengalir. Kisah Sayyidina Umar bin Khattab, seorang pemimpin yang gagah perkasa, justru memberikan teladan indah tentang kelembutan hati yang luar biasa di hadapan firman Allah SWT. Dari pengalaman beliau, kita akan menyelami lebih jauh tentang hikmah menangis saat membaca Al-Qur’an dalam shalat, sebuah manifestasi ketundukan yang mendalam.
Ada sebuah riwayat yang menakjubkan dari Abu Ubaid, dari Ubaid bin Umair, yang mengisahkan: “Umar bin Khattab shalat Fajar mengimami kami, lalu beliau membuka Surah Yusuf. Beliau membaca hingga sampai pada ayat {وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ} [Yusuf: 84], beliau menangis hingga terputus-putus, lalu beliau rukuk.” Dalam riwayat lain, diceritakan bahwa pada shalat Isya’ (Al-‘Atamah), ketika sampai pada firman Allah {إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ} [Yusuf: 86], tangisan beliau terdengar dari belakang shaf. Tangisan seorang tua seperti tangisan anak kecil yang dipukul, menahan tangisannya di dadanya, namun tak kuasa menahan isakannya. Riwayat ini mengisyaratkan bahwa meninggikan suara dengan tangisan dalam shalat, hingga terdengar, tidak membatalkan shalat.
Betapa agungnya gambaran ini. Sosok Umar yang dikenal tegas dan berwibawa, luluh lantak di hadapan ayat-ayat Allah. Ini bukan kelemahan, melainkan puncak kekuatan spiritual. Hati beliau begitu peka, jiwa beliau begitu terhubung dengan makna firman Ilahi. Ayat-ayat Surah Yusuf yang menceritakan kesedihan Nabi Ya’qub AS yang kehilangan putranya, hingga matanya memutih karena duka yang mendalam, dan keluhan beliau hanya kepada Allah, mampu mengguncang jiwa Umar hingga tangisan tak terbendung. Ini adalah salah satu kunci untuk memahami hikmah menangis saat membaca Al-Qur’an dalam shalat.
Menyelami Kedalaman Hikmah Menangis Saat Membaca Al-Qur’an dalam Shalat
Menangis dalam shalat, terutama saat tilawah, adalah cerminan dari hati yang hidup, yang mampu merasakan kebesaran dan kekuasaan Allah, serta merenungkan makna mendalam dari setiap firman-Nya. Ini bukan sekadar emosi sesaat, melainkan sebuah respons spiritual yang datang dari tadabbur, dari upaya menyelami samudra makna Al-Qur’an. Ketika kita mengizinkan diri kita tersentuh oleh Al-Qur’an, kita sedang membuka gerbang hati untuk menerima hidayah dan pencerahan.
Pertama, tangisan karena Al-Qur’an menunjukkan keimanan yang kuat. Ini adalah tanda bahwa kita benar-benar meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan sekadar untaian kata-kata. Keyakinan ini mendorong kita untuk merenungkan ancaman dan janji-janji Allah, kisah-kisah para nabi, serta peringatan-peringatan yang terkandung di dalamnya. Ketika hati bergetar, mata pun basah, ini adalah bukti keimanan yang meresap hingga ke sanubari.
Kedua, tangisan ini merupakan bentuk pengakuan atas dosa dan kelemahan diri. Saat kita membaca ayat-ayat tentang azab neraka, janji surga, atau kisah kaum-kaum terdahulu yang durhaka, kita secara otomatis melakukan introspeksi. Kesadaran akan kekurangan dan dosa-dosa kita sendiri akan memicu penyesalan yang mendalam, dan air mata menjadi wasilah untuk memohon ampunan dari Allah Yang Maha Pengampun. Ini adalah esensi dari hikmah menangis saat membaca Al-Qur’an dalam shalat.
Ketiga, tangisan karena Al-Qur’an adalah bentuk `khusyuk` yang paling tinggi. `Khusyuk` adalah hadirnya hati dalam shalat, fokus sepenuhnya kepada Allah. Ketika hati begitu larut dalam bacaan Al-Qur’an hingga mengalirkan air mata, maka itu adalah tanda `khusyuk` yang sempurna. Shalat yang `khusyuk` memiliki dampak luar biasa terhadap jiwa, menenangkan hati, dan menguatkan ikatan kita dengan Sang Pencipta. Seperti yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (Q.S. Al-Anfal: 2)
Ayat ini secara jelas menggambarkan respons hati seorang mukmin sejati terhadap firman Allah. Gemetar hati dan bertambahnya iman adalah wujud nyata dari penghayatan yang mendalam, dan tangisan seringkali menjadi puncak dari respons tersebut. Inilah yang kita pelajari dari teladan Umar dan ayat-ayat Al-Qur’an.
Hukum dan Keutamaan Mengeluarkan Suara Saat Menangis dalam Shalat
Dari riwayat Umar bin Khattab, kita mendapatkan pemahaman yang jelas bahwa mengeluarkan suara tangisan hingga terdengar oleh orang di belakang shaf, tidak membatalkan shalat. Ini adalah pelajaran penting bagi kita yang seringkali khawatir bahwa ekspresi emosional yang tulus dalam shalat akan merusak ibadah kita. Justru sebaliknya, tangisan yang tulus karena penghayatan Al-Qur’an adalah tanda keindahan shalat itu sendiri.
Makna “nashij” yang dijelaskan dalam hadits, yaitu tangisan yang tertahan di dada namun isakannya terdengar, menggambarkan betapa kuatnya emosi yang dirasakan Sayyidina Umar. Ini bukan tangisan yang dibuat-buat, melainkan isakan yang muncul secara spontan dari hati yang terhubung. Ini juga menunjukkan bahwa ekspresi kesedihan atau kerinduan kepada Allah dalam shalat adalah sesuatu yang diizinkan dan bahkan dianjurkan, selama tidak sampai mengganggu kekhusyukan jamaah lain secara berlebihan atau mengubah shalat menjadi ratapan yang tidak syar’i.
Kita juga diingatkan oleh firman Allah tentang para nabi dan orang-orang saleh terdahulu:
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ مِن ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا ۩
“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih, mereka tersungkur sujud dan menangis.” (Q.S. Maryam: 58)
Ayat ini menegaskan bahwa menangis saat mendengarkan atau membaca ayat-ayat Allah adalah ciri khas orang-orang yang diberikan nikmat dan petunjuk. Ini adalah tradisi para nabi dan orang-orang pilihan Allah, yang mencerminkan kedalaman pemahaman dan penyerahan diri mereka kepada kehendak Ilahi. Ini semakin memperkuat hikmah menangis saat membaca Al-Qur’an dalam shalat sebagai tanda ketaatan dan spiritualitas yang tinggi.
Untuk mencapai tingkat penghayatan seperti ini, kita perlu membiasakan diri dengan tadabbur Al-Qur’an. Membaca terjemahan, mempelajari tafsir, dan merenungkan konteks ayat-ayat yang kita baca, akan sangat membantu membuka pintu hati kita. Bukan sekadar menyelesaikan target bacaan, melainkan bagaimana setiap ayat itu menyentuh dan mengubah diri kita. Kita perlu membangun hubungan personal yang lebih dalam dengan Al-Qur’an, sehingga ia menjadi sumber inspirasi, penghibur, dan penuntun dalam setiap aspek kehidupan.
Maka, janganlah kita merasa canggung atau takut ketika air mata tiba-tiba mengalir saat kita membaca Al-Qur’an dalam shalat. Itu adalah anugerah, sebuah karunia dari Allah yang menunjukkan bahwa hati kita masih hidup dan peka terhadap firman-Nya. Jadikanlah setiap tangisan itu sebagai jembatan menuju kedekatan yang lebih erat dengan Allah, pengakuan atas keagungan-Nya, dan penyesalan atas segala dosa. Semoga kita semua dianugerahi hati yang lembut dan peka, sehingga dapat merasakan manisnya iman melalui lantunan ayat-ayat suci.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Kitab Fadhail Al-Quran Abu Ubaid, Bab: Ma Yustahabbu li Qari’il Qur’an minal Buka’i ‘Indal Qira’ati fi Shalat wa Ghairi Shalat wa Ma fi Dzalik, halaman 137, riwayat dari Ubaid bin Umair dan Alqamah bin Waqqash. Link: sumber di Perpustakaan Islam Shamela
- Q.S. Al-Anfal: 2
- Q.S. Maryam: 58
- Q.S. Yusuf: 84
- Q.S. Yusuf: 86
