Mukadimah: Pemimpin Keluarga yang Bertanggung Jawab

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الرِّجَالَ قَوَّامِينَ عَلَى النِّسَاءِ، وَأَمَرَنَا بِتَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ عَلَى طَاعَةِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ القَائِلُ: “كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ”. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

“Segala puji bagi Allah yang menjadikan laki-laki sebagai pemimpin bagi kaum wanita, dan memerintahkan kita untuk mendidik anak-anak di atas ketaatan kepada Tuhan semesta alam. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya yang bersabda: ‘Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya’. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.”

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, yang telah memberikan amanah berupa keluarga dan anak-anak. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sosok ayah dan kakek teladan yang penuh kasih namun tegas dalam menanamkan nilai-nilai keimanan.


Ayah sebagai Nahkoda Iman

Hadirin yang dirahmati Allah, sering kali muncul anggapan keliru bahwa urusan mendidik anak sepenuhnya adalah tugas ibu, sementara ayah cukup mencari nafkah saja. Padahal, dalam Al-Qur’an, dialog tentang pendidikan anak justru banyak diabadikan antara ayah dan anak, seperti kisah Luqman Al-Hakim, Nabi Ibrahim, dan Nabi Ya’qub. Ramadhan adalah momentum emas bagi para ayah untuk kembali mengambil peran sebagai madrasah utama bagi anak-anaknya.

Allah SWT memberikan mandat yang sangat berat namun mulia kepada para kepala keluarga dalam Surah At-Tahrim ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”

Hadirin sekalian, ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab ayah bukan hanya memastikan perut anak kenyang dengan nasi, tetapi juga memastikan hati anak kenyang dengan iman agar selamat dari api neraka. Di bulan Ramadhan, ayah harus menjadi “imam” dalam arti yang seluas-luasnya.

Keteladanan Lebih Utama dari Perintah

Mendidik anak di bulan puasa tidak cukup dengan lisan. Anak-anak adalah peniru yang ulung. Jika seorang ayah memerintahkan anaknya tadarus sementara ia sendiri asyik bermain gawai, maka perintah itu tidak akan membekas. Rasulullah SAW bersabda mengenai tanggung jawab ini:

مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا مِنْ نُحْلٍ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ

“Tidak ada pemberian orang tua kepada anak yang lebih utama daripada adab (pendidikan karakter) yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Pemberian adab yang baik di bulan Ramadhan bisa dimulai dari hal kecil: mengajak anak sahur dengan sabar, membimbing mereka shalat berjamaah, dan menunjukkan akhlak mulia saat berinteraksi dengan orang lain meskipun sedang dalam kondisi lapar dan haus.

Kisah Ketegasan dan Kasih Sayang Nabi Ibrahim

Mari kita menengok kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam. Beliau adalah prototipe ayah yang sukses mendidik anak. Ketika beliau menerima perintah Allah yang sangat berat, beliau tidak langsung memaksakannya kepada Ismail. Beliau berdialog, “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?”

Karena didikan tauhid yang kuat sejak dini dari sang ayah, Ismail menjawab dengan teguh, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” Kisah ini mengajarkan para ayah bahwa komunikasi yang baik dan penanaman akidah yang kuat adalah fondasi agar anak taat kepada Allah dan patuh kepada orang tua.

Langkah Praktis Ayah di Bulan Ramadhan

Hadirin sekalian, ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan ayah selama Ramadhan: Pertama, luangkan waktu berkualitas. Meskipun sibuk bekerja, sempatkanlah berbuka bersama dan berdiskusi ringan tentang makna puasa. Kedua, ajaklah ke masjid. Jadikan momen shalat tarawih sebagai sarana mendekatkan anak dengan lingkungan yang shalih.

Ketiga, ajarkan kedermawanan. Mintalah anak untuk menyerahkan sendiri uang sedekah atau zakat fitrah agar mereka merasakan indahnya berbagi. Ingatlah, memori yang tertanam di benak anak tentang ayahnya yang khusyuk beribadah di bulan Ramadhan akan menjadi bekal karakter mereka hingga dewasa kelak.


Penutup: Doa untuk Keistiqamahan Keluarga

Sebagai kesimpulan, ayah adalah nahkoda yang menentukan arah kapal keluarga. Jika ayahnya disiplin dalam ibadah dan mendidik dengan kasih sayang, maka anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang tangguh imannya. Mari jadikan Ramadhan ini sebagai pembuktian bakti kita sebagai seorang ayah.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Demikian tausiyah singkat ini. Semoga Allah SWT memudahkan setiap langkah para ayah dalam mendidik putra-putrinya. Mohon maaf atas segala kekurangan. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Karantina Tahfidz Quran Jogja
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,