Dalam perjalanan hidup kita di dunia ini, seringkali kita dihadapkan pada godaan yang datang dalam berbagai bentuk. Salah satu godaan yang paling halus namun sangat berbahaya adalah sifat tama’, atau yang kita kenal sebagai rakus dan serakah. Ini bukanlah sekadar keinginan biasa, melainkan hasrat berlebihan yang tak pernah merasa cukup, laksana air laut yang semakin diminum justru semakin menambah dahaga.
Sifat tama’ ini bisa merasuk ke dalam setiap sendi kehidupan, baik dalam urusan harta, kedudukan, popularitas, maupun hal-hal duniawi lainnya. Ia membisiki kita untuk terus mencari, mengumpulkan, dan memiliki lebih banyak, tanpa peduli apakah yang kita peroleh itu halal atau haram, baik atau buruk. Hati yang telah dijangkiti tama’ akan sulit merasakan ketenangan, sebab matanya selalu tertuju pada apa yang dimiliki orang lain, atau pada sesuatu yang belum berhasil ia genggam.
Apa Itu Tama’ dan Bahayanya?
Tama’ secara sederhana dapat kita pahami sebagai ketidakpuasan abadi terhadap anugerah yang telah Allah karuniakan. Ia adalah suatu kondisi di mana hati merasa kosong, meskipun tangan telah menggenggam banyak. Orang yang terjerat tama’ cenderung mengukur kebahagiaan dari seberapa banyak harta yang ia kumpulkan atau seberapa tinggi kedudukan yang ia capai. Padahal, kebahagiaan sejati terletak pada ketenangan jiwa dan kemurnian hati, bukan pada timbunan dunia.
Bahaya tama’ ini sangat nyata dan dapat merusak berbagai aspek kehidupan kita. Pertama, ia melahirkan kegelisahan yang tiada henti. Bayangkan, seseorang yang memiliki segalanya, namun hatinya selalu diliputi kekhawatiran akan kehilangan, atau keinginan untuk mendapatkan yang lebih. Hidupnya akan terasa seperti dikejar-kejar oleh bayangan ketidakcukupan, meskipun secara kasat mata ia adalah orang yang ‘kaya’.
Kedua, tama’ dapat mendorong kita untuk menghalalkan segala cara. Ketika hasrat untuk memiliki sesuatu begitu membara, seringkali batas-batas syariat dan etika mulai terkikis. Jujur menjadi pilihan kedua, integritas menjadi barang mahal, dan prinsip-prinsip moral mudah digadaikan demi meraih apa yang diidamkan. Korupsi, penipuan, zalim terhadap sesama, hingga riba, semua bisa berakar dari sifat rakus yang bersemayam dalam hati.
Ketiga, sifat serakah merusak integritas diri dan hubungan sosial. Seseorang yang rakus akan sulit dipercaya, karena orang lain akan merasa dimanfaatkan. Ia cenderung egois, hanya memikirkan keuntungan pribadi tanpa empati kepada orang di sekitarnya. Hal ini tentu akan mengikis tali silaturahim dan menciptakan permusuhan. Bukankah kita diajarkan untuk saling menyayangi dan memberi, bukan hanya mengambil?
Keempat, dan yang paling fatal, tama’ dapat menjerumuskan kita pada dosa-dosa besar. Ambisi dunia yang membutakan mata hati bisa menuntun kita pada perbuatan-perbuatan yang dimurkai Allah. Dari sinilah lahir kemaksiatan-kemaksiatan yang besar, yang pada akhirnya akan mencelakakan kita di dunia dan di akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan kita dalam firman-Nya:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ
Artinya: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), kemudian janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.” (Q.S. At-Takatsur: 1-4)
Ayat ini dengan jelas menggambarkan bagaimana perlombaan dalam mengumpulkan harta dan kekuasaan di dunia bisa melalaikan manusia dari tujuan hidup yang sebenarnya, hingga ajal menjemput.
Solusi Qur’ani: Menggapai Ketenangan Hati
Lantas, bagaimana kita bisa melepaskan diri dari belenggu tama’ ini? Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kita peta jalan yang terang benderang. Solusi utamanya terletak pada pengamalan tiga sifat mulia: qana’ah (merasa cukup), bersyukur, dan meyakini rezeki dari Allah.
Qana’ah: Merasa Cukup dengan Karunia Allah
Qana’ah adalah permata hati yang membuat kita menerima apa adanya dengan lapang dada. Ia bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan sebuah sikap ridha terhadap ketetapan Allah setelah kita berikhtiar semaksimal mungkin. Orang yang qana’ah, hatinya akan selalu dipenuhi rasa cukup, meskipun yang ia miliki tidaklah banyak. Ia tidak pernah membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain, apalagi iri hati.
Dengan qana’ah, kita akan menemukan kedamaian yang tak ternilai harganya. Beban hidup terasa ringan, karena kita tahu bahwa semua adalah karunia dari Yang Maha Pemberi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana’ah (merasa cukup) dengan apa yang diberikan kepadanya.” (H.R. Muslim)
Syukur: Kunci Pembuka Keberkahan
Sifat qana’ah akan semakin sempurna jika diiringi dengan rasa syukur yang mendalam. Bersyukur berarti mengakui bahwa semua nikmat, besar maupun kecil, datangnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan bersyukur, kita tidak hanya mengungkapkan terima kasih, tetapi juga mengakui kelemahan diri dan keagungan Sang Pencipta.
Rasa syukur akan membuka pintu-pintu keberkahan yang lain. Allah berjanji, “Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim: 7). Syukur mengubah fokus kita dari “apa yang belum kita miliki” menjadi “apa yang sudah kita nikmati”, sehingga hati menjadi lebih kaya.
Meyakini Rezeki Hanya dari Allah
Pilar terakhir dalam mengatasi tama’ adalah keyakinan yang kokoh bahwa rezeki setiap makhluk telah dijamin oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Setiap manusia telah ditetapkan rezekinya masing-masing, dan tidak ada satu pun makhluk di muka bumi ini yang luput dari perhatian-Nya. Sebagaimana firman Allah:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Q.S. Hud: 6)
Ayat ini adalah penenang bagi hati yang gelisah. Dengan memahami dan meyakini sepenuhnya ayat ini, kita akan menyadari bahwa mengejar dunia secara berlebihan adalah tindakan sia-sia, sebab rezeki kita tidak akan tertukar, tidak akan berkurang, dan tidak akan terlambat datangnya. Fokus kita seharusnya adalah pada ketaatan dan mencari ridha-Nya, karena dengan itu, rezeki akan datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
Meninggalkan tama’ dan menggantinya dengan qana’ah, syukur, serta keyakinan penuh akan rezeki dari Allah, adalah sebuah investasi terbesar bagi ketenangan jiwa dan kebahagiaan hakiki. Ia adalah jalan menuju kehidupan yang lebih berkah, damai, dan penuh makna, karena kita telah membebaskan hati dari belenggu dunia yang fana.
Marilah kita bersama-sama melatih hati untuk senantiasa merasa cukup, bersyukur atas setiap anugerah, dan sepenuhnya percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Dengan demikian, kita tidak hanya akan meraih kebahagiaan di dunia, tetapi juga bekal terbaik untuk kehidupan akhirat.
Jika kita ingin menyelami lebih dalam hikmah Al-Qur’an dan menemukan ketenangan sejati melalui dekat dengan firman-Nya, Qur’an Learning Center Yogyakarta siap menjadi jembatan bagi Anda. Mari bergabung dalam program Executive Tahfizh kami, dan rasakan indahnya menghafal serta memahami Al-Qur’an dalam lingkungan yang kondusif dan penuh berkah.
Daftar Referensi
- Q.S. At-Takatsur: 1-4
- Q.S. Hud: 6
- H.R. Muslim No. 1054
- Q.S. Ibrahim: 7
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

