Sahabat Qur’an yang selalu merindukan rida Allah. Pernahkah Kita melihat seseorang yang tumbuh di lingkungan yang jauh dari agama, namun tiba-tiba hatinya tergetar dan berubah menjadi sangat saleh? Sebaliknya, mungkin Kita juga pernah melihat seseorang yang secara teori paham agama, namun hatinya seolah membatu dan enggan melangkah ke masjid.

Pasti rasanya bingung ya, melihat fenomena seperti itu. Terkadang muncul gemuruh di dada, “Ya Allah, kenapa dia bisa seberuntung itu mendapatkan hidayah, sementara ada orang lain yang justru menjauh saat kebenaran sudah di depan mata?” Wajar kok kalau kita bertanya-tanya. Namun, di balik itu semua, ada rahasia besar tentang kasih sayang dan keadilan Allah yang perlu kita selami bersama.

Hidayah: Hak Mutlak Sang Pemilik Hati

Intinya begini, hidayah itu ibarat sinyal radio. Sinyalnya selalu ada dan dipancarkan oleh Allah ke seluruh penjuru semesta. Namun, apakah “perangkat” hati kita dalam keadaan hidup dan siap menangkap frekuensi tersebut? Nah, di sinilah letak takdir itu bekerja.

Kita harus menyadari bahwa hidayah taufik—yakni kekuatan untuk melakukan amal kebaikan—adalah mutlak milik Allah. Sehebat apa pun kita mendakwahi seseorang, jika Allah belum membukakan pintu hatinya, maka ia tidak akan bisa masuk. Bahkan Baginda Nabi Muhammad SAW pun tidak bisa memberi hidayah kepada paman yang sangat dicintainya, Abu Thalib.

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)

Hati yang Lapang dan Hati yang Sempit

Lalu, mengapa ada orang yang ditakdirkan menolak? Apakah Allah tidak adil? Tunggu dulu, Sahabat Qur’an. Allah Maha Adil. Seseorang ditakdirkan sesat biasanya karena ia sendiri yang berkali-kali menolak dan menyombongkan diri saat kebenaran itu menyapa. Hati itu ibarat tanah. Ada tanah yang subur, sekali kena air hujan langsung tumbuh tanaman. Ada tanah yang berbatu dan kedap air; seberapa pun deras hujan menyiram, ia tetap keras dan gersang.

Saat seseorang secara sadar memilih untuk menutup matanya dari ayat-ayat Allah, maka Allah akan membiarkannya dalam kesesatan tersebut sebagai bentuk “balasan” atas pilihannya sendiri. Rasanya mengerikan ya, jika kita sampai berada di titik itu. Dada terasa sesak, seolah-olah sedang mendaki ke langit yang hampa udara.

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.” (QS. Al-An’am: 125)

Jangan Lelah Mengetuk Pintu Langit

Nah, jika hidayah adalah takdir, lantas apa tugas kita? Apakah kita hanya diam menunggu? Tentu tidak! Tugas kita adalah menjemputnya dengan doa dan ketaatan. Kita tidak tahu takdir kita tertulis seperti apa, maka satu-satunya cara adalah dengan bersimpuh, memohon agar Allah tidak memalingkan hati kita setelah kita mencicipi nikmatnya iman.

Bayangkan kita sedang berada di tengah hutan yang gelap gulita. Hidayah adalah satu-satunya obor yang kita miliki. Jika obor itu mati, kita akan hilang arah. Maka, genggamlah obor itu erat-erat dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketaatan adalah bahan bakar agar cahaya hidayah tetap menyala di dalam dada.

Terimalah setiap petunjuk yang datang, sekecil apa pun itu. Mungkin lewat nasihat teman, lewat ayat yang tidak sengaja terbaca, atau bahkan lewat rasa gelisah yang muncul saat kita berbuat dosa. Itu semua adalah cara Allah memanggil kita. Jangan diabaikan.

Mari kita biasakan lisan kita basah dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, karena Beliau sendiri yang paling tahu betapa mudahnya hati manusia itu berbolak-balik.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)

Hidayah Adalah Hadiah, Jagalah Dengan Cinta

Sahabat Qur’an, intinya begini: Kita adalah hamba. Kita butuh Allah di setiap embusan napas kita. Jangan pernah merasa aman dengan iman yang kita miliki sekarang. Rasa sombong dan merasa sudah “pasti masuk surga” adalah celah bagi syaitan untuk mencabut hidayah dari hati kita.

Jadikan setiap ibadah sebagai sarana kita bersyukur karena telah dipilih menjadi orang yang beriman. Saat kita ruku dan sujud, rasakan dinginnya lantai masjid meresap ke dahi, dan bisikkan dalam hati, “Terima kasih ya Allah, Engkau masih mengizinkan aku bersujud kepada-Mu.”

Teruslah melangkah di jalan ketaatan. Meski tertatih, meski lelah, jangan berhenti. Sebab, tujuan akhir dari perjalanan hidayah ini adalah pertemuan yang indah dengan Sang Pencipta di dalam surga-Nya nanti.

Tetap semangat menjemput hidayah setiap hari ya, Sahabat Qur’an!


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:

Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat untuk mencetak para Hafizh dan Hafizhah dalam program unggulan Executive Tahfizh.

Website: website resmi Executive Tahfizh

WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,