Dilema Transliterasi: Sebuah Fenomena Bahasa di Kalangan Santri
Pernahkah Anda merasa ragu saat hendak menuliskan kata yang merujuk pada aktivitas menghafal Al-Qur’an? Apakah menggunakan akhiran “dz”, “zh”, atau cukup dengan “z”? Di spanduk-spanduk jalanan, nama-nama yayasan, hingga pencarian di internet, kita menemukan keragaman yang luar biasa: Rumah Tahfidz, Pondok Tahfizh, atau Sekolah Tahfiz. Fenomena ini bukan sekadar masalah ejaan, melainkan cerminan dari interaksi yang dinamis antara Bahasa Arab yang kaya akan fonem dengan Bahasa Indonesia yang memiliki sistem aksara Latin yang lebih sederhana.
Kerancuan ini seringkali memicu perdebatan kecil di kalangan akademisi maupun praktisi pendidikan Islam. Sebagian bersikukuh bahwa satu ejaan lebih “syar’i” atau mendekati bunyi aslinya, sementara yang lain lebih memilih mengikuti pedoman baku bahasa nasional. Artikel ini tidak hanya akan menjawab mana yang “benar” menurut kamus, tetapi juga mengajak Anda menelusuri sejarah dan alasan linguistik di balik variasi penulisan tahfidz, tahfizh, dan tahfiz. Pemahaman ini penting, terutama bagi mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan Islam, agar kita bisa menempatkan penggunaan kata sesuai dengan konteksnya.
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Akar Kata dan Problematika Huruf “Zha”
Untuk memahami asal-usul variasi ini, kita harus kembali ke akar katanya dalam Bahasa Arab. Kata ini berasal dari akar kata ha-fa-zha (حفظ) yang bermakna menjaga, memelihara, atau menghafal. Masalah utama dalam alih aksara (transliterasi) ke dalam huruf Latin muncul karena keberadaan huruf terakhirnya, yaitu Zha (ظ). Huruf ini adalah salah satu huruf ithbaq yang memiliki bunyi tebal dan unik, di mana lidah sedikit keluar menyentuh gigi seri atas dengan suara yang berat.
Bahasa Indonesia dan abjad Latin standar tidak memiliki satu huruf pun yang bisa mewakili bunyi Zha (ظ) secara sempurna. Inilah yang menyebabkan munculnya upaya kreatif untuk merepresentasikan bunyi tersebut:
- Tahfidz: Penggunaan “dz” dimaksudkan untuk membedakannya dari huruf “z” biasa, namun ini sering tertukar dengan transliterasi huruf Dzal (ذ) seperti pada kata “Ustadz”.
- Tahfizh: Penggunaan “zh” merujuk pada pedoman Transliterasi Arab-Latin (biasanya merujuk pada SKB 3 Menteri) untuk membedakan huruf Zha (ظ) dengan Zai (ز) dan Dzal (ذ).
- Tahfiz: Bentuk penyederhanaan yang diadopsi oleh otoritas bahasa nasional untuk memudahkan penutur Bahasa Indonesia.
Antara SKB 3 Menteri dan KBBI: Benturan Standar
Di Indonesia, terdapat dua pedoman besar yang sering menjadi rujukan dalam penulisan istilah Islam. Pertama adalah Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri (Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) tahun 1987 tentang Pedoman Transliterasi Arab-Latin. Dalam pedoman ini, huruf Zha (ظ) dilambangkan dengan huruf “z” yang diberi titik di bawahnya (ẓ). Namun, karena keterbatasan papan ketik (keyboard) pada masa lalu dan di perangkat umum, masyarakat sering menggantinya dengan gabungan huruf “zh”.
Di sisi lain, Badan Bahasa melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) melakukan penyerapan kata (absorpsi) dengan prinsip mempermudah pelafalan dan penulisan bagi lidah Indonesia. Oleh karena itu, KBBI menyerap kata Tahfizh menjadi Tahfiz (tanpa h di tengah, dan z di akhir). Menurut KBBI, kata “tahfiz” didefinisikan sebagai “hafalan (Al-Qur’an)”.
Perbedaan rujukan inilah yang membuat penggunaan di lapangan terbelah. Institusi formal pemerintahan atau media massa arus utama cenderung menggunakan “Tahfiz”. Sementara itu, pondok pesantren, yayasan Islam, dan lembaga seperti Executive Tahfizh seringkali mempertahankan penulisan “Tahfizh” atau “Tahfidz” untuk menjaga nuansa keaslian bunyi Arabnya dan membedakannya dari kata lain yang berbunyi mirip.
Peta Transliterasi Global: Bagaimana Negara Lain Menulisnya?
Indonesia tidak sendirian dalam menghadapi tantangan ini. Umat Islam di seluruh dunia yang menggunakan aksara Latin juga memiliki cara unik mereka sendiri dalam menuliskan kata ini. Variasi ini sangat dipengaruhi oleh lidah lokal dan sejarah kolonial (apakah bekas jajahan Inggris, Prancis, atau lainnya).
Di Turki, yang menggunakan aksara Latin sejak era Ataturk, huruf Zha (ظ) seringkali disederhanakan menjadi “z”, sehingga mereka menulisnya sebagai Hafiz. Di negara-negara berbahasa Inggris, transliterasi yang umum adalah menggunakan “dh” atau “z” dengan diakritik, seperti Hifdh atau Hifz. Sementara di Malaysia, yang serumpun dengan Indonesia, kecenderungannya mirip, yaitu bimbang antara “Tahfiz” (baku Dewan Bahasa dan Pustaka) dan “Tahfidz” (populer di masyarakat).
Analisis Fonetik: Mengapa “Tahfidz” Paling Populer di Masyarakat?
Meskipun KBBI menyarankan “Tahfiz”, mengapa mayoritas nama pesantren masih menggunakan “Tahfidz”? Jawabannya mungkin terletak pada psikologi bahasa. Masyarakat Muslim Indonesia cenderung ingin menunjukkan identitas keislaman yang kuat melalui simbol bahasa. Penulisan “Tahfidz” dengan akhiran “dz” dirasa lebih “nyantri” dan lebih dekat dengan makhraj huruf Arab dibandingkan “Tahfiz” yang terkesan terlalu Indonesia.
Selain itu, ada kekhawatiran tertukarnya makna. Dalam transliterasi Arab-Latin populer:
- Z (ز): Seperti pada Zakat, Zina.
- Dz (ذ): Seperti pada Dzikir, Ustadz.
- Zh (ظ): Seperti pada Zhalim, Hafizh.
- Dh (ض): Seperti pada Ramadhan, Sholat.
Kekacauan terjadi ketika huruf Zha (ظ) ditulis “dz” (Tahfidz). Secara teknis transliterasi akademik, ini kurang tepat karena “dz” adalah milik huruf Dzal (ذ). Namun, karena bunyi Zha memang terdengar seperti “dz” yang ditebalkan, masyarakat awam merasa ejaan ini yang paling mewakili pendengaran mereka.
Pentingnya Konsistensi dalam Branding Lembaga
Bagi pengelola lembaga pendidikan Al-Qur’an, pemilihan ejaan ini berdampak pada strategi digital dan branding. Mesin pencari seperti Google memang semakin pintar mengenali sinonim, namun pemilihan kata kunci (keyword) yang tepat tetap krusial. Jika target audiens adalah masyarakat umum yang mencari sekolah untuk anaknya, kata kunci “Rumah Tahfidz” mungkin memiliki volume pencarian lebih tinggi daripada “Rumah Tahfiz” atau “Rumah Tahfizh”.
Namun, Pondok Pesantren Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional memilih jalan tengah yang bijak. Meskipun menyadari popularitas “Tahfidz”, penggunaan ejaan yang mendekati kaidah transliterasi akademik (“Tahfizh”) seringkali dipilih untuk menunjukkan wibawa keilmuan dan kehati-hatian dalam menjaga amanah ilmiah. Ini sejalan dengan visi lembaga untuk mencetak penghafal yang tidak hanya hafal, tapi juga paham ilmu tajwid dan makharijul huruf secara presisi.
Refleksi Spiritual: Menjaga Lebih dari Sekadar Huruf
Terlepas dari perdebatan huruf “z”, “dz”, atau “zh”, esensi utama dari kata tersebut adalah Al-Hifz: Penjagaan. Allah SWT menjamin kemurnian Al-Qur’an, dan para penghafal Al-Qur’an adalah instrumen pilihan-Nya di muka bumi untuk merealisasikan jaminan tersebut.
Perbedaan cara menulis tidak boleh mengurangi semangat kita untuk memuliakan Al-Qur’an. Justru, keragaman ini menunjukkan betapa Al-Qur’an telah menyatu dengan budaya lokal di mana pun ia berada. Baik Anda menuliskannya sebagai Tahfidz, Tahfizh, atau Tahfiz, yang terpenting adalah semangat untuk mengamalkan isinya. Jangan sampai kita sibuk berdebat soal ejaan nama lembaga, namun lalai dalam muraja’ah (mengulang) hafalan yang sudah ada di dada.
Sebagai penutup, bagi masyarakat awam, ikutilah ejaan yang berlaku umum atau ejaan baku KBBI (Tahfiz) dalam konteks formal kenegaraan. Namun dalam konteks pembelajaran tajwid dan komunitas pesantren, hargailah upaya para ulama dan ustadz yang menggunakan variasi lain (Tahfizh/Tahfidz) sebagai bentuk kehati-hatian menjaga keaslian bunyi wahyu.
Semoga Allah senantiasa menjaga kita, para penjaga kalam-Nya, dan memberikan kefasihan pada lisan kita, baik dalam membaca maupun dalam menuliskan istilah-istilah agama-Nya. Aamiin.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

🎯 Siap Mulai Perjalanan Hafal Al-Qur’an 30 Juz?
Executive Tahfizh QLC Yogyakarta membantu Anda menghafal Al-Qur’an dengan Metode Yadain yang terbukti — 28 hari hafal, cocok untuk semua level dan usia.
Tersedia program mukim (asrama) dan non-mukim yang fleksibel.
Atau hubungi kami di WhatsApp 0812-2400-3100
