Di tengah riuhnya kehidupan yang kerap melenakan, kita seringkali terhanyut dalam arus pragmatisme, mengejar apa yang tampak di depan mata tanpa merenungi lebih dalam makna dan arah yang sesungguhnya. Ada kalanya, godaan untuk mencari jalan pintas atau mengikuti kemauan diri yang bersifat sesaat, membuat kita sejenak melupakan petunjuk Ilahi yang seharusnya menjadi kompas utama. Pertanyaannya, benarkah pilihan semacam itu membawa kita pada kedamaian yang hakiki, atau justru menjerumuskan pada kekosongan yang tak berujung?

Kisah-kisah dalam sejarah, dan bahkan pengalaman hidup kita sendiri, seringkali menunjukkan bahwa ketika manusia mencoba merangkai aturan mainnya sendiri, jauh dari nilai-nilai luhur yang ditetapkan oleh Penciptanya, kekacauan dan kegelisahanlah yang justru datang bertamu. Ini bukan sekadar teori, melainkan sebuah realita yang terpampang nyata di hadapan mata. Mengabaikan syariat—aturan dan hukum yang telah Allah gariskan—ibarat seorang pelaut yang memilih mengabaikan peta dan kompas di tengah samudra luas, berharap akan sampai ke tujuan dengan selamat hanya berbekal instingnya semata.

Syariat: Bukan Beban, Melainkan Petunjuk Cinta

Seringkali, di benak sebagian kita, syariat terkesan sebagai sesuatu yang kaku, membatasi, bahkan memberatkan. Sebuah daftar panjang “boleh” dan “tidak boleh” yang mengekang kebebasan. Padahal, jika kita mencoba meniliknya dengan hati yang lapang dan pikiran yang jernih, syariat itu sejatinya adalah manifestasi dari kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Ia adalah rambu-rambu kehidupan yang dirancang sempurna oleh Sang Maha Pencipta, yang paling tahu apa yang terbaik bagi ciptaan-Nya. Ibarat petunjuk penggunaan sebuah perangkat elektronik; jika kita mengabaikannya, bukan tak mungkin perangkat itu akan rusak atau tidak berfungsi optimal.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa eksistensi kita memiliki tujuan mulia, yakni beribadah kepada-Nya. Dan ibadah ini bukan hanya dalam ritual salat, puasa, atau haji, melainkan juga dalam setiap sendi kehidupan, yang terbingkai oleh syariat-Nya. Ketika syariat diabaikan, hakikat tujuan penciptaan ini pun turut terabaikan, dan di situlah awal mula kekosongan dan kegersangan spiritual.

Konsekuensi Mengabaikan Syariat dalam Kehidupan

Mari kita renungkan lebih dalam, apa sebenarnya bahaya yang mengintai ketika kita memilih untuk menepikan syariat dari panggung kehidupan kita?

1. Hilangnya Kedamaian Hati dan Ketenangan Jiwa

Syariat Islam dirancang untuk membawa manusia pada fitrahnya, pada ketenangan batin yang sejati. Ketika kita melanggar batasan-batasan yang telah ditetapkan, seperti terjebak dalam riba, perzinaan, atau kezaliman, mungkin kita merasakan kenikmatan sesaat. Namun, di baliknya, ada kegelisahan yang menggerogoti, kekosongan yang melanda, dan rasa bersalah yang tak kunjung usai. Kedamaian sejati hanya dapat ditemukan ketika hati selaras dengan kehendak Ilahi.

2. Rusaknya Tatanan Sosial dan Munculnya Berbagai Masalah

Syariat bukan hanya tentang hubungan vertikal kita dengan Allah, tetapi juga hubungan horizontal sesama manusia. Aturan tentang kejujuran, keadilan, amanah, dan persaudaraan, adalah pilar-pilar kokoh bagi sebuah masyarakat yang harmonis. Ketika aturan-aturan ini diabaikan, yang terjadi adalah penindasan, ketidakadilan, korupsi, dan permusuhan yang melahirkan kerusakan di muka bumi. Lihatlah betapa banyak persoalan sosial yang muncul hari ini, bukankah akar masalahnya seringkali terletak pada pengabaian nilai-nilai syariat?

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

3. Terhalangnya Keberkahan dalam Hidup

Berkah adalah bertambahnya kebaikan dan manfaat. Ia bukanlah sekadar jumlah yang banyak, melainkan juga kualitas dan ketenangan yang menyertainya. Harta yang didapat dari jalan yang haram, meski melimpah, seringkali tidak membawa ketenangan dan kebermanfaatan. Sebaliknya, penghasilan yang halal, meski sedikit, bisa terasa lebih cukup dan membawa kedamaian. Ketaatan pada syariat adalah kunci pembuka pintu-pintu keberkahan.

4. Ancaman Siksa di Akhirat

Inilah puncak dari segala bahaya pengabaian syariat. Dunia ini hanyalah persinggahan sementara, dan kehidupan akhiratlah yang kekal abadi. Setiap pelanggaran dan pengabaian terhadap perintah Allah di dunia ini akan memiliki konsekuensi di hari perhitungan. Siksa neraka yang pedih adalah balasan bagi mereka yang enggan tunduk pada aturan-Nya, setelah peringatan demi peringatan telah disampaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Setiap umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Siapakah yang enggan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barangsiapa menaatiku, dia masuk surga. Barangsiapa mendurhakai aku, sungguh dia telah enggan (masuk surga).” (HR. Bukhari)

Mari Kembali Menata Hati dan Pikiran

Setelah merenungi berbagai bahaya ini, sudah saatnya kita mengoreksi diri. Mungkin selama ini kita terlalu fokus pada kesenangan dunia yang fana, dan melupakan tujuan sejati kita. Mengabaikan syariat bukanlah pilihan cerdas, melainkan sebuah perjudian besar yang mempertaruhkan kedamaian dunia dan keselamatan akhirat kita.

Tidak ada kata terlambat untuk kembali, untuk menata ulang orientasi hidup kita. Mulailah dengan langkah-langkah kecil, seperti belajar lebih dalam tentang Al-Qur’an dan Sunnah, memahami makna di balik setiap perintah dan larangan-Nya. Jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama, sumber cahaya yang menerangi setiap langkah.

Allah senantiasa membuka pintu taubat bagi hamba-Nya yang ingin kembali. Dengan kembali kepada syariat-Nya, kita tidak hanya menemukan jalan menuju kebahagiaan sejati di dunia, tetapi juga jaminan surga di akhirat kelak. Bukankah itu yang sesungguhnya kita dambakan?

Maka, mari bersama-sama kita jadikan setiap tarikan napas, setiap langkah, setiap keputusan, selaras dengan tuntunan Ilahi. Karena di sanalah letak kemuliaan, keberkahan, dan kedamaian yang hakiki.

—

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,