Pernahkah Kita mengirim pesan singkat kepada seorang kawan, melihat tanda “centang biru” tanda pesan terbaca, namun tidak ada balasan hingga berjam-jam lamanya? Seketika itu juga, sebuah “drama” mulai berputar di kepala kita. Bisikan-bisikan halus mulai muncul: “Dia pasti sedang marah,” “Ah, dia sudah sombong sekarang,” atau “Aku sudah tidak penting lagi baginya.” Padahal, bisa jadi kawan kita itu sedang menyetir, tertidur karena kelelahan, atau hp-nya dipinjam anaknya. Sahabat Qur’an yang saya cintai, itulah wajah asli dari Su’uzh Zhann atau berburuk sangka—sebuah penyakit hati yang menciptakan masalah yang sebenarnya tidak pernah ada, namun dampaknya mampu menghancurkan hubungan yang nyata.
Penjara Bernama Prasangka
Berburuk sangka ibarat kita sedang memakai kacamata hitam di dalam ruangan yang redup; segalanya tampak gelap, mencurigakan, dan menakutkan, padahal aslinya terang benderang. Ketika su’uzh zhann menguasai hati, kita kehilangan kemampuan untuk melihat kebaikan orang lain. Setiap ucapan dimaknai sebagai sindiran, setiap diam dimaknai sebagai kebencian, dan setiap kebaikan dianggap ada “udang di balik batu”.
Dampak dari penyakit ini sangatlah fatal bagi kesehatan jiwa. Hati menjadi tidak tenang, penuh gelisah, dan sesak oleh kebencian yang kita ciptakan sendiri. Kita menjadi lelah karena sibuk menghakimi niat orang lain—sesuatu yang sebenarnya merupakan wilayah gaib yang hanya diketahui oleh Allah. Akibatnya, kepercayaan (trust) yang menjadi pondasi persaudaraan hancur berkeping-keping. Suami mencurigai istri, teman mencurigai teman, hingga jamaah mencurigai pemimpinnya. Hidup menjadi seperti berjalan di atas ladang ranjau, penuh ketakutan akan dikhianati.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ …
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa…” (QS. Al-Hujurat: 12)
Perintah Menjauhi Dosa Hati
Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 memberikan peringatan yang sangat spesifik: “Jauhilah kebanyakan dari prasangka.” Mengapa dikatakan “kebanyakan”? Karena kita seringkali tidak bisa membedakan mana prasangka yang benar (firasat mukmin) dan mana yang bisikan syaitan. Maka jalan paling selamat (ihtiyat) adalah menjauhinya. Allah menegaskan bahwa sebagian prasangka itu adalah dosa. Ini menunjukkan bahwa dosa tidak hanya dilakukan oleh anggota badan, tapi lintasan pikiran yang dibiarkan menetap dan diyakini kebenarannya tanpa bukti juga merupakan kemaksiatan di hadapan Allah.
Sahabat Qur’an, perlu kita sadari bahwa syaitan sangat menyukai hati yang dipenuhi prasangka buruk, karena itulah pintu gerbang menuju ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba). Ketika kita menduga buruk, kita akan terdorong untuk mencari-cari kesalahan (tajassus) untuk membenarkan dugaan kita, dan lingkaran setan ini tak akan pernah putus sampai ukhuwah benar-benar hancur.
Solusi: Tabayyun dan Husnudzon
Lantas, bagaimana cara kita membersihkan hati dari racun ini? Kuncinya ada pada dua kata: Husnudzon (berprasangka baik) dan Tabayyun (klarifikasi). Islam mengajarkan kita untuk mendahulukan prasangka baik kepada sesama mukmin. Umar bin Khattab pernah berkata, “Janganlah kamu menduga kalimat yang keluar dari saudaramu dengan keburukan, sementara kamu masih bisa menemukan celah kebaikan di dalamnya.”
Jika keraguan itu begitu kuat mengganggu hati, maka jangan dipendam dan jangan dibicarakan di belakang. Datangilah orang tersebut dengan adab yang santun, dan lakukanlah tabayyun. Bertanyalah langsung untuk mendapatkan kejelasan. Seringkali, konflik besar terjadi hanya karena miskomunikasi yang tidak pernah diklarifikasi. Dengan bertanya, kabut prasangka akan sirna oleh cahaya kebenaran.
Merawat Hati yang Bening
Mari Kita jadikan hati kita seperti cermin yang bening, bukan seperti cermin retak yang membiaskan bayangan buruk. Orang yang paling tenang hidupnya adalah orang yang paling bersih hatinya dari prasangka buruk kepada sesama. Ia tidur nyenyak karena tidak menyimpan dendam, dan ia bangun bahagia karena melihat dunia dengan kacamata kasih sayang.
Sahabat Qur’an, mari kita berlatih untuk menahan “hakim” di kepala kita agar tidak sembarangan mengetuk palu vonis. Biarlah niat seseorang menjadi urusan dia dengan Tuhannya, tugas kita hanyalah menghukum apa yang tampak dengan tetap menjaga prasangka baik. Semoga Allah karuniakan kita hati yang salim (selamat), yang memandang saudara seiman sebagai jalan menuju surga, bukan sebagai ancaman.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’anKepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh: Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat. Website: kunjungi halaman ini WhatsApp: +6281224003100

