Dalam setiap langkah hidup kita, terutama saat menunaikan ibadah dan perbuatan baik, ada sebuah ujian tersembunyi yang seringkali luput dari perhatian: godaan untuk mencari popularitas semu, ingin didengar dan diketahui orang lain. Inilah yang dalam khazanah Islam dikenal sebagai sum’ah. Sebuah penyakit hati yang jika dibiarkan dapat mengikis nilai ibadah kita di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

Sum’ah adalah kondisi di mana seseorang melakukan ibadah atau kebaikan bukan semata-mata karena Allah, melainkan agar perbuatannya diketahui, didengar, dan akhirnya dipuji oleh manusia. Ini adalah bentuk riya’ yang lebih spesifik, di mana niat murni terkontaminasi oleh keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari sesama. Kita mungkin merasa bangga saat orang lain mengetahui bahwa kita bersedekah, bahwa kita rajin shalat malam, atau bahwa kita adalah seorang penghafal Al-Qur’an. Kebanggaan semacam ini, jika muncul dari keinginan untuk “memamerkan” amal, adalah indikasi kuat adanya sum’ah dalam hati kita.

Mengapa Sum’ah Begitu Berbahaya?

Bahaya sum’ah tidak hanya terletak pada gugurnya pahala, tetapi juga pada dampak destruktifnya terhadap jiwa dan spiritualitas kita. Pertama, dan yang paling utama, ibadah yang dilandasi sum’ah tidak akan bernilai di sisi Allah. Allah subhanahu wa ta’ala Maha Suci dan hanya menerima amal yang murni dipersembahkan untuk-Nya. Ketika niat kita terbagi, antara mencari ridha Allah dan mencari pujian manusia, maka keikhlasan itu akan luntur. Al-Qur’an mengajarkan kita tentang pentingnya keikhlasan:

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa tujuan kita diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas, memurnikan agama hanya untuk-Nya. Tanpa keikhlasan, ibadah kita menjadi hampa, seperti debu yang beterbangan. Kita mungkin merasa telah berbuat banyak, namun di hadapan Sang Pencipta, amal tersebut tidak memiliki bobot.

Kedua, dampak sum’ah secara psikologis juga sangat merusak. Jika kita melakukan sesuatu agar dipuji, maka kita akan merasa kecewa, marah, atau sedih jika pujian yang diharapkan tidak datang. Hati kita menjadi terikat pada penilaian manusia, bukan pada penilaian Allah. Kita menjadi budak pujian, bukan hamba Allah. Ini akan menjauhkan kita dari ketenangan hati yang hakiki. Ketika hati terikat pada makhluk, ia akan senantiasa bergejolak, penuh harap dan cemas akan reaksi orang lain.

Ketiga, sum’ah membuat hati kita menjadi lalai. Fokus kita beralih dari merenungi keagungan Allah dan esensi ibadah itu sendiri, kepada bagaimana agar perbuatan kita terlihat baik di mata manusia. Akibatnya, kekhusyukan hilang, tadabbur berkurang, dan hubungan spiritual kita dengan Allah menjadi dangkal. Kita lupa bahwa ibadah adalah jembatan penghubung antara hamba dan Rabb-nya, sebuah momen intim yang seharusnya tidak diganggu oleh bisikan ingin diakui.

Cermin dari Kisah Tiga Golongan Pertama

Sebuah hadits masyhur menggambarkan betapa seriusnya bahaya sum’ah dan riya’. Rasulullah ﷺ bersabda tentang tiga golongan manusia pertama yang akan dihakimi pada Hari Kiamat. Salah satunya adalah seorang penghafal Al-Qur’an, seorang yang berilmu. Ia akan ditanya, “Apa yang telah kamu lakukan dengan ilmu dan hafalanmu?” Ia menjawab, “Aku membaca Al-Qur’an dan mengajarkannya karena-Mu, ya Allah.” Namun, Allah berfirman, “Engkau dusta. Engkau membaca agar dikatakan seorang qari’, dan telah dikatakan demikian. Maka seretlah dia ke neraka.” Demikian pula dengan orang yang bersedekah dan mujahid. Semuanya amal mereka ditolak karena niat yang tidak murni, karena mencari pujian dan popularitas.

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ

Sesungguhnya orang yang pertama kali diputuskan (perkaranya) pada Hari Kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid. Ia dibawa ke hadapan Allah, lalu Allah mengenalkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya dan ia pun mengetahuinya. Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?” Ia menjawab, “Aku berperang demi Engkau hingga aku mati syahid.” Allah berfirman, “Engkau dusta. Akan tetapi, engkau berperang agar dikatakan bahwa engkau pemberani, dan telah dikatakan demikian.” Kemudian diperintahkan agar ia diseret di atas mukanya hingga dilemparkan ke neraka. Dan seorang laki-laki yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an. Ia dibawa ke hadapan Allah, lalu Allah mengenalkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya dan ia pun mengetahuinya. Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?” Ia menjawab, “Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an demi Engkau.” Allah berfirman, “Engkau dusta. Akan tetapi, engkau menuntut ilmu agar dikatakan bahwa engkau adalah seorang alim, dan engkau membaca Al-Qur’an agar dikatakan bahwa engkau adalah seorang qari’, dan telah dikatakan demikian.” Kemudian diperintahkan agar ia diseret di atas mukanya hingga dilemparkan ke neraka. Dan seorang laki-laki yang dilapangkan rezekinya oleh Allah dan diberi segala macam harta. Ia dibawa ke hadapan Allah, lalu Allah mengenalkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya dan ia pun mengetahuinya. Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?” Ia menjawab, “Tidak ada satu pun jalan yang Engkau suka dibelanjakan harta padanya kecuali aku telah membelanjakannya demi Engkau.” Allah berfirman, “Engkau dusta. Akan tetapi, engkau melakukannya agar dikatakan bahwa engkau adalah seorang dermawan, dan telah dikatakan demikian.” Kemudian diperintahkan agar ia diseret di atas mukanya hingga dilemparkan ke neraka.

Hadits ini adalah pengingat yang sangat kuat bagi kita semua tentang betapa pentingnya menjaga niat. Amal yang besar sekalipun, jika ternoda oleh sum’ah atau riya’, bisa berujung pada kerugian besar di akhirat.

Solusi Qur’ani: Menguatkan Niat dan Fokus pada Esensi Ibadah

Lalu, bagaimana kita bisa menjaga diri dari godaan sum’ah ini? Solusinya adalah dengan kembali kepada inti ajaran Al-Qur’an dan Sunnah, yaitu menguatkan niat hanya untuk Allah, fokus pada esensi ibadah, dan menjauhi ketenaran yang merusak.

1. Menguatkan Niat Hanya untuk Allah

Ini adalah fondasi dari setiap amal. Sebelum memulai suatu perbuatan baik, luangkan waktu sejenak untuk menata hati. Ingatkan diri kita bahwa segala sesuatu yang kita lakukan adalah untuk mencari ridha Allah semata. Bukan untuk pujian manusia, bukan untuk keuntungan duniawi, apalagi untuk popularitas. Niat adalah ruh amal. Tanpa niat yang benar, amal itu tak bernyawa. Latih diri kita untuk terus-menerus bermuhasabah (introspeksi) terhadap niat setiap kali kita beramal. Jika ada sedikit saja bisikan ingin dipuji, segera luruskan kembali niat.

2. Fokus pada Esensi Ibadah

Setiap ibadah memiliki esensi dan hikmahnya sendiri. Shalat adalah wujud penghambaan dan komunikasi langsung dengan Allah. Sedekah adalah bentuk kepedulian sosial dan pembersihan harta. Membaca Al-Qur’an adalah upaya mendekatkan diri pada firman-Nya, mencari petunjuk, dan merasakan kedamaian. Ketika kita fokus pada esensi ini, kita akan lebih menghargai nilai batiniah ibadah daripada penampilan lahiriahnya di mata orang lain. Esensi inilah yang akan membawa kita pada ketenangan dan kekhusyukan sejati.

3. Menjauhi Ketenaran yang Merusak

Ketenaran dan popularitas bukanlah hal yang salah secara mutlak. Namun, ketenaran yang datang karena kita mencarinya, apalagi dengan niat agar dipuji, adalah hal yang berbahaya. Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat adalah orang-orang yang terkenal, tetapi mereka tidak pernah mencarinya. Ketenaran mereka datang sebagai efek samping dari keikhlasan dan perjuangan mereka di jalan Allah. Kita perlu memiliki kesadaran bahwa pujian manusia itu fana, sementara ridha Allah adalah abadi.

Salah satu cara menjauhi ketenaran yang merusak adalah dengan menjaga kerahasiaan amal semampu kita. Ketika kita bisa melakukan amal kebaikan secara sembunyi-sembunyi, itu adalah tanda keikhlasan yang tinggi. Sedekah yang tangan kanan memberi, tangan kiri tidak mengetahui, adalah salah satu contohnya. Tentu, ada amal yang tidak bisa disembunyikan, seperti shalat berjamaah atau dakwah. Dalam kasus ini, yang penting adalah menjaga hati agar tetap lurus, dan niat tetap murni karena Allah.

Pada akhirnya, perjuangan melawan sum’ah adalah perjuangan seumur hidup. Hati manusia itu berbolak-balik. Oleh karena itu, kita perlu senantiasa memohon pertolongan kepada Allah agar dikaruniai hati yang ikhlas dan istiqamah dalam beramal. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang selalu mampu memurnikan niat, sehingga setiap ibadah kita diterima dan menjadi bekal kebaikan di akhirat kelak.

—

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • Q.S. Al-Bayyinah: 5
  • H.R. Muslim No. 1905
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,