Ketika untaian ayat suci Al-Quran telah tuntas kita baca dari Al-Fatihah hingga An-Nas, seringkali kita merasakan sebuah kepuasan batin yang mendalam. Sebuah pencapaian spiritual yang membahagiakan. Namun, pernahkah terlintas dalam benak kita, apakah perjalanan bersama kalamullah itu berhenti sampai di sini? Ternyata, dalam khazanah ilmu Islam, terdapat petunjuk mulia dari Rasulullah ﷺ yang mengajarkan kita untuk tidak mengakhiri perjalanan ini begitu saja, melainkan segera kembali memulai. Inilah spirit abadi `Mengulang Bacaan Al-Quran Setelah Khatam: Mengikuti Jejak Nabi` yang akan kita selami.

Konsep spiritual ini bukan sekadar rutinitas tanpa makna, melainkan sebuah filosofi mendalam tentang keberlangsungan hubungan kita dengan Al-Quran. Ia adalah ajakan untuk menjadikan Al-Quran sebagai denyut nadi kehidupan, tak pernah terputus, selalu bergelora. Kita diajak untuk terus menerus menyelami samudra hikmah-Nya, tidak pernah merasa cukup dengan sekali layar. Praktik ini mengisyaratkan bahwa setiap akhir adalah awal yang baru, setiap tujuan yang tercapai adalah pijakan untuk melangkah lebih tinggi.

Mengapa Mengulang Bacaan Al-Quran Setelah Khatam Itu Penting?

Khatam Al-Quran adalah momen istimewa. Ia menandai rampungnya satu siklus ibadah yang agung. Namun, justru pada titik inilah, syariat Islam memberikan isyarat kuat untuk tidak berdiam diri. Ada keutamaan luar biasa bagi mereka yang setelah menuntaskan satu khataman, segera `mengulang bacaan Al-Quran setelah khatam` yang baru. Mengapa demikian?

Praktik ini mencerminkan semangat seorang muslim yang senantiasa haus akan petunjuk ilahi. Sebagaimana seorang musafir yang setelah mencapai satu persinggahan, ia segera mempersiapkan diri untuk perjalanan selanjutnya, demikian pula seorang pembaca Al-Quran. Ia tidak membiarkan hatinya kosong dari kalamullah bahkan untuk sesaat pun. Keberlanjutan tilawah ini menjaga hati tetap hidup, pikiran tetap jernih, dan jiwa tetap terhubung dengan Sang Pencipta. Ia adalah imunisasi spiritual yang tiada tara.

Makna Filosofis “Al-Hallu Al-Murtahil” dalam Tilawah

Rasulullah ﷺ menggambarkan keindahan praktik ini dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan selainnya. Beliau bersabda:

«أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ الْحَالُّ الْمُرْتَحِلُ الَّذِي يَضْرِبُ مِنْ أَوَّلِ الْقُرْآنِ إِلَى آخِرِهِ كُلَّمَا حَلَّ ارْتَحَلَ».

Artinya: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah ‘al-hallu al-murtahil’, yaitu orang yang membaca Al-Quran dari awal hingga akhir, setiap kali ia selesai ia memulai lagi.”

Kata “al-hallu al-murtahil” secara harfiah berarti “yang singgah kemudian berangkat lagi” atau “yang selesai kemudian memulai lagi”. Ini adalah metafora yang indah untuk menggambarkan seorang mukmin yang tak pernah lelah dalam ibadahnya. Ia menyelesaikan satu babak kehidupan spiritualnya, dan tanpa menunda, ia segera memulai babak baru. Ini adalah energi keberlanjutan, semangat tanpa henti dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Allah mencintai hamba-Nya yang senantiasa bergerak dalam kebaikan, tak mengenal batas, dan tak pernah berhenti belajar serta mengamalkan. Dengan senantiasa `mengulang bacaan Al-Quran setelah khatam`, kita menunjukkan kesungguhan dan kecintaan kita pada firman-Nya. Ini adalah bukti bahwa Al-Quran bukan sekadar “bacaan tuntas”, melainkan “teman hidup” yang selalu kita ajak berinteraksi.

Tata Cara Mengulang Bacaan Al-Quran Setelah Khatam: Mengikuti Jejak Nabi

Pertanyaan berikutnya, bagaimana praktik `mengulang bacaan Al-Quran setelah khatam: mengikuti jejak Nabi` ini dilakukan? Apakah ada tata cara khusus yang dicontohkan Rasulullah ﷺ? Ternyata ada. Imam Ad-Darimi meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Ibnu Abbas, dari Ubay bin Ka’b, bahwa Nabi ﷺ memiliki kebiasaan tertentu:

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا قَرَأَ ﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ﴾ افْتَتَحَ مِنَ الْحَمْدِ ثُمَّ قَرَأَ مِنَ الْبَقَرَةِ إِلَى: ﴿أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾، ثُمَّ دَعَا بِدُعَاءِ الْخَتْمَةِ ثُمَّ قَامَ.

Artinya: “Bahwasanya Nabi ﷺ apabila membaca ﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ﴾ (Surah An-Nas), beliau membuka dengan Al-Hamd (Al-Fatihah) kemudian membaca dari Al-Baqarah hingga ayat: ﴿أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾ (ayat 5), kemudian beliau berdoa dengan doa khatam, kemudian beliau bangkit.”

Dari riwayat ini, kita mendapatkan panduan praktis yang begitu indah. Setelah menyelesaikan Surah An-Nas, Nabi ﷺ tidak langsung menutup mushaf atau mengakhiri sesi tilawah begitu saja. Beliau segera memulai kembali dari awal, yaitu Surah Al-Fatihah, dilanjutkan dengan beberapa ayat pertama dari Surah Al-Baqarah (hingga ayat ke-5). Barulah setelah itu beliau memanjatkan doa khatam Al-Quran.

Praktik ini menunjukkan kekayaan makna. Dengan segera memulai kembali dari Al-Fatihah dan Al-Baqarah, seolah kita menyegel khataman yang baru selesai dengan fondasi baru untuk khataman berikutnya. Al-Fatihah adalah induk Al-Quran, pembuka segala kebaikan. Sementara ayat-ayat awal Al-Baqarah berbicara tentang petunjuk bagi orang-orang bertakwa, sebuah pijakan kokoh untuk memulai perjalanan baru bersama Al-Quran. Ini adalah cara elegan untuk menjaga spirit “al-hallu al-murtahil” tetap menyala dalam sanubari kita.

Mengabadikan Spirit Khatam yang Tak Terputus

Bagaimana kita bisa mengimplementasikan sunnah agung ini dalam kehidupan sehari-hari? Kunci utamanya adalah konsistensi dan niat yang tulus. Bukan hanya sekadar menuntaskan target, namun lebih kepada membangun kebiasaan dan kecintaan yang tak tergoyahkan pada Al-Quran. Berikut beberapa langkah praktis yang bisa kita coba:

  • Niatkan Kontinuitas: Setiap kali kita memulai tilawah, niatkan bahwa ini adalah bagian dari perjalanan tanpa henti bersama Al-Quran, bukan sekadar proyek yang ada akhirnya.
  • Jadikan Kebiasaan: Setelah menyelesaikan Surah An-Nas, biasakan untuk langsung membuka kembali Al-Fatihah dan melanjutkan hingga ayat kelima Surah Al-Baqarah. Ini akan menjadi semacam “jembatan” spiritual antara satu khataman ke khataman berikutnya.
  • Pahami Maknanya: Lebih dari sekadar membaca, coba renungkan makna dari ayat-ayat pembuka yang kita baca kembali. Ini akan menambah kedalaman spiritual dan motivasi untuk terus `mengulang bacaan Al-Quran setelah khatam` tanpa henti.
  • Berdoa Setelahnya: Ikuti sunnah Nabi dengan memanjatkan doa khatam setelah menyelesaikan siklus kecil pembuka yang baru. Doa adalah penguat dan penyempurna ibadah.

Menginternalisasi sunnah ini berarti menanamkan kesadaran bahwa Al-Quran adalah sumber cahaya yang tak pernah padam. Setiap kali kita merasa selesai, sesungguhnya itu adalah panggilan untuk kembali mengisi diri dengan cahaya-Nya. Ia adalah penawar bagi hati yang gundah, penuntun bagi jiwa yang mencari arah, dan penguat bagi iman yang ingin senantiasa tumbuh.

Sungguh, praktik `Mengulang Bacaan Al-Quran Setelah Khatam: Mengikuti Jejak Nabi` ini bukan hanya sekadar adab tilawah, melainkan sebuah metode pembentukan karakter muslim yang tangguh, istikamah, dan senantiasa terhubung dengan sumber kebenaran. Mari kita jadikan Al-Quran sebagai sahabat sejati yang tak pernah kita tinggalkan, bahkan ketika satu perjalanan telah usai, kita segera bersiap untuk perjalanan berikutnya.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba-Nya yang dicintai karena kesungguhan kita dalam membaca, memahami, dan mengamalkan firman-Nya. Jadikan setiap khataman sebagai inspirasi, dan setiap permulaan sebagai energi baru untuk terus berlayar dalam samudra Al-Quran yang tak bertepi.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • As-Suyuti, Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakr. Al-Itqan fi Ulumil Quran. Penerbit: Al-Hai’ah Al-Mishriyyah Al-‘Ammah lil Kitab, Cet. 1394 H/1974 M.
  • Hadits riwayat At-Tirmidzi dan Ad-Darimi, dengan redaksi yang termaktub dalam Kitab Al-Itqan fi Ulumil Quran oleh Imam As-Suyuti.
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,