Ada kalanya, kita membaca Al-Qur’an dan berhenti pada satu ayat, merasa sudah memahaminya, namun ternyata ada samudra hikmah yang lebih dalam tersembunyi di baliknya. Salah satunya adalah firman Allah yang agung tentang kemuliaan Al-Qur’an, yang memunculkan sebuah pertanyaan mendasar: siapakah Al-Muthahharun yang layak menyentuhnya?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia, menggambarkan betapa terjaganya Kalam-Nya di sumber asalnya.
إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ. فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ. لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (Q.S. Al-Waqi’ah: 77-79)
Banyak dari kita memahami ayat ini sebagai dalil larangan menyentuh mushaf fisik Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci dari hadas (memiliki wudhu). Pemahaman ini tentu benar dan merupakan bagian dari adab kita dalam memuliakan Al-Qur’an. Namun, mari kita selami sebuah penafsiran yang akan membawa hati kita terbang lebih tinggi, melihat keagungan Al-Qur’an dari perspektif langit.
Penafsiran Langit oleh Para Salaf
Imam Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam dalam kitabnya yang monumental, Fadha’il al-Qur’an, meriwayatkan sebuah tafsir yang begitu menyentuh dari seorang Tabi’in agung, Mujahid bin Jabr, murid terkasih dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu.
عَنْ مُجَاهِدٍ، فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ﴾ قَالَ: «الْمَلَائِكَةُ»
Dari Mujahid, mengenai firman Allah Ta’ala: (Tidak ada yang menyentuhnya selain Al-Muthahharun), beliau berkata: “(Mereka adalah) para Malaikat.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadha’il al-Qur’an)
Subhanallah. Penafsiran ini membuka cakrawala baru. Menurut Mujahid, “Al-Kitab al-Maknun” (kitab yang terpelihara) adalah Lauh Mahfuzh di sisi Allah. Maka, jawaban dari siapakah Al-Muthahharun dalam konteks ini bukanlah manusia yang berwudhu, melainkan para malaikat yang suci dari dosa dan hawa nafsu. Merekalah makhluk-makhluk suci yang diizinkan Allah untuk menyentuh Kitab Induk tersebut.
Implikasi Spiritual yang Menggetarkan Jiwa
Lalu, apa artinya ini bagi kita? Tafsir ini bukan untuk menafikan pentingnya bersuci saat memegang mushaf. Justru, ia mengajak kita merenung lebih dalam:
- Kemuliaan Sumber Al-Qur’an: Hati kita diajak untuk meyakini betapa agungnya sumber Al-Qur’an. Ia bukanlah karangan manusia, melainkan Kalam Ilahi yang terjaga di tempat tertinggi, hanya disentuh oleh makhluk-makhluk termulia dan tersuci.
- Kesucian Batin untuk Meraih Makna: Jika untuk menyentuh sumber fisiknya di langit saja dibutuhkan kesucian para malaikat, maka betapa lebih butuhnya kita akan kesucian batin untuk bisa ‘menyentuh’ makna, hidayah, dan cahaya Al-Qur’an. Inilah renungan terpentingnya. Pertanyaan siapakah Al-Muthahharun menjadi cermin bagi kondisi hati kita.
- Adab Lahir dan Batin: Kita menyatukan dua adab mulia. Adab lahiriah dengan menjaga wudhu saat menyentuh mushafnya, dan adab batiniah dengan terus berusaha membersihkan hati dari kesombongan, riya, hasad, dan segala penyakit jiwa agar pantas menerima pancaran ilmunya.
Maka, saat kita berwudhu sebelum membuka lembaran Al-Qur’an, niatkanlah bahwa kita tidak hanya sedang menyucikan anggota tubuh. Lebih dari itu, kita sedang memantaskan diri, meniru adab para malaikat di langit, memohon agar hati kita turut disucikan sehingga layak untuk menerima pesan-pesan cinta dari Rabb semesta alam.
Kesimpulan: Menuju Hati yang Suci
Penafsiran Mujahid ini bukanlah sekadar informasi, melainkan sebuah undangan untuk transformasi. Ia mengingatkan kita bahwa interaksi dengan Al-Qur’an adalah perjalanan penyucian diri. Kita mungkin tidak akan pernah mencapai tingkat kesucian malaikat, namun Allah melihat kesungguhan kita dalam prosesnya.
Mari kita tanyakan pada diri sendiri, sudahkah hati ini kita sucikan untuk menyambut Al-Qur’an? Jawaban atas pertanyaan siapakah Al-Muthahharun sejatinya adalah sebuah cita-cita: menjadi hamba-hamba yang disucikan hatinya oleh Allah, agar pantas menjadi wadah bagi cahaya Al-Qur’an yang mulia.
Daftar Referensi
- Al-Qur’an, Surah Al-Waqi’ah: 77-79.
- Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam, Fadha’il al-Qur’an. Riwayat dari Mujahid.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

