Pahala Ganda Bagi yang Bersusah Payah
Perasaan minder dan malu sering kali menjadi batu sandungan. Merumuskan motivasi menghafal alquran bagi yang belum lancar membaca adalah langkah krusial agar tidak ada seorang pun muslim yang merasa terpinggirkan dari rahmat Al-Quran. Banyak orang dewasa yang mengurungkan niatnya menghafal karena tajwidnya masih berantakan dan lidahnya masih terbata-bata mengeja huruf hijaiyah. Padahal, Allah tidak pernah memandang hina mereka yang sedang berproses.
Islam adalah agama yang sangat menghargai proses (effort) melebihi hasil akhir. Kesulitan Anda dalam mengeja setiap huruf justru dinilai sebagai ibadah tersendiri oleh Sang Maha Pengasih. Jangan pernah membandingkan kelancaran Anda dengan qari internasional. Bandingkanlah diri Anda hari ini dengan diri Anda kemarin. Jika hari ini Anda berhasil melafalkan huruf “Kha” lebih baik dari kemarin, maka Anda sudah meraih kemenangan besar.
Kabar Gembira Langsung dari Lisan Nabi
Untuk menghibur dan memotivasi umatnya yang merasa tertinggal, Rasulullah Muhammad memberikan sebuah kabar gembira yang sangat luar biasa. Kabar ini menegaskan bahwa tidak ada kesia-siaan dalam belajar Al-Quran, sekasar apapun suara kita dan selambat apapun lidah kita bergerak merangkai lafaz Arab tersebut.
وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
“Dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa kesulitan dalam membacanya, maka baginya dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Satu pahala diberikan atas bacaannya itu sendiri, dan satu pahala lagi diberikan sebagai kompensasi atas kesabaran dan keletihannya dalam melawan rasa sulit. Hadits ini seharusnya melunturkan segala keraguan. Jika Allah saja memberikan apresiasi ganda atas kekurangan kita, lantas mengapa kita harus merasa malu kepada manusia?
Memperbaiki Fondasi dengan Tahsin
Meskipun mendapat dua pahala, bukan berarti kita boleh berpuas diri dengan bacaan yang salah. Langkah paling bijak bagi yang belum lancar adalah fokus memperbaiki bacaan (tahsin) terlebih dahulu sebelum menargetkan hafalan yang banyak (ziyadah). Jangan memaksakan diri menghafal 30 juz jika makharijul huruf masih tertukar, karena menghafal dengan bacaan yang salah akan sangat sulit diperbaiki di kemudian hari.
Buanglah rasa gengsi Anda. Tidak ada ruginya mengulang kembali pelajaran dasar dari Iqra’ atau metode dasar lainnya. Anda dapat memulai langkah perbaikan kualitas bacaan ini dengan mengklik Executive Tahfizh pendaftaran tahfizh Al-Quran. Di sana, para pengajar yang sabar dan kompeten akan membimbing lisan Anda hingga fasih tanpa ada unsur menghakimi.
Keteguhan Hati Menghadapi Cemoohan
Kadang kala, ujian tidak hanya datang dari kesulitan teknis membaca, tetapi juga dari pandangan meremehkan orang-orang di sekitar. Mungkin ada yang mencibir, “Sudah tua kok ngajinya masih mengeja”. Jadikan cibiran tersebut sebagai cambuk motivasi pembakar semangat, bukan sebagai racun yang mematikan langkah. Para sahabat Nabi yang masuk Islam di usia tua juga memulai proses belajar dari nol di bawah bimbingan Rasulullah.
Keteguhan hati (istiqamah) dalam kondisi terbata-bata ini akan membentuk karakter mental baja. Ketika kelak lidah Anda sudah fasih dan hafalan Anda sudah lancar, Anda akan menjadi pribadi yang sangat tawadhu karena Anda pernah merasakan betapa pahit dan beratnya perjuangan di garis awal.
Penutup
Tetaplah bersemangat walau lisan masih kelu mengeja firman-Nya. Ya Allah, fasihkanlah lisan kami dan lapangkanlah dada kami dalam menuntut ilmu-Mu.
Daftar Pustaka:
Al-Nawawi, Abu Zakariya Yahya. At-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an. Di-tahqiq oleh Muhammad al-Hajjar. Beirut: Dar Ibn Hazm, 1996.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

