Keistimewaan Momen Khatam Al-Quran

Ada sebuah momen hening yang sarat makna, saat lisan seorang hamba sampai pada Surat An-Nas setelah menempuh perjalanan panjang dari Al-Fatihah. Di titik itulah, sebuah tirai rahmat seolah tersingkap, membasahi jiwa dengan ketenangan yang tak terperi. Momen ini bukan sekadar penanda selesainya sebuah bacaan, melainkan sebuah perayaan spiritual yang dihadiri oleh berkah. Memahami keutamaan menghadiri khatam Al-Quran adalah menyelami rahasia mengapa para salafus shalih begitu merindukan saat-saat berharga ini.

Mereka tidak memandangnya sebagai rutinitas, tetapi sebagai sebuah Pesta Ilahi. Sebuah kesempatan emas untuk menjadi saksi turunnya kasih sayang Allah yang tak terbatas. Para ulama terdahulu bahkan sengaja mengundang sahabat dan kerabat untuk bersama-sama menyaksikan detik-detik penuh berkah tersebut.

Tradisi Salaf: Mengundang Saksi Turunnya Rahmat

Bayangkan para ulama besar dari generasi Tabi’in, seperti Mujahid dan ‘Abdah bin Abi Lubabah, berkumpul dengan tekun untuk saling menyimak dan memperbaiki bacaan Al-Quran mereka (‘ardhul mashahif). Ketika perjalanan mereka mendekati akhir, mereka tidak menyimpannya untuk diri sendiri. Mereka justru mengutus seseorang untuk memanggil sahabat-sahabat lainnya agar turut hadir.

Mengapa demikian? Kisah yang dituturkan oleh Al-Hakam bin ‘Utaibah ini memberikan jawaban yang menyentuh hati:

إِنَّا كُنَّا نَعْرِضُ الْمَصَاحِفَ فَلَمَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْتِمَ أَحْبَبْنَا أَنْ تَشْهَدُوا، لِأَنَّهُ كَانَ يُقَالُ: «إِذَا خُتِمَ الْقُرْآنُ نَزَلَتِ الرَّحْمَةُ عِنْدَ خَاتِمَتِهِ، أَوْ حَضَرَتِ الرَّحْمَةُ عِنْدَ خَاتِمَتِهِ»

“Sesungguhnya kami tadi sedang menyetorkan hafalan (memeriksa mushaf), dan ketika kami hendak mengkhatamkannya, kami ingin kalian ikut menyaksikannya. Karena dahulu dikatakan: ‘Apabila Al-Quran dikhatamkan, maka rahmat akan turun di penghujungnya, atau rahmat akan hadir di penghujungnya’.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhailul Qur’an)

Subhanallah, mereka ingin berbagi momen sakral itu. Mereka ingin lebih banyak jiwa yang terlimpahi curahan rahmat Allah. Ini adalah bukti betapa besar keutamaan menghadiri khatam Al-Quran di mata para pendahulu kita yang mulia.

Bagaikan Menyaksikan Ghanimah dan Kemenangan

Keistimewaan momen khatam Al-Quran tidak hanya sebatas turunnya rahmat. Ia diibaratkan dengan salah satu kegembiraan terbesar di dunia, yakni saat para pejuang di jalan Allah menerima hasil jerih payah mereka. Sebuah atsar yang diriwayatkan dari Abu Qilabah melukiskannya dengan perumpamaan yang luar biasa:

مَنْ شَهِدَ خَاتِمَةَ الْقُرْآنِ كَانَ كَمَنْ شَهِدَ الْغَنَائِمَ حِينَ تُقَسَّمُ، وَمَنْ شَهِدَ فَاتِحَةَ الْقُرْآنِ كَانَ كَمَنْ شَهِدَ فَتْحًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Barangsiapa menyaksikan penutupan (khatam) Al-Quran, maka ia seperti orang yang menyaksikan pembagian ghanimah (harta rampasan perang). Dan barangsiapa menyaksikan pembukaan (awal membaca) Al-Quran, maka ia seperti orang yang menyaksikan sebuah kemenangan (penaklukan) di jalan Allah.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhailul Qur’an)

Ghanimah adalah simbol kebahagiaan, keberkahan, dan buah dari perjuangan. Analogi ini mengajarkan kita bahwa hadir dalam majelis khatam Quran adalah seperti hadir untuk menerima “bonus” spiritual yang melimpah dari Allah SWT. Ini adalah momen “panen raya” pahala dan ampunan.

Kerinduan Ibnu ‘Abbas, Sang Ahli Tafsir

Jika kita masih meragukan betapa istimewanya momen ini, cukuplah kita meneladani semangat seorang sahabat mulia, Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sang ahli tafsir umat ini. Beliau tidak akan membiarkan momen khataman terlewat begitu saja.

Dikisahkan bahwa di Madinah, ada seorang qari yang rutin membacakan Al-Quran dari awal hingga akhir di hadapan para sahabatnya. Ibnu ‘Abbas, karena kesibukannya, tidak selalu bisa mengikuti dari awal. Namun, beliau memiliki cara khusus agar tidak ketinggalan momen puncaknya.

“…maka Ibnu ‘Abbas menempatkan para pengawas (mata-mata) padanya. Apabila orang itu mendekati waktu khatam, Ibnu ‘Abbas pun datang dan menyaksikannya.”

Tindakan Ibnu ‘Abbas ini adalah pelajaran berharga. Beliau mengerahkan usaha—menempatkan “intelijen” kebaikan—hanya untuk memastikan bisa hadir di saat-saat terakhir pembacaan Al-Quran. Ini menunjukkan betapa dalam pemahaman beliau akan keutamaan menghadiri khatam Al-Quran. Bagi beliau, itu adalah sebuah peristiwa besar yang layak untuk diperjuangkan kehadirannya.

Jadikan Khatam Quran Momen Spesial Kita

Kisah-kisah di atas bukanlah sekadar nostalgia, melainkan undangan bagi jiwa kita. Undangan untuk kembali memuliakan Al-Quran, tidak hanya dengan membacanya, tetapi juga dengan merayakan setiap pencapaian dalam perjalanan bersamanya. Khatam Al-Quran adalah gerbang turunnya rahmat, momen pembagian “ghanimah” pahala, dan sebuah acara yang bahkan diburu oleh para sahabat terbaik.

Mari kita hidupkan kembali sunnah yang indah ini. Hadiri majelis-majelis khataman, atau ciptakan momen khataman yang khidmat di rumah bersama keluarga. Rasakan sendiri bagaimana rahmat Allah menyelimuti, bagaimana hati menjadi lapang, dan bagaimana semangat untuk kembali memulai lembaran baru dengan Al-Fatihah kembali bergelora.

Perjalanan dari Al-Fatihah hingga An-Nas adalah perjalanan spiritual yang membentuk karakter dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Jika Anda merindukan untuk memulai atau menyempurnakan perjalanan mulia ini, merasakan manisnya setiap ayat hingga tiba di momen khatam yang penuh berkah, Qur’an Learning Center Yogyakarta siap menjadi sahabat perjalanan Anda.

Daftar Referensi

  • Al-Qasim bin Sallam, Abu ‘Ubaid. Fadhailul Qur’an. (Damaskus: Dar Ibn Katsir, 1995).

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,