Saat Qur’an & Penguasa Bertentangan: Kau Pilih Siapa?
Ada kalanya dalam hidup, kita berdiri di persimpangan paling sunyi. Bukan antara dua jalan yang ramai, melainkan antara panggilan nurani yang bersumber dari wahyu dengan tarikan duniawi yang memikat dan berkuasa. Inilah sebuah momen krusial, sebuah ujian tersembunyi yang menentukan esensi sejati dari keimanan kita. Sebuah pertanyaan fundamental diajukan: di manakah loyalitas tertinggi kita berlabuh? Hal ini tergambar indah dalam sebuah dialog abadi yang sarat makna.
Sebuah riwayat berharga dari Kitab Fadhailul Qur’an karya Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam merekam percakapan menyentuh antara dua sahabat mulia, Salman Al-Farisi dan Zaid bin Shuhan. Salman, dengan kearifannya yang dalam, melontarkan sebuah pertanyaan yang menembus zaman kepada sahabatnya:
كَيْفَ أَنْتَ إِذَا اقْتَتَلَ الْقُرْآنُ وَالسُّلْطَانُ؟
“Bagaimana sikapmu jika Al-Qur’an dan Sulthan (penguasa/kekuasaan) saling bertentangan?”
Pertanyaan ini bukanlah sekadar hipotesis politik, melainkan sebuah cermin bagi jiwa setiap insan beriman. Zaid bin Shuhan, tanpa ragu, memberikan jawaban yang menjadi pedoman:
أَكُونُ مَعَ الْقُرْآنِ
“Aku akan bersama Al-Qur’an.”
Mendengar ketegasan itu, Salman memujinya dengan kalimat yang luar biasa: “Engkau, kalau begitu, adalah engkau (yang sejati), wahai putra Ummu Zaid.”
Makna di Balik Pertentangan Al-Qur’an dan Sulthan
Kata “Sulthan” dalam dialog ini memiliki cakupan yang sangat luas. Ia tidak hanya merujuk pada penguasa politik. Sulthan adalah simbol dari segala bentuk kekuasaan, pengaruh, dan otoritas duniawi yang bisa menekan kita. Ia bisa berupa atasan di tempat kerja, tren sosial yang menyesatkan, tekanan budaya, bahkan bisikan hawa nafsu yang berkuasa di dalam diri kita sendiri.
Maka, pertanyaan Salman sejatinya adalah: “Bagaimana sikapmu ketika tuntutan pekerjaanmu bertabrakan dengan prinsip kejujuran dalam Al-Qur’an? Bagaimana pendirianmu saat gaya hidup populer mengikis adab dan rasa malu yang diajarkan Al-Qur’an?” Inilah momen ujian yang sebenarnya, ketika Al-Qur’an dan penguasa bertentangan dalam panggung kehidupan kita sehari-hari.
Jawaban yang Menentukan Jati Diri
Jawaban Zaid, “Aku akan bersama Al-Qur’an,” adalah sebuah deklarasi identitas. Itu adalah penegasan bahwa kompas hidupnya telah terkalibrasi dengan wahyu Ilahi. Ia tidak mengatakan, “Aku akan lihat situasinya,” atau “Aku akan mencari jalan tengah.” Jawabannya lugas, tegas, dan tanpa syarat. Di sinilah letak kemuliaannya.
Ketika kita berani memilih untuk “bersama Al-Qur’an”, kita sedang memilih untuk menjadi versi terbaik dari diri kita. Pujian Salman, “Engkau adalah engkau,” mengisyaratkan hal ini. Artinya, dengan memilih Al-Qur’an, engkau menjadi dirimu yang otentik, seorang hamba Allah yang sejati, bukan salinan dari kehendak orang lain atau budak dari hawa nafsu.
Sebaliknya, saat kita mengorbankan prinsip Al-Qur’an demi menyenangkan “sulthan” duniawi, kita sejatinya sedang kehilangan jati diri. Kita menjadi pribadi yang rapuh, yang nilainya ditentukan oleh validasi eksternal, bukan oleh keridhaan Sang Pencipta.
Di Mana Kita Berdiri Hari Ini?
Renungkanlah sejenak, berapa banyak “sulthan” kecil dalam hidup kita yang seringkali kita menangkan di atas Al-Qur’an? Mungkin itu adalah rasa takut kehilangan jabatan, keinginan untuk diterima dalam pergaulan, atau ambisi untuk meraih keuntungan sesaat. Setiap kali kita dihadapkan pada pilihan ini, ingatlah dialog agung antara Salman dan Zaid.
Situasi ketika Al-Qur’an dan penguasa bertentangan akan selalu ada dalam setiap zaman. Pilihan kita dalam situasi itulah yang akan ditulis sebagai warisan kita di hadapan Allah kelak. Apakah kita akan menjadi seperti Zaid bin Shuhan, yang dengan bangga menyatakan keberpihakannya pada Kalamullah? Ataukah kita akan larut dalam arus kekuasaan sesaat dan kehilangan diri kita yang sejati?
Untuk dapat berdiri tegar bersama Al-Qur’an, kita tidak bisa hanya menjadikannya sebagai pajangan. Kita perlu memasukkannya ke dalam relung hati, membasahi lisan dengannya, dan membiarkan cahayanya membentuk cara kita berpikir dan bertindak. Ia harus menjadi sahabat terdekat yang nasihatnya kita dahulukan di atas segala nasihat lainnya. Inilah esensi dari perjalanan menjadi seorang penghafal dan pengamal Al-Qur’an.
Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk selalu memilih bersama Al-Qur’an, sehingga kita pun layak disebut sebagai diri kita yang sejati di hadapan-Nya. Aamiin.
Perjalanan untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat setia dan kompas utama tentu membutuhkan bimbingan dan lingkungan yang mendukung. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami siap membersamai Anda dalam perjalanan mulia tersebut, menapaki setiap ayatnya untuk menemukan jati diri kita yang paling hakiki.
Daftar Referensi
- Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam. Fadhailul Qur’an. (Dar Ibnu Katsir).
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100


