Saat Malu Belajar Ngaji Datang: Kita Tidak Sendiri, Kok

Pernah nggak, Sahabat Qur’an, kita duduk di ruang rapat, presentasi kita lancar pakai bahasa asing, angka-angka di layar kita kuasai, dan tepuk tangan terdengar meriah. Rasanya semua pencapaian dunia ada dalam genggaman. Tapi… saat malam tiba, dalam hening, ada satu sudut hati yang terasa kosong. Sebuah kerinduan yang tak terjelaskan. Dan jujur, salah satu tantangan terbesarnya adalah mengatasi malu belajar ngaji di usia yang tak lagi muda ini.

Rasanya wajar banget kalau perasaan itu muncul. Kita merasa sudah terlambat. Gengsi. Malu kalau sampai ketahuan teman kantor atau kolega bisnis. Perasaan ini nyata, dan percayalah, kita tidak sendirian merasakannya.

Kenapa Rasa Malu Itu Begitu Kuat?

Kadang kita bertanya, kenapa ya? Kenapa untuk urusan dunia kita bisa begitu percaya diri, tapi untuk urusan akhirat, untuk kembali ke Kitabullah, rasanya langkah ini berat sekali?

Coba kita bayangkan hati kita ini seperti cermin. Cermin yang sudah lama sekali tidak kita lap. Bukan karena cerminnya rusak, tapi karena ada lapisan debu tebal yang menutupinya. Debu itu bernama gengsi, kesibukan, dan perasaan “sudah tidak pantas lagi”.

Pikiran kita mulai berkelana. Membayangkan harus duduk di TPA kampung, belajar mengeja Alif, Ba, Ta bersama anak-anak kecil yang bacaannya sudah lancar jaya. Terbayang tatapan orang, bisik-bisik yang mungkin tidak ada, tapi terasa begitu menusuk di pikiran kita. Gemuruh di dada ini membuat kita mundur lagi. Lagi, dan lagi.

Menemukan “Kendaraan” yang Tepat untuk Hati Kita

Sahabat Qur’an, setiap perjalanan butuh kendaraan yang pas. Ada yang nyaman naik bus ramai-ramai, ada yang butuh ketenangan mobil pribadi. Begitu pula perjalanan kita kembali pada Al-Qur’an. Tidak ada satu cara yang benar untuk semua orang. Kuncinya adalah menemukan mana yang paling membuat hati kita nyaman.

Jalan Ramai-Ramai: Berkah Sekaligus Ujian Sabar

Belajar di kelas umum atau TPA masjid tentu punya banyak berkah. Semangat kebersamaannya terasa, biayanya mungkin lebih terjangkau. Namun, di sinilah ujian mental kita dimulai. Saat melihat teman semeja yang jauh lebih muda tapi sudah sampai juz sekian, sementara kita masih terbata-bata di Iqra’ jilid awal. Perasaan minder itu bisa menjadi tembok besar yang menghalangi kita.

Bukan salah tempatnya, tapi mungkin “kendaraan” ini belum cocok untuk kondisi hati kita saat ini.

Ruang Aman untuk Tumbuh: Privat atau Komunitas Selevel

Sekarang, bayangkan sebuah skenario lain. Kita masuk ke sebuah ruangan yang isinya adalah orang-orang seperti kita. Para profesional, para orang tua, para pembelajar dewasa yang punya kerinduan yang sama. Tidak ada tatapan menghakimi. Tidak ada yang membanding-bandingkan.

Yang ada hanyalah senyum tulus dan kalimat, “Saya juga baru mulai, yuk kita bareng-bareng.” Inilah kekuatan sebuah komunitas yang sefrekuensi. Di sini, guru atau ustadznya pun paham betul psikologi orang dewasa. Materinya disesuaikan, pendekatannya lebih personal, dan fokusnya adalah membangun kembali kepercayaan diri kita. Ini adalah sebuah safe space. Sebuah ruang aman untuk hati kita bertumbuh tanpa rasa takut.

Langkah Praktis Mengatasi Malu Belajar Ngaji

Jadi, bagaimana kita bisa merobohkan tembok gengsi ini? Yuk, kita cobaurai pelan-pelan.

Pertama, akui dan terima. Sadari bahwa perasaan malu itu ada, dan itu manusiawi. Jangan dilawan, tapi dipeluk. Katakan pada diri sendiri, “Tidak apa-apa merasa seperti ini. Yang penting, aku mau berubah.”

Kedua, luruskan kembali niat kita. Perjalanan ini bukan tentang siapa yang paling cepat atau paling fasih. Ini adalah tentang kita. Tentang hubungan personal kita dengan Sang Pencipta. Ini adalah upaya kita untuk menjawab panggilan-Nya yang pertama kali turun ke bumi.

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)

Perintah pertama bukanlah “Salatlah” atau “Puasalah”, tapi “Bacalah!”. Allah tahu, membaca adalah kunci dari segalanya. Dan panggilan ini berlaku untuk kita semua, di usia berapa pun.

Ketiga, cari “sahabat seperjuangan”. Inilah kuncinya. Carilah komunitas, kelas privat, atau kelompok kecil di mana kita bisa merasa menjadi bagian darinya. Lingkungan yang mendukung adalah separuh dari keberhasilan. Ketika kita tahu ada orang lain yang merasakan hal yang sama, beban di pundak terasa jauh lebih ringan.

Yang Terlambat Bukan Usia, Tapi Keberanian Memulai

Sahabat, pada akhirnya, musuh terbesar kita bukanlah usia atau keterbatasan waktu. Musuh terbesar kita adalah selaput tipis bernama gengsi yang kita biarkan menebal hingga menjadi tembok baja.

Tidak ada kata terlambat dalam kamus rahmat Allah. Pintu-Nya selalu terbuka. Yang dibutuhkan hanyalah satu hal: keberanian kita untuk mengambil langkah pertama. Langkah untuk mencari, bertanya, dan memulai. Semoga perjalanan kita dalam mengatasi malu belajar ngaji ini senantiasa dimudahkan dan diberkahi oleh-Nya. Yuk, kita mulai. Bismillah.


Daftar Referensi

  • Al-Qur’an, Surah Al-‘Alaq: 1-5

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat untuk mencetak para Hafizh dan Hafizhah dalam program unggulan Executive Tahfizh.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri