Rihlah Demi Ayat: Belajar Totalitas dari Para Salaf
Seberapa jauh kita rela melangkah demi sebuah pemahaman? Ketika satu ayat Al-Qur’an terasa buntu di benak, ke manakah hati dan kaki ini akan kita bawa? Di tengah kemudahan zaman yang menyajikan ilmu dalam sekali sentuh, ada baiknya kita menengok kembali jejak langkah para pendahulu kita, para salafus shalih, yang menjadikan perjalanan sebagai saksi cinta mereka pada Kalamullah. Kisah mereka adalah cermin, yang memantulkan betapa agungnya nilai sebuah ilmu di mata para kekasih Allah.
Mereka, para sahabat dan generasi setelahnya, tidak memandang ilmu sebagai sesuatu yang murah. Ilmu adalah mutiara yang harus diselami, permata yang harus dicari meski ke ujung dunia. Inilah esensi sejati dari perjuangan ulama mencari ilmu Al-Qur’an, sebuah perjuangan yang lahir dari keimanan yang kokoh dan kerinduan untuk memahami firman-Nya secara lurus dan benar.
Abu Darda’: Melintasi Jazirah Demi Pemahaman Satu Ayat
Bayangkan, ada satu ayat yang mengusik tidur kita, maknanya belum sepenuhnya terungkap. Apa yang akan kita lakukan? Mungkin kita akan membuka belasan tafsir digital atau menonton puluhan video kajian. Namun, mari kita dengarkan sumpah seorang sahabat mulia, Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, yang meriwayatkan sebuah tekad agung:
لَوْ أَعْيَتْنِي آيَةٌ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عز وجل، فَلَمْ أَجِدْ أَحَدًا يَفْتَحُهَا عَلَيَّ إِلَّا رَجُلًا بِبُرْكِ الْغِمَادِ لَرَحَلْتُ إِلَيْهِ
“Seandainya aku dibuat lelah (tak mampu memahami) oleh satu ayat dari Kitabullah ‘Azza wa Jalla, lalu aku tidak menemukan seorang pun yang dapat menjelaskannya kepadaku kecuali seorang lelaki di Burk al-Ghimad, niscaya aku akan melakukan perjalanan (rihlah) kepadanya.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubayd dalam Fadhail Al-Qur’an)
Burk al-Ghimad, dijelaskan dalam riwayat tersebut, adalah sebuah tempat yang sangat jauh di negeri Yaman. Perjalanan ke sana dari Madinah pada masa itu bukanlah perjalanan singkat. Butuh waktu berbulan-bulan menunggangi unta, melintasi gurun yang ganas. Namun, semua kesulitan itu terasa ringan bagi Abu Darda’ jika ganjarannya adalah terbukanya pemahaman terhadap satu ayat Al-Qur’an. Ini adalah manifestasi cinta, sebuah bukti bahwa Al-Qur’an adalah segalanya bagi mereka.
Ibnu Mas’ud: Mengejar Keaslian Sanad Tertinggi
Lain lagi dengan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang digelari sebagai salah satu pakar Al-Qur’an. Beliau adalah orang yang mendengar langsung puluhan ayat dari lisan mulia Rasulullah ﷺ. Namun, kerendahan hati dan semangatnya untuk mendapatkan yang paling otentik tak pernah padam. Simaklah ikrar beliau:
لَوْ أَعْلَمُ أَنَّ أَحَدًا تُبَلِّغُنِيهِ الْإِبِلُ أَحْدَثَ عَهْدًا بِالْعَرْضَةِ الْأَخِيرَةِ مِنِّي لَأَتَيْتُهُ، أَوْ لَتَكَلَّفْتُ أَنْ آتِيَهُ
“Seandainya aku mengetahui ada seseorang yang dapat dijangkau oleh unta, yang pengetahuannya tentang Al-‘Ardhah Al-Akhirah (penyetoran Al-Qur’an terakhir Nabi kepada Jibril) lebih baru daripadaku, niscaya aku akan mendatanginya, atau aku akan memaksakan diri untuk mendatanginya.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubayd dalam Fadhail Al-Qur’an)
Al-‘Ardhah Al-Akhirah adalah momen sakral ketika Rasulullah ﷺ menyetorkan hafalan Al-Qur’an untuk terakhir kalinya kepada Malaikat Jibril sebelum beliau wafat. Ibnu Mas’ud ingin memastikan bahwa setiap huruf dan harakat yang ia miliki adalah versi termutakhir, yang paling shahih. Ini adalah sebuah standar keilmuan yang luar biasa. Perjuangan ulama mencari ilmu Al-Qur’an tidak hanya soal pemahaman, tetapi juga tentang menjaga kemurnian dan sanad (mata rantai) ilmu hingga kepada sumbernya yang paling utama.
Cermin Bagi Kita: Sudahkah Kita Berjuang?
Kisah-kisah ini bukan sekadar memorabilia sejarah. Ia adalah tamparan lembut bagi jiwa-jiwa kita. Jika Abu Darda’ rela menempuh perjalanan ratusan kilometer demi satu ayat, sudahkah kita rela berjalan beberapa meter ke rak buku untuk membuka mushaf dan tafsirnya? Jika Ibnu Mas’ud rela bersusah payah demi memvalidasi ilmunya, sudahkah kita bersungguh-sungguh mencari guru yang kompeten untuk membenarkan bacaan dan hafalan kita?
Kemudahan teknologi seringkali membuat kita lalai akan nilai sebuah perjuangan. Kita lupa bahwa keberkahan ilmu seringkali tersemat pada tetesan keringat, pada waktu yang dikorbankan, dan pada adab kita terhadap ilmu itu sendiri. Semangat para salaf adalah bukti bahwa perjuangan ulama mencari ilmu Al-Qur’an adalah ruh dari interaksi kita dengan kitab suci ini.
Maka, mari kita tanyakan pada diri sendiri. Sudahkah kita memiliki semangat “rihlah” itu di dalam hati? Rihlah tidak harus selalu berarti perjalanan fisik. Ia bisa berarti perjuangan melawan rasa malas, pengorbanan waktu istirahat untuk muraja’ah, atau kesabaran dalam belajar bersama seorang guru. Inilah esensi dari meneladani perjuangan ulama mencari ilmu Al-Qur’an di zaman modern.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita secercah semangat mereka, menjadikan setiap usaha kita untuk mendekati Al-Qur’an sebagai sebuah perjalanan suci yang kelak akan kita banggakan di hadapan-Nya. Karena pada akhirnya, perjalanan terindah adalah perjalanan menuju pemahaman firman-Nya.
Mulailah perjalanan spiritual Anda bersama Al-Qur’an. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami berkomitmen untuk membimbing Anda dengan metode yang sistematis dan guru yang berdedikasi, meneruskan semangat para ulama dalam menjaga dan memahami Kalamullah.
Daftar Referensi
- Abu ‘Ubayd Al-Qasim bin Sallam. Fadha’il al-Qur’an. (Dar Ibn Katsir).
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

