Dalam samudra luas ayat-ayat suci, tersimpan permata-permata kebijaksanaan yang menunggu untuk diselami. Seringkali, kita melantunkan firman Allah tanpa menyadari betapa dalam resonansinya bisa menyentuh jiwa, mengubah pandangan, dan membentuk karakter. Padahal, setiap kata adalah undangan untuk berdialog, untuk merespons dengan sepenuh hati dan pikiran.

Salah satu tradisi mulia yang telah dicontohkan para salafush shalih, yang kadang luput dari perhatian kita, adalah praktik merespons ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca, terutama saat berdiri dalam shalat. Sebuah riwayat dari Abu Ubaid mengisahkan tentang keindahan interaksi ini:

قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنِ السُّدِّيِّ، عَنْ عَبْدِ خَيْرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ عَلِيًّا، قَرَأَ فِي الصَّلَاةِ {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى} [الأعلى: ١] فَقَالَ: «سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى»

Abu Ubaid berkata, Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari As-Suddi, dari Abd Khair, ia berkata: “Aku mendengar Ali membaca dalam shalat {Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi} [Al-A’la: 1] lalu ia mengucapkan: ‘Subhana Rabbiyal A’la (Maha Suci Tuhanku Yang Mahatinggi).'”

Kisah dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib ini bukan sekadar anekdot, melainkan sebuah teladan berharga tentang bagaimana seorang mukmin seyogyanya berinteraksi dengan Kalamullah. Ketika ayat yang memerintahkan untuk mensucikan nama Allah Yang Mahatinggi dibacakan, beliau tidak hanya berhenti pada bacaan lisan, tetapi segera meresponsnya dengan ucapan tasbih, “Subhana Rabbiyal A’la.” Ini adalah manifestasi nyata dari kesadaran hati dan penghayatan makna. Di sinilah terkuak Hikmah Menjawab Ayat Subhanallah Rabbiyal A’la dalam Shalat.

Praktik mulia ini mengajarkan kita bahwa shalat bukan hanya deretan gerakan dan bacaan hafalan, melainkan sebuah momen puncak komunikasi dengan Sang Pencipta. Setiap ayat yang kita lantunkan adalah pesan langsung dari-Nya. Merespons ayat, seperti yang dilakukan Sayyidina Ali, adalah bentuk pengakuan, persaksian, dan penyerahan diri yang tulus. Ini menunjukkan bahwa hati dan pikiran turut aktif mengikuti setiap untaian firman Ilahi.

Menyelami Kedalaman Tadabbur dalam Shalat

Hikmah Menjawab Ayat Subhanallah Rabbiyal A’la dalam Shalat membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang konsep tadabbur. Tadabbur bukan hanya tentang merenungkan makna di luar shalat, tetapi juga mengintegrasikannya ke dalam inti ibadah kita. Ketika kita membaca ayat tentang surga, hati kita mungkin merindukannya; saat membaca tentang neraka, rasa takut akan membayangi. Dan ketika kita menemukan ayat yang mengajak untuk mengagungkan Allah, respons spontan dengan tasbih adalah bukti kekaguman dan ketaatan.

Rasulullah ﷺ sendiri mencontohkan interaksi yang dinamis ini saat shalat malam. Hudzaifah meriwayatkan:

عَنْ حُذَيْفَةَ، قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ ثُمَّ مَضَى فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَتَيْنِ ثُمَّ مَضَى فَقُلْتُ يُصَلِّي بِهَا فِي رَكْعَةٍ فَمَضَى ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا يَقْرَأُ مُتَرَسِّلاً إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ

Dari Hudzaifah, ia berkata: “Aku pernah shalat bersama Nabi ﷺ pada suatu malam. Beliau memulai dengan surat Al-Baqarah. Aku berkata (dalam hati): ‘Beliau akan rukuk pada ayat keseratus.’ Kemudian beliau terus melanjutkan. Aku berkata (lagi): ‘Beliau akan rukuk pada ayat kedua ratus.’ Kemudian beliau terus melanjutkan. Aku berkata (lagi): ‘Beliau akan menyelesaikan shalat dengan surat ini dalam satu rakaat.’ Kemudian beliau terus melanjutkan. Beliau kemudian memulai surat An-Nisa’ lalu membacanya, lalu memulai Ali ‘Imran lalu membacanya. Beliau membaca dengan perlahan. Apabila melewati ayat yang di dalamnya terdapat tasbih, beliau bertasbih. Apabila melewati ayat yang di dalamnya terdapat permohonan, beliau memohon. Apabila melewati ayat yang di dalamnya terdapat permintaan perlindungan, beliau meminta perlindungan.”

Hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa interaksi dengan Al-Qur’an dalam shalat bukanlah hal yang asing bagi Nabi ﷺ. Ini adalah bagian integral dari kekhusyukan dan penghayatan. Respons verbal terhadap ayat-ayat yang dibaca adalah jembatan yang menghubungkan hati dengan makna, menjadikan shalat lebih hidup dan bermakna.

Mengubah Shalat Menjadi Dialog Spiritual

Ketika kita mengaplikasikan Hikmah Menjawab Ayat Subhanallah Rabbiyal A’la dalam Shalat, kita secara otomatis meningkatkan kualitas ibadah kita. Shalat yang sebelumnya mungkin terasa sebagai rutinitas belaka, kini bertransformasi menjadi dialog yang mendalam. Kita tidak lagi sekadar membaca, tetapi benar-benar “berbicara” dengan Allah, merespons setiap seruan, dan meresapi setiap ajakan-Nya.

Melalui praktik ini, kita melatih hati untuk senantiasa peka terhadap kehadiran Allah. Setiap kali kita membaca ayat yang mengagungkan kebesaran-Nya, ucapan “Subhana Rabbiyal A’la” menjadi afirmasi dari pengakuan kita akan kemuliaan-Nya. Ini bukan hanya doa, melainkan juga deklarasi iman yang diperbaharui dalam setiap rakaat. Ini adalah cara praktis untuk mengundang kekhusyukan, menjauhkan diri dari kelalaian, dan menjadikan setiap shalat sebagai pengalaman spiritual yang mendalam.

Praktik ini juga berfungsi sebagai pengingat akan keagungan Allah yang tak terbatas. Saat kita mensucikan-Nya, kita menegaskan bahwa tiada satu pun yang setara dengan-Nya, tiada satu pun yang layak disembah kecuali Dia. Ini adalah penguatan tauhid, fondasi utama agama kita, yang secara konsisten diulang dan ditegaskan dalam setiap sujud dan setiap tasbih.

Maka, marilah kita jadikan momen-momen membaca Al-Qur’an dalam shalat sebagai kesempatan untuk berinteraksi lebih intim dengan firman Allah. Bukan hanya surat Al-A’la, tetapi setiap ayat yang mampu membangkitkan respons dalam hati kita, mari kita jawab dengan lisan dan jiwa. Dengan demikian, kita tidak hanya menunaikan kewajiban, tetapi juga mengisi setiap rakaat dengan cahaya dan keberkahan, merasakan kehadiran Allah yang begitu dekat. Ini adalah esensi dari Hikmah Menjawab Ayat Subhanallah Rabbiyal A’la dalam Shalat, sebuah langkah menuju shalat yang lebih sempurna dan hati yang lebih terpaut pada keagungan Ilahi.

Jika Anda merindukan shalat yang demikian, shalat yang hidup, khusyuk, dan penuh makna, maka inilah saatnya untuk memperdalam interaksi Anda dengan Al-Qur’an. Program Executive Tahfizh hadir sebagai jembatan untuk Anda menyelami samudra ilmu Al-Qur’an, tidak hanya menghafal, tetapi juga memahami dan menghayati setiap ayatnya, demi shalat yang lebih berkualitas dan kehidupan yang lebih berkah.

Daftar Referensi

  • Kitab Fadha’ilul Qur’an karya Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam, Bab Ma Yastahibbu Liqari’il Qur’an min Al-Jawab ‘inda Al-Ayah wa Asy-Syahadati Laha, halaman 153. (via Al-Maktabah Asy-Syamilah: sumber di Perpustakaan Islam Shamela)
  • Shahih Muslim, Kitab Shalat Musafirin wa Qashriha, Hadits Nomor 772 (versi syarah an-Nawawi: Bab Istihbab Tahsin Ash-Shaut bi Al-Qur’an).

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,