Proses turunnya Al-Qur’an adalah sebuah mukjizat yang tak henti mengagumkan, berlangsung secara bertahap selama 23 tahun masa kenabian. Setiap ayat, setiap surah, diturunkan dengan hikmah dan relevansinya sendiri, menjawab kebutuhan zaman dan membimbing umat. Namun, pernahkah kita bertanya, ayat atau surah manakah yang menjadi penutup wahyu ilahi ini? Pertanyaan ini membawa kita pada sebuah kajian yang menarik dalam ulumul Quran: Mengetahui Ayat Terakhir yang Diturunkan.
Mencari jawaban atas pertanyaan ini bukan sekadar keingintahuan sejarah, melainkan upaya untuk memahami puncak ajaran dan penekanan terakhir dari risalah kenabian. Para ulama salaf telah mencurahkan perhatian besar terhadap masalah ini, dan dari kajian mereka, terhimpunlah beragam riwayat yang menguak detail-detail menakjubkan.
Mengurai Ragam Pendapat Para Ulama dalam Mengetahui Ayat Terakhir yang Diturunkan
Kajian mengenai akhir wahyu Al-Qur’an memunculkan beberapa pandangan dari para sahabat dan tabiin, yang masing-masing didasarkan pada riwayat sahih. Perbedaan ini menunjukkan betapa detailnya para ulama terdahulu dalam meneliti setiap aspek Al-Qur’an, dan betapa pentingnya bagi kita untuk Mengetahui Ayat Terakhir yang Diturunkan ini.
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Al-Bara’ bin Azib, bahwa ayat terakhir yang turun adalah firman Allah dalam Surah An-Nisa, tentang kalalah:
يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلالَةِ
“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah.” (Q.S. An-Nisa: 176)
Sementara itu, surah terakhir yang turun adalah Surah Bara’ah (At-Tawbah). Riwayat ini memberikan fokus pada hukum waris, yang menjadi bagian penting dalam tatanan masyarakat Islam.
Namun, riwayat lain dari Ibnu Abbas yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari menyebutkan bahwa ayat riba adalah ayat terakhir yang diturunkan. Riwayat serupa juga dicatat oleh Al-Baihaqi dari Umar bin Khattab, yang merujuk pada firman Allah dalam Surah Al-Baqarah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut).” (Q.S. Al-Baqarah: 278)
Di hadapan banyak sahabat, Umar bin Khattab pun pernah berkhutbah dan menegaskan bahwa di antara ayat-ayat terakhir yang turun adalah ayat riba. Ini menunjukkan betapa pentingnya pengharaman riba dalam Islam, sebagai penutup peringatan terhadap praktik-praktik ekonomi yang merusak.
Pandangan lain yang tak kalah masyhur datang dari Ibnu Abbas dan Said bin Jubair, yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Ibnu Mardawih. Mereka menyatakan bahwa ayat terakhir yang diturunkan adalah ayat yang mengingatkan kita tentang hari kembali kepada Allah:
وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi.” (Q.S. Al-Baqarah: 281)
Menurut sebagian riwayat, Nabi Muhammad ﷺ wafat 81 hari setelah turunnya ayat ini. Bahkan, menurut Said bin Jubair, beliau hidup hanya sembilan malam setelah ayat ini diturunkan. Ayat ini seolah menjadi pesan terakhir yang amat krusial, mengingatkan setiap jiwa akan pertanggungjawaban di hadapan Ilahi.
Ada pula riwayat dari Ibnu Syihab yang menyebutkan bahwa ayat riba dan ayat tentang utang (ayat ad-dayn) adalah bagian dari Al-Qur’an yang terakhir kali turun, dekat dengan wafatnya Nabi. Ayat utang yang dimaksud adalah Q.S. Al-Baqarah: 282. Semua riwayat ini menggarisbawahi bahwa Mengetahui Ayat Terakhir yang Diturunkan adalah gerbang memahami penekanan final dalam risalah Islam.
Hikmah di Balik Perbedaan Riwayat dalam Mengetahui Ayat Terakhir yang Diturunkan
Melihat beragam riwayat ini, mungkin muncul pertanyaan: bagaimana kita menyelaraskan berbagai pandangan tersebut? Imam As-Suyuthi dalam karyanya “Al-Itqan fi Ulumil Quran” dan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam “Fathul Bari” memberikan penjelasan yang cemerlang. Mereka menyatukan riwayat-riwayat ini dengan menyatakan bahwa tidak ada kontradiksi di antara pandangan-pandangan tersebut.
Sangat mungkin bahwa ayat riba, ayat “Wa ittaqu yawman turja’una fihi ilallah”, dan ayat utang (ad-dayn) diturunkan secara bersamaan dalam satu rangkaian, sebagaimana urutannya dalam mushaf. Setiap perawi mungkin menyoroti salah satu dari ayat-ayat ini sebagai “yang terakhir” berdasarkan pengetahuannya atau konteks spesifik yang ia saksikan, dan itu adalah benar adanya. Misalnya, ayat kalalah mungkin merupakan ayat terakhir yang berkaitan dengan hukum waris, sedangkan ayat riba adalah yang terakhir dalam konteks transaksi ekonomi.
Penyelarasan ini memperkaya pemahaman kita. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan begitu sempurna, mencakup segala aspek kehidupan. Pesan-pesan terakhir ini adalah puncak dari bimbingan Allah, menyentuh inti keimanan (takut kepada Allah), muamalah (larangan riba dan pentingnya pencatatan utang), dan akidah (pertanggungjawaban di hari kiamat). Sungguh, dalam upaya kita Mengetahui Ayat Terakhir yang Diturunkan, kita diajak menyelami lautan hikmah yang tiada bertepi.
Pelajaran Berharga dari Penutup Wahyu Ilahi
Lebih dari sekadar informasi kronologis, Mengetahui Ayat Terakhir yang Diturunkan menyimpan pelajaran mendalam yang harus kita resapi dalam kehidupan. Ayat-ayat penutup ini bukan sembarang ayat; ia adalah “final statement” dari Allah untuk umat manusia, ringkasan dan penekanan atas nilai-nilai fundamental yang harus senantiasa kita pegang teguh.
1. Peringatan Akhir Zaman dan Pertanggungjawaban
Ayat seperti Q.S. Al-Baqarah: 281, yang mengingatkan kita tentang hari kembali kepada Allah, adalah pengingat paling kuat akan kematian dan kehidupan setelahnya. Ini bukan sekadar ancaman, melainkan motivasi untuk selalu mawas diri, beramal saleh, dan mempersiapkan bekal terbaik. Setiap detik yang kita jalani, setiap keputusan yang kita ambil, akan diperhitungkan di hadapan-Nya. Apakah kita sudah benar-benar hidup dalam kesadaran ini?
2. Fondasi Ekonomi yang Adil dan Berkah
Ayat-ayat riba (Q.S. Al-Baqarah: 278) dan utang (Q.S. Al-Baqarah: 282) menunjukkan komitmen Islam terhadap keadilan ekonomi. Larangan riba adalah bentuk perlindungan terhadap penindasan dan eksploitasi, mendorong sistem ekonomi yang berbasis tolong-menolong dan keadilan. Sementara itu, perintah untuk mencatat utang adalah pelajaran tentang profesionalisme, kejujuran, dan transparansi dalam bermuamalah. Ini adalah etika bermuamalah yang menggaransi ketenangan hati dan keberkahan harta.
3. Pentingnya Hukum Waris dan Keadilan Sosial
Ayat kalalah (Q.S. An-Nisa: 176), sebagai salah satu yang disebut terakhir, menunjukkan detail dan kompleksitas hukum waris dalam Islam. Islam adalah agama yang sempurna, mengatur pembagian harta secara adil dan proporsional, mencegah konflik dan menjaga silaturahim antar keluarga. Mempelajari dan menerapkan hukum waris dengan benar adalah bentuk ketaatan dan keadilan sosial.
Semua ini adalah puncak bimbingan ilahi. Ayat-ayat terakhir ini seolah menjadi kunci penutup, menyempurnakan syariat dan memberikan penekanan pada aspek-aspek krusial dalam kehidupan seorang muslim. Memahami dan mengamalkan pesan-pesan ini akan membentuk pribadi yang bertakwa, berintegritas, dan bermanfaat bagi semesta. Menggali setiap makna dalam Al-Qur’an, termasuk Mengetahui Ayat Terakhir yang Diturunkan, adalah perjalanan spiritual yang akan mengubah pola pikir dan tindakan kita secara fundamental.
Melalui perjalanan ini, kita diajak untuk tidak hanya menghafal, tetapi juga merenungi setiap firman-Nya, menjadikannya lentera penerang jalan hidup. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan petunjuk hidup yang sempurna dari awal hingga akhir wahyu-Nya.
Mari jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam setiap langkah kita. Untuk mendalami ilmu Al-Qur’an secara lebih terstruktur dan komprehensif, kami mengundang Anda untuk bergabung bersama kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta. Temukan bimbingan terbaik untuk menghafal, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam program Executive Tahfizh kami.
Daftar Referensi
- Al-Qur’an Surat An-Nisa: 176
- Al-Qur’an Surat Al-Baqarah: 278
- Al-Qur’an Surat Al-Baqarah: 281
- Kitab: Al-Itqan fi Ulumil Quran, oleh Abdurrahman bin Abi Bakar, Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H)
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

