Pernahkah Anda menyaksikan seorang qari’—dengan suara merdunya melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an—tiba-tiba ambruk, tak sadarkan diri? Pemandangan itu mungkin membuat sebagian kita berdecak kagum, menganggapnya sebagai puncak kekhusyukan. Namun, sebagian lain mungkin justru mengerutkan dahi, mempertanyakan keabsahan ekspresi keimanan semacam itu. Lalu, bagaimana sebenarnya Islam memandang fenomena ini?
Riwayat dari Abu Hazim mengisahkan bahwa Ibnu Umar pernah mendapati seorang pria Irak tergeletak tak berdaya di tengah kerumunan. Orang-orang menjelaskan bahwa pria itu pingsan setiap kali Al-Qur’an dibacakan atau nama Allah disebut. Ibnu Umar, dengan nada tegas, berkata, ‘Demi Allah, kami juga takut kepada Allah, tetapi kami tidak sampai pingsan.’
Di sisi lain, Ikrimah meriwayatkan bahwa Asma’ pernah ditanya apakah ada di antara para Salaf yang pingsan karena takut kepada Allah. Asma’ menjawab, ‘Tidak, tetapi mereka menangis.’
Dua riwayat ini menghadirkan dua perspektif berbeda. Ibnu Umar seolah menyiratkan bahwa pingsan bukanlah manifestasi yang tepat dari rasa takut kepada Allah. Sementara Asma’ menekankan bahwa tangisan adalah luapan emosi yang lebih lazim di kalangan Salaf.
Lantas, bagaimana kita menyikapi perbedaan ini? Apakah pingsan saat mendengar Al-Qur’an adalah tanda kemunafikan atau justru puncak keimanan? Ataukah ada penjelasan lain yang lebih bijak?
Mari kita telaah lebih dalam. Rasa takut kepada Allah (khauf) adalah salah satu fondasi penting dalam agama Islam. Rasa takut ini mendorong kita untuk taat kepada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Namun, rasa takut ini bukanlah ketakutan yang irasional atau histeris. Ia adalah rasa takut yang lahir dari kesadaran akan keagungan Allah, keadilan-Nya, dan konsekuensi dari perbuatan kita.
Tangisan adalah ekspresi emosi yang wajar. Air mata bisa menjadi luapan penyesalan atas dosa-dosa yang telah diperbuat, ungkapan kerinduan kepada Allah, atau manifestasi rasa syukur atas nikmat-Nya. Air mata adalah bahasa hati. Ia bisa berbicara lebih lantang daripada kata-kata. Mengingatkan diri akan dosa.
Namun, bagaimana dengan pingsan? Apakah pingsan bisa dianggap sebagai ekspresi yang wajar dari rasa takut kepada Allah? Di sinilah kita perlu berhati-hati. Pingsan bisa disebabkan oleh berbagai faktor, baik fisik maupun psikologis. Kondisi medis tertentu, kelelahan ekstrem, atau tekanan emosional yang berlebihan bisa memicu pingsan. Oleh karena itu, kita tidak bisa serta-merta mengklaim bahwa setiap orang yang pingsan saat mendengar Al-Qur’an pasti sedang berada di puncak kekhusyukan.
Bisa jadi, pingsan itu adalah respons tubuh terhadap stimulus yang kuat. Mungkin orang tersebut memiliki trauma masa lalu yang terkait dengan Al-Qur’an, atau mungkin ia sedang mengalami tekanan batin yang sangat berat. Dalam kasus seperti ini, pingsan bukanlah tanda keimanan, melainkan sinyal bahwa ia membutuhkan bantuan medis atau psikologis. Kesadaran adalah kunci.
Kita perlu mengedepankan akal sehat dan kebijaksanaan dalam menilai fenomena ini. Jangan terburu-buru menghakimi atau mengkultuskan seseorang hanya karena ia pingsan saat mendengar Al-Qur’an. Sebaliknya, berikanlah dukungan dan bantuan yang dibutuhkan. Ingatlah bahwa Islam mengajarkan kita untuk bersikap seimbang dalam segala hal. Tidak berlebihan, tidak pula meremehkan. Mengakui ada batasan.
Lalu, bagaimana seharusnya kita mengekspresikan rasa takut kepada Allah? Al-Qur’an memberikan petunjuk yang jelas:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (QS. Al-Anfal: 2)
Ayat ini menjelaskan bahwa ciri orang beriman adalah hatinya bergetar ketika nama Allah disebut dan imannya bertambah ketika Al-Qur’an dibacakan. Getaran hati ini bukanlah getaran fisik yang menyebabkan pingsan, melainkan getaran spiritual yang memicu kesadaran, penyesalan, dan keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sebuah perubahan.
Jadi, alih-alih fokus pada fenomena pingsan, mari kita fokus pada upaya untuk menghidupkan hati kita dengan Al-Qur’an. Bacalah Al-Qur’an dengan tadabbur, renungkan maknanya, dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Biarkan Al-Qur’an menyentuh hati kita, mengubah perilaku kita, dan membawa kita lebih dekat kepada Allah. Itu lebih utama.
Rasa takut kepada Allah adalah anugerah. Ia adalah kompas yang menuntun kita menuju jalan yang lurus. Jangan biarkan rasa takut ini berubah menjadi sesuatu yang berlebihan atau tidak rasional. Kendalikan emosi. Jadikan ia sebagai motivasi untuk menjadi hamba yang lebih baik. Sadarilah kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan kita. Insya Allah, kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Daftar Referensi
- Fadha’il Al-Qur’an, Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi Executive Tahfizh:
Website: executivetahfizh.com
WA: +6281224003100


