Dalam riuh rendahnya kehidupan modern, kita seringkali terperangkap dalam pusaran tanpa henti mengejar apa yang disebut “kekayaan.” Seolah-olah ada perlombaan tak berkesudahan untuk memiliki lebih banyak, mencapai lebih tinggi, dan merasakan kenikmatan yang tak terhingga. Fenomena ini, jika tidak disadari dan dikelola dengan bijak, dapat menyeret jiwa kita ke dalam lembah kegelisahan yang mendalam. Pertanyaannya kemudian, bagaimana kita bisa menemukan titik keseimbangan, meraih kedamaian, dan sungguh-sungguh mengendalikan nafsu harta dunia dengan zikir dan taubat?
Hakekat Ketamakan Manusia Terhadap Harta
Fitrah manusia memang diciptakan dengan kecenderungan untuk mencintai harta. Bukanlah suatu kesalahan untuk mencari rezeki, berdagang, atau berusaha mencapai kemapanan ekonomi. Namun, yang perlu menjadi perhatian serius adalah ketika kecintaan itu berubah menjadi obsesi, ketamakan yang tak terkendali, hingga melupakan tujuan hakiki penciptaan diri. Dalam banyak riwayat, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kita akan tabiat ini.
Kita belajar dari sebuah hakikat yang disampaikan Rasulullah ﷺ, sebagaimana yang diwahyukan kepadanya:
إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: «إِنَّا أَنْزَلْنَا الْمَالَ لِإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَلَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ لَأَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ الثَّانِي، وَلَوْ كَانَ لَهُ الثَّانِي لَأَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ الثَّالِثُ، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ. وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ»
Artinya: “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Sungguh Kami telah menurunkan harta untuk menegakkan salat dan menunaikan zakat. Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia akan suka bila memiliki lembah emas yang kedua. Dan seandainya ia memiliki lembah emas yang kedua, niscaya ia akan suka bila memiliki lembah emas yang ketiga. Dan tidak akan memenuhi rongga perut anak Adam kecuali tanah (kematian). Dan Allah menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat’.”
Hadits ini dengan gamblang menjelaskan bahwa harta sejatinya diturunkan sebagai sarana untuk beribadah, bukan sebagai tujuan akhir. Manusia, dengan fitrahnya, cenderung untuk selalu merasa kurang. Satu lembah emas, dua lembah, bahkan tiga lembah pun takkan pernah cukup. Hanya kematianlah yang akan mengakhiri dahaga duniawi ini. Inilah esensi penting dalam upaya mengendalikan nafsu harta dunia dengan zikir dan taubat.
Menyelami Kedalaman Nafsu Harta Dunia
Ketamakan seringkali berakar pada kekhawatiran yang mendalam akan masa depan, rasa tidak aman, atau bahkan perbandingan sosial yang tiada habisnya. Kita melihat orang lain memiliki ini dan itu, lalu timbul keinginan untuk menyamai atau bahkan melebihi. Siklus ini terus berputar, menciptakan ilusi bahwa kebahagiaan terletak pada akumulasi materi. Padahal, seringkali yang terjadi justru sebaliknya: semakin banyak yang kita miliki, semakin besar pula beban dan kecemasan yang menyertai.
Melupakan tujuan utama penciptaan kita di dunia adalah pangkal dari segala ketidakpuasan. Allah SWT menciptakan kita bukan untuk berakumulasi harta, melainkan untuk beribadah dan menjadi khalifah di muka bumi ini. Ketika orientasi hidup bergeser, dari mencari keridhaan Allah menjadi mencari keridhaan dunia, maka di situlah letak kekosongan spiritual dimulai. Kegagalan mengendalikan nafsu harta dunia dengan zikir dan taubat akan membawa pada kegelisahan yang tiada akhir.
Peran Zikir Sebagai Penawar Gelisah
Zikir, atau mengingat Allah, adalah terapi jiwa yang paling mujarab. Ketika lisan dan hati kita senantiasa basah dengan mengingat-Nya, jiwa akan merasakan ketenangan yang luar biasa. Zikir mengingatkan kita bahwa Allah adalah Maha Pemberi Rezeki, Maha Pengatur segala urusan. Dengan zikir, kita mengikis anggapan bahwa kita harus bersandar pada kekuatan kita sendiri untuk meraih segala sesuatu. Kita menyadari bahwa rezeki telah ditetapkan, dan usaha kita adalah bagian dari ibadah, bukan penentu mutlak.
Melalui zikir, kita diajak untuk melihat segala nikmat yang ada, betapapun kecilnya, sebagai anugerah dari Allah. Rasa syukur yang tumbuh dari zikir akan menumbuhkan qanaah, yaitu rasa cukup dan puas dengan apa yang Allah berikan. Inilah fondasi utama untuk mengendalikan nafsu harta dunia dengan zikir dan taubat.
Taubat: Gerbang Kembali Menuju Fitrah
Tidak ada manusia yang luput dari salah dan dosa, termasuk dalam urusan harta. Mungkin kita pernah lalai menunaikan hak fakir miskin, mencari harta dengan cara yang tidak halal, atau terlalu mencintai dunia hingga melupakan akhirat. Pintu taubat selalu terbuka lebar. Taubat adalah pengakuan tulus atas kesalahan, penyesalan mendalam, dan janji untuk tidak mengulangi. Ia adalah gerbang untuk kembali menuju fitrah suci kita sebagai hamba Allah.
Ketika kita bertaubat, Allah berjanji akan mengampuni dosa-dosa. Hadits di atas secara eksplisit menyatakan: “وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ” (Dan Allah menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat). Ini adalah kabar gembira yang membangkitkan harapan. Dengan taubat, hati kita dibersihkan, jiwa kita diringankan, dan pandangan kita terhadap dunia kembali jernih. Taubat menjadi elemen krusial dalam upaya kita untuk mengendalikan nafsu harta dunia dengan zikir dan taubat secara menyeluruh.
Implementasi Praktis dalam Kehidupan Sehari-hari
Menerapkan prinsip qanaah, zikir, dan taubat dalam kehidupan modern bukanlah hal yang mustahil. Dimulai dari kesadaran bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari jumlah materi, melainkan dari ketenangan hati dan kedekatan dengan Sang Pencipta. Langkah praktisnya bisa beragam:
- Perbanyak Bersyukur: Mulailah setiap hari dengan merenungkan nikmat-nikmat kecil yang seringkali terlewatkan. Udara segar, makanan di meja, kesehatan, keluarga—semua adalah anugerah tak ternilai.
- Penuhi Hak Harta: Tunaikan zakat, sedekah, dan infak secara rutin. Dengan memberi, kita membersihkan harta dan jiwa dari ketamakan, sekaligus berbagi kebahagiaan dengan sesama.
- Prioritaskan Akhirat: Ingatkan diri bahwa dunia ini hanyalah persinggahan. Fokuslah pada investasi akhirat melalui amal saleh, ilmu yang bermanfaat, dan pendidikan Al-Qur’an.
- Dalami Al-Qur’an: Membaca, memahami, dan menghafal Al-Qur’an adalah salah satu bentuk zikir terbaik. Al-Qur’an adalah petunjuk hidup yang sempurna, membimbing kita pada kebenaran dan menjauhkan dari jerat nafsu dunia.
- Istighfar Tiada Henti: Biasakan lisan untuk beristighfar, memohon ampunan Allah, baik di saat lapang maupun sempit. Ini akan menjaga hati tetap bersih dan mengingatkan kita akan kebergantungan kita pada-Nya.
Dengan mempraktikkan hal-hal ini, kita akan perlahan-lahan merasakan perubahan dalam diri. Nafsu harta dunia yang tadinya menggebu-gebu akan mulai mereda, digantikan oleh rasa cukup, ketenangan, dan kebahagiaan yang berasal dari dalam jiwa. Inilah jalan sejati untuk mengendalikan nafsu harta dunia dengan zikir dan taubat, menuju kehidupan yang lebih bermakna dan berlimpah berkah.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Hadits yang diriwayatkan Abu Waqid Al-Laithi dalam Musnad Ahmad No. 21976 (mengandung redaksi “إِنَّا أَنْزَلْنَا الْمَالَ لِإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ” dan “وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ. وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ”).
- Hadits tentang lembah emas (dengan variasi redaksi) yang juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik dan Ubay bin Ka’ab, serta oleh Tirmidzi dari Ubay bin Ka’ab. Redaksi yang saya gunakan adalah gabungan makna dari hadits-hadits yang relevan.
