Sahabat Qur’an yang semoga rezekinya selalu diberkahi Allah. Mari kita bicara dari hati ke hati. Pernah tidak, saat kita baru saja gajian atau mendapatkan keuntungan bisnis yang lumayan, tiba-tiba ada perasaan “berat” yang menggelayut di tangan? Saat melihat kotak amal masjid lewat, atau ada teman yang membutuhkan pinjaman darurat, rasanya tangan ini kaku sekali untuk merogoh saku.
Ada bisikan halus yang masuk ke telinga: “Jangan dikasih banyak-banyak, nanti uangmu habis. Kan kamu capek kerjanya, masa orang lain yang menikmati?”
Wajar kok kalau perasaan itu muncul. Kita ini manusia yang secara naluri memang mencintai harta. Rasanya “eman-eman” kalau uang yang kita kumpulkan susah payah harus keluar begitu saja. Tapi hati-hati, Sahabat. Jika perasaan “sayang harta” ini berubah menjadi ketakutan berlebihan untuk berbagi, maka kita sedang dililit oleh rantai besi bernama Bakhil (Kikir).
Bukan Hemat, Tapi Penjara Jiwa
Banyak orang salah kaprah. Mereka pikir bakhil itu sama dengan hemat. Padahal bedanya jauh sekali. Hemat itu mengatur pengeluaran agar tidak boros, sedangkan bakhil itu menahan hak orang lain dan hak diri sendiri karena takut miskin.
Intinya begini, orang yang kikir itu sebenarnya sedang menyiksa dirinya sendiri. Bayangkan kita sedang menahan napas. Kita ingin menghirup oksigen sebanyak-banyaknya (mengumpulkan harta), tapi kita menolak untuk mengembuskannya (bersedekah). Apa yang terjadi? Dada sesak. Muka membiru. Jantung berdegup kencang.
Begitulah kondisi batin orang yang pelit. Hidupnya tidak pernah tenang. Dia punya uang, tapi tidak bisa menikmatinya. Dia kaya angka di rekening, tapi miskin kebahagiaan di hati. Hartanya bukan melayaninya, tapi justru dia yang menjadi budak penjaga harta.
Rezeki yang Terasa Sempit dan Kering
Sahabat, sadar tidak? Orang yang pelit itu biasanya auranya “kering”. Orang-orang di sekitarnya enggan mendekat. Bukan karena dia jahat secara fisik, tapi karena getaran hatinya yang menolak berbagi itu terasa sampai ke orang lain.
Dampaknya ngeri sekali. Di dunia, dia dibenci manusia. Di langit, dia jauh dari rahmat Allah. Bahkan rezekinya pun ikut menjauh.
Logikanya sederhana. Harta itu ibarat air di dalam sumur. Semakin sering ditimba (disedekahkan), maka mata airnya akan semakin deras mengalirkan air baru yang jernih. Tapi jika sumur itu ditutup rapat, airnya akan diam, membusuk, berlumut, dan akhirnya sumber airnya mati. Bakhil memutus aliran keberkahan itu.
Kunci Surga Bukan Harta, Tapi Kerelaan
Lalu, bagaimana cara melepaskan borgol kikir ini? Caranya adalah dengan “memaksa” logika kita untuk tunduk pada logika Allah. Kita sering berpikir, kalau 10 dikurangi 1 tinggal 9. Tapi matematika Allah beda: 10 dikurangi 1 (sedekah) hasilnya bisa jadi 19, 700, atau bahkan tak terhingga.
Allah memberikan standar yang tinggi untuk sebuah kebaikan yang sempurna. Kita tidak akan pernah merasakan manisnya iman dan lezatnya surga sampai kita berani memberikan apa yang paling kita cintai, bukan memberikan sisa-sisa yang kita sudah tidak butuh.
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran: 92)
Lawan Rasa Cinta Dunia yang Berlebihan
Sahabat Qur’an, obat paling ampuh untuk penyakit kikir adalah menyadari hakikat kepemilikan. Coba lihat telapak tangan kita. Kosong, kan? Saat lahir kita tidak menggenggam apa-apa, dan saat mati pun tangan kita akan terbuka, tidak membawa sepeser pun uang.
Semua yang ada di dompet dan garasi kita hanyalah “Barang Titipan”. Pemilik aslinya adalah Allah. Kalau Pemiliknya menyuruh kita membagikan sebagian titipan itu kepada fakir miskin, kenapa kita yang marah? Kenapa kita yang keberatan? Kita hanya kurir.
Mari kita latih tangan ini agar lebih ringan. Mulai dari yang kecil. Senyum itu sedekah. Memberi makan kucing jalanan itu sedekah. Mentraktir teman minum teh itu sedekah.
Paksakan sedikit. Lama-lama, rasa berat itu akan hilang berganti dengan rasa plong yang luar biasa. Ada kebahagiaan magis saat melihat wajah orang lain tersenyum karena pemberian kita.
Ingatlah, kafan tidak punya saku. Tabungan yang sesungguhnya adalah yang kita transfer ke langit lewat kotak amal, bukan yang kita tumpuk di bawah bantal.
Yuk, longgarkan ikatan dunia di hati kita hari ini.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat untuk mencetak para Hafizh dan Hafizhah dalam program unggulan Executive Tahfizh.
Website: website resmi Executive Tahfizh
WhatsApp: +6281224003100

