Setiap kali kita hendak mengawali sebuah perjalanan, baik itu berupa proyek besar, tulisan, maupun sekadar ucapan, pernahkah kita berhenti sejenak untuk merenungkan kalimat pembuka yang paling agung? Kita mungkin terbiasa dengan kata-kata motivasi atau kutipan inspiratif, namun Imam Abu Bakr Al-Ajurri dalam mukadimahnya memberikan sebuah perspektif yang mengubah segalanya. Beliau mengajarkan bahwa hakikat dari sebuah permulaan yang penuh berkah adalah dengan memulai sesuatu dengan pujian terbaik kepada Allah, sebuah pujian yang bahkan Allah sendiri gunakan untuk memuji Diri-Nya.

Ini bukan sekadar formalitas rohani, melainkan sebuah perubahan paradigma fundamental. Saat kita memilih untuk mengawali dengan sanjungan kepada Sang Pencipta, kita secara sadar meletakkan ego dan kemampuan diri di posisi kedua, dan menempatkan keagungan serta pertolongan Allah sebagai fondasi utama. Inilah esensi dari sebuah permulaan yang tidak hanya bertujuan untuk berhasil, tetapi juga untuk diberkahi.

Mengapa Memulai Sesuatu dengan Pujian Terbaik kepada Allah?

Imam Al-Ajurri memulai kitabnya dengan sebuah penegasan yang mendalam, “Sesuatu yang paling berhak untuk aku jadikan pembuka perkataan adalah pujian bagi Tuhan kita Yang Maha Mulia.” Pernyataan ini lahir dari kesadaran seorang hamba yang memahami bahwa segala sesuatu berasal dan akan kembali kepada-Nya. Memuji Allah di awal adalah bentuk pengakuan bahwa ilmu yang akan tertuang, energi yang akan tercurah, dan ide yang akan mengalir, semuanya adalah karunia dari-Nya.

Ketika kita mempraktikkan kebiasaan memulai sesuatu dengan pujian terbaik kepada Allah, setidaknya ada dua pergeseran batin yang terjadi:

  1. Menumbuhkan Ketergantungan (Iftiqar): Kita mengakui keterbatasan diri dan mengakui kemahakuasaan Allah. Ini adalah gerbang menuju tawakal yang benar, di mana kita berusaha sekuat tenaga namun hati senantiasa bersandar pada-Nya.
  2. Menyelaraskan Niat: Pujian yang tulus akan meluruskan niat. Kita tidak lagi bekerja demi pujian manusia atau pengakuan duniawi, melainkan untuk meraih ridha dari Zat yang kita puji di awal langkah kita.

Pujian ini menjadi semacam kalibrasi spiritual, memastikan bahwa frekuensi hati kita selaras dengan kehendak Ilahi sebelum kita melangkah lebih jauh.

Meneladani Pujian Allah atas Diri-Nya Sendiri

Hal yang paling menakjubkan dari ajaran Imam Al-Ajurri adalah beliau tidak sekadar menyuruh kita memuji, tetapi menunjukkan contoh pujian terbaik, yaitu pujian yang Allah firmankan sendiri di dalam Al-Qur’an. Ini adalah level tertinggi, di mana kita meminjam “kata-kata” Sang Pencipta untuk memuji-Nya.

Pujian Atas Kitab-Nya yang Lurus dan Sempurna

Imam Al-Ajurri mengutip firman Allah di awal Surat Al-Kahfi sebagai contoh pertama. Sebuah pujian atas diturunkannya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang lurus tanpa kebengkokan.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا (١) قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ… (٢)

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok; sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin…” (Q.S. Al-Kahfi: 1-2).

Mengawali dengan pujian ini seolah menjadi pernyataan: “Ya Allah, aku memulai pekerjaan ini dengan memuji-Mu atas petunjuk sempurna yang telah Engkau turunkan. Maka, bimbinglah langkahku agar selaras dengan petunjuk-Mu ini.”

Pujian Atas Kekuasaan dan Ilmu-Nya yang Tak Terbatas

Contoh kedua diambil dari Surat Saba’, yang menyoroti kepemilikan, kekuasaan, dan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu di langit dan di bumi.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ (١)

“Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Saba’: 1).

Pujian ini menanamkan ketenangan dalam jiwa. Kita mengakui bahwa kita sedang beraktivitas dalam “kerajaan-Nya”, di bawah pengawasan-Nya yang Mahabijaksana. Apa pun hasilnya kelak, baik sukses maupun belum berhasil, semua berada dalam genggaman ilmu dan hikmah-Nya.

Pola Pikir yang Lahir dari Memulai Sesuatu dengan Pujian Terbaik kepada Allah

Membiasakan diri dengan amalan ini akan melahirkan sebuah pola pikir yang kokoh. Ia bukan lagi sekadar rutinitas, melainkan manifestasi dari keimanan yang meresap dalam setiap tindakan. Kebiasaan memulai sesuatu dengan pujian terbaik kepada Allah akan mengubah cara kita memandang tantangan dan kesuksesan.

Kita tidak akan mudah sombong saat berhasil, karena sejak awal kita sadar bahwa semua adalah anugerah-Nya. Sebaliknya, kita juga tidak akan mudah putus asa saat menghadapi kegagalan, sebab kita tahu bahwa Allah Yang Mahabijaksana sedang mengatur segalanya. Ini adalah mentalitas yang lahir dari pengakuan tulus seorang hamba, sebagaimana yang diungkapkan Imam Al-Ajurri, “…pujian dari orang yang mengetahui bahwa Tuhannya Yang Maha Mulia telah mengajarkan kepadanya apa yang belum ia ketahui, dan sungguh karunia-Nya atasnya sangat besar.”

Mari kita hidupkan kembali sunnah para ulama saleh ini. Sebelum memulai hari, sebelum membuka laptop untuk bekerja, sebelum mendidik anak, sebelum menghafal ayat-ayat-Nya, berhentilah sejenak. Ucapkanlah pujian terbaik bagi-Nya, resapi maknanya, dan biarkan keberkahan mengalir dari titik awal yang paling agung tersebut.

Pada akhirnya, amalan memulai sesuatu dengan pujian terbaik kepada Allah adalah sebuah investasi spiritual. Ia adalah kunci pembuka pintu-pintu kemudahan, ilmu, dan keberkahan yang sering kali kita cari dengan susah payah, padahal kuncinya ada pada kalimat pertama yang kita pilih.

Perjalanan mulia seperti menghafal Al-Qur’an, firman yang menjadi sebab utama kita memuji-Nya, tentu lebih utama lagi untuk diawali dengan fondasi pujian dan kesadaran penuh akan pertolongan-Nya. Proses ini bukan sekadar tentang kekuatan ingatan, melainkan tentang kesucian hati dan kelurusan niat yang dibangun sejak langkah pertama. Kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta siap mendampingi Anda dalam perjalanan agung ini, memastikan setiap langkah diwarnai dengan metode yang tepat dan spirit yang lurus.

Daftar Referensi

  • Al-Ajurri, Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain. Mukhtashar Akhlaq Hamalat al-Qur’an. Dar Ibnul Jauzi.
  • Q.S. Al-Kahfi: 1-3.
  • Q.S. Saba’: 1-2.
  • Q.S. Ali ‘Imran: 174.

 

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri