Mukadimah: Mensyukuri Nikmat dan Rasa Lapar
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الصِّيَامَ جُنَّةً لِلْمُؤْمِنِينَ، وَسَبِيلًا لِتَهْذِيبِ النُّفُوسِ وَتَطْهِيرِ الْقُلُوبِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، بَعَثَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
“Segala puji bagi Allah yang menjadikan puasa sebagai perisai bagi orang mukmin, serta jalan untuk mendidik jiwa dan menyucikan hati. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya, yang diutus Allah sebagai rahmat bagi semesta alam. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada junjungan kita Muhammad, keluarga, serta para sahabatnya.”
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, yang dengan rahmat-Nya kita kembali merasakan indahnya bulan Ramadhan. Selawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sosok yang paling dermawan dan paling peduli terhadap kaum dhuafa.
Puasa Sebagai Sarana Menumbuhkan Empati
Hadirin yang dirahmati Allah, puasa seringkali dipahami hanya sebagai kewajiban ritual menahan lapar dan dahaga. Namun, di balik rasa perih di lambung dan keringnya kerongkongan, tersimpan rahasia besar untuk melatih empati. Allah sengaja membuat kita merasa lapar agar kita bisa memahami secara nyata, bukan sekadar teori, bagaimana rasanya menjadi saudara-saudara kita yang hidup dalam kekurangan.
Empati adalah kunci persaudaraan Islam. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma’un ayat 1-3 mengenai pentingnya kepedulian sosial:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ . فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ . وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”
Melalui ibadah puasa, Allah ingin mengetuk pintu hati kita agar tidak menjadi pendusta agama. Puasa menyadarkan kita bahwa makanan yang kita nikmati saat berbuka adalah kemewahan yang tidak dimiliki oleh semua orang.
Teladan Kedermawanan di Bulan Ramadhan
Sifat empati yang terbangun melalui rasa lapar seharusnya melahirkan tindakan nyata berupa sedekah. Rasulullah SAW memberikan contoh bahwa kedermawanan beliau meningkat drastis di bulan suci ini. Sebuah hadis sahih menggambarkan hal tersebut:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ
“Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau jauh lebih dermawan lagi ketika di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari & Muslim)
Kedermawanan beliau digambarkan seperti “angin yang berhembus”, saking cepat dan banyaknya beliau memberi. Empati tanpa aksi hanyalah simpati yang hampa. Puasa yang sukses adalah puasa yang mampu mengubah seseorang dari pribadi yang bakhil menjadi pribadi yang peduli.
Kisah Ketulusan Fatimah Az-Zahra
Hadirin sekalian, mari kita ingat kisah putri Rasulullah, Fatimah Az-Zahra bersama suaminya Ali bin Abi Thalib. Suatu ketika, selama tiga hari berturut-turut saat mereka berpuasa nazzar, setiap kali akan berbuka, datanglah orang miskin, anak yatim, dan tawanan perang yang meminta makanan. Meski mereka sendiri sangat lapar, Fatimah dan Ali memberikan satu-satunya hidangan mereka dan memilih berbuka hanya dengan air putih.
Atas tindakan berbasis empati yang luar biasa ini, Allah SWT mengabadikan kisah mereka dalam Surah Al-Insan. Mereka memberi bukan karena mencari pujian, melainkan karena merasakan kepedihan orang lain seolah-olah itu kepedihan mereka sendiri.
Aplikasi Empati dalam Kehidupan Modern
Di era sekarang, empati di bulan Ramadhan bisa kita wujudkan dengan cara yang sangat luas. Bukan hanya memberi takjil di jalanan, tapi juga dengan menahan diri dari pamer kemewahan (flexing) makanan berlebihan di media sosial. Bayangkan perasaan saudara kita yang bahkan untuk sahur pun kesulitan, melihat postingan hidangan hotel berbintang kita.
Jadikan rasa lapar kita sebagai pengingat untuk rutin membayar zakat, memperbanyak infak, dan memastikan tetangga di sekitar kita tidak ada yang tidur dalam keadaan perut kosong. Inilah hakikat puasa sosial yang sejati.
Penutup: Kesimpulan dan Doa
Sebagai penutup, marilah kita maknai sisa hari di bulan Ramadhan ini untuk memperhalus perasaan kita. Biarkan rasa lapar ini mendidik hati kita agar lebih peka terhadap penderitaan sesama. Puasa yang mabrur adalah puasa yang membekas dalam bentuk keshalehan sosial.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memberikan makanan yang dicintainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan.”
Demikian tausiyah yang dapat saya sampaikan. Mohon dimaafkan atas segala kekurangan. Semoga Allah menerima amal ibadah kita.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

