Mukadimah: Memuji Dzat Yang Maha Mendengar
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بَيَّنَ لَنَا سَبِيلَ الرَّشَادِ، وَحَذَّرَنَا مِنْ آفَاتِ اللِّسَانِ وَالْفَسَادِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الصَّادِقُ الْأَمِينُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
“Segala puji bagi Allah yang telah menjelaskan kepada kita jalan petunjuk, dan memperingatkan kita dari bahaya lisan dan kerusakan. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya yang jujur lagi terpercaya. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada junjungan kita Muhammad, keluarga, serta para sahabatnya.”
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, yang telah memberikan kita kesempatan untuk berpuasa sebagai perisai dari api neraka. Selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sosok yang paling sempurna dalam menjaga lisannya dan sangat membenci fitnah.
Puasa Sebagai Pengendali Lisan
Hadirin yang dimuliakan Allah, banyak orang yang menyangka bahwa puasa hanya soal menahan apa yang masuk ke dalam mulut. Padahal, secara hakiki, puasa juga berarti menjaga apa yang keluar dari mulut. Sungguh ironis jika perut kita kosong dari makanan, namun lisan kita kenyang memakan “daging” saudara sendiri melalui ghibah dan namimah.
Allah SWT memberikan peringatan keras mengenai perilaku ghibah dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:
وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
“Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”
Perumpamaan ini sangat mengerikan. Menggunjing atau ghibah disamakan dengan memakan bangkai saudara sendiri. Lalu bagaimana dengan namimah atau adu domba? Namimah adalah perbuatan menyebarkan perkataan untuk merusak hubungan sesama manusia, yang dampaknya lebih dahsyat dari pembunuhan karena menghancurkan persaudaraan.
Bahaya Lisan yang Menghapus Pahala Puasa
Kita harus berhati-hati, jangan sampai puasa kita hanya menyisakan lapar dan dahaga tanpa nilai pahala sedikit pun di sisi Allah. Rasulullah SAW memberikan peringatan tegas:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)
Hadirin sekalian, perkataan buruk seperti ghibah dan namimah adalah bagian dari “perkataan dusta” atau qauluz zuur yang dapat merusak kualitas ibadah kita. Puasa adalah latihan disiplin agar kita lebih berhati-hati dalam berucap.
Kisah Dua Wanita yang Berpuasa di Zaman Nabi
Ada sebuah kisah pada zaman Rasulullah SAW. Dua orang wanita berpuasa hingga mereka merasa sangat kepayahan dan hampir mati karena haus. Mereka meminta izin kepada Rasulullah untuk berbuka. Rasulullah kemudian mengirimkan sebuah wadah dan memerintahkan mereka untuk memuntahkan isinya ke dalam wadah tersebut.
Ajaibnya, yang keluar dari mulut mereka adalah darah segar dan potongan daging. Rasulullah SAW bersabda, “Kedua wanita ini berpuasa dari apa yang Allah halalkan bagi mereka (makan dan minum), namun mereka berbuka (membatalkan pahala) dengan apa yang Allah haramkan bagi mereka. Mereka duduk berdua dan memakan daging orang lain (bergunjing).”
Aplikasi Nyata di Era Digital
Di era modern ini, ghibah dan namimah tidak hanya terjadi lewat lisan, tapi juga lewat jempol kita di media sosial. Berkomentar buruk di postingan orang, menyebarkan berita bohong (hoax) yang mengadu domba, atau membicarakan aib publik di grup WhatsApp adalah bentuk nyata ghibah masa kini.
Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk melakukan “digital detox”. Jika kita tidak mampu berkata yang baik di dunia nyata maupun maya, maka lebih baik kita diam. Diamnya orang berpuasa bukan hanya emas, tapi adalah ibadah.
Penutup: Doa Menjaga Lisan
Sebagai kesimpulan, mari kita jaga lisan dan jempol kita seerat kita menjaga perut kita dari makanan. Jangan biarkan kerja keras kita menahan lapar hancur seketika hanya karena satu kalimat pedas atau satu kabar fitnah.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَمْتِي فِكْرًا، وَنُطْقِي ذِكْرًا، وَنَظَرِي عِبْرَةً
“Ya Allah, jadikanlah diamku sebagai sarana berpikir, bicaraku sebagai dzikir, dan pandanganku sebagai pelajaran.”
Demikian ceramah singkat ini. Semoga Allah menjaga lisan kita dari segala dosa. Mohon maaf atas khilaf. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

