Mukadimah: Membuka Pintu Keberkahan
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
“Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amal shaleh menjadi sempurna. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, serta para sahabatnya sekalian.”
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala yang masih memberikan kita napas dan kesempatan untuk menghirup udara Ramadhan. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, uswah hasanah kita dalam setiap sendi kehidupan.
Ujian Puasa di Era Digital
Hadirin yang dimuliakan Allah, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, esensi puasa adalah menahan diri (Al-Imsak) dari segala hal yang dapat merusak pahala, termasuk jempol kita saat berselancar di media sosial.
Hari ini, tantangan terbesar kita bukan lagi godaan aroma masakan di siang hari, melainkan godaan layar ponsel yang menawarkan ghibah online, adu domba, hingga pamer kemewahan yang menggerus ketulusan hati. Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:
وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”
Bahaya Lisan dan Tulisan yang Sia-Sia
Di dunia maya, tulisan kita adalah lisan kita. Saat kita mengetik komentar pedas atau menyebarkan aib orang lain di grup WhatsApp, saat itulah pahala puasa kita terancam hangus. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan kita dalam sebuah hadis sahih:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh terhadap upayanya meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari)
Maka dari itu, Puasa Gadget menjadi sangat krusial. Bukan berarti kita tidak boleh menggunakan teknologi, namun kita harus mengatur waktu layar (screen time). Bayangkan jika waktu yang kita gunakan untuk men-scroll konten yang tidak bermanfaat dialihkan untuk membaca Al-Qur’an digital atau menyimak kajian ilmu.
Kisah Inspiratif: Wara’ dalam Berucap
Mari kita teladani kisah Imam Syafi’i. Beliau adalah sosok yang sangat menjaga lisannya. Pernah suatu ketika seseorang mencela beliau, namun beliau tetap diam. Ketika ditanya mengapa tidak membalas, beliau menjawab bahwa menjaga kehormatan diri jauh lebih penting daripada memenangkan perdebatan yang sia-sia.
Jika ulama terdahulu begitu menjaga lisan, maka kita di zaman ini harus lebih ketat menjaga jempol kita. Ghibah online melalui fitur ‘komen’ atau ‘share’ berita hoax adalah racun yang bisa membunuh kekhusyukan ibadah Ramadhan kita.
Langkah Praktis Puasa Media Sosial
Bagaimana cara memulainya? Pertama, batasi akses aplikasi hiburan saat jam-jam utama ibadah. Kedua, unfollow akun yang sering memicu rasa iri atau keinginan untuk bergosip. Ketiga, jadikan gadget sebagai sarana dakwah dan silaturahmi yang positif.
Jangan sampai kita termasuk golongan orang yang merugi; yang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan haus saja, sementara tabungan amal jariyahnya habis karena digunakan untuk mencaci maki di kolom komentar.
Kesimpulan dan Penutup
Sebagai kesimpulan, mari kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum detox digital. Mari kita lebih banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an daripada dengan notifikasi media sosial. Ingatlah bahwa setiap ketukan jari kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ وَأَعِنَّا عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ وَحِفْظِ جَوَارِحِنَا عَمَّا يُغْضِبُكَ
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Ramadhan, bantulah kami untuk berpuasa, mendirikan shalat malam, dan menjaga anggota tubuh kami (termasuk lisan dan tangan) dari hal-hal yang membuat-Mu murka.”
Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penyampaian. Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

