Dalam riuhnya kehidupan, kita seringkali terpesona oleh tampilan luar, oleh apa yang tampak di mata. Kita kagum pada orang yang lancar membaca Al-Qur’an, yang suaranya merdu menyentuh kalbu, yang hafalannya begitu kokoh. Sebuah pemandangan yang menyejukkan, bukan? Namun, ada sebuah perenungan mendalam yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, sebuah perumpamaan yang menelanjangi hakikat di balik penampilan, khususnya dalam interaksi kita dengan Al-Qur’an.
Al-Qur’an, kalamullah yang mulia, adalah cahaya bagi setiap hati yang terbuka, petunjuk bagi setiap jiwa yang mencari kebenaran. Ia ibarat hujan yang menyirami bumi, menumbuhkan segala kebaikan. Namun, sebagaimana hujan yang sama jatuh di berbagai jenis tanah—ada yang subur, ada yang berbatu, ada pula yang kering kerontang—demikian pula Al-Qur’an, ia dibaca oleh berbagai jenis hati. Ada hati yang beriman teguh, hati yang lalai, dan ada pula hati yang munafik.
Mengurai Hakikat Perumpamaan
Rasulullah ﷺ, dengan kearifan dan hikmahnya, memberikan perumpamaan yang luar biasa untuk menggambarkan perbedaan hati-hati ini, khususnya tentang mereka yang mengaku beriman namun menyimpan penyakit di dalam hati mereka.
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالتَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ.
“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah utrujah: baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti buah kurma: tidak ada baunya dan rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an adalah seperti tumbuhan raihanah: baunya harum tetapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti buah hanzhalah: tidak ada baunya dan rasanya pahit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Mari kita selami lebih dalam makna perumpamaan tentang orang munafik yang membaca Al-Qur’an ini. Rasulullah ﷺ mengumpamakannya seperti tumbuhan raihanah (kemangi/selasih) yang baunya harum, namun rasanya pahit. Sebuah gambaran yang begitu dalam dan menohok, bukan?
Wangi di Luar, Pahit di Dalam: Cermin Hati Munafik
Kisah raihanah ini mengajarkan kita tentang pentingnya esensi, bukan sekadar penampilan. Orang munafik yang membaca Al-Qur’an, mungkin ia fasih lisannya, mungkin ia hafal banyak ayat, mungkin pula bacaannya terdengar sangat merdu hingga membuat orang lain terenyuh. Aroma harum bacaan Al-Qur’an itu tercium oleh banyak orang, dan mungkin pujian pun mengalir karenanya. Inilah “bau harum” dari raihanah, sebuah keindahan lahiriah yang mampu memikat.
Namun, mengapa rasanya pahit? Pahitnya rasa raihanah melambangkan kondisi batin orang munafik. Di dalam hatinya, tidak ada keimanan yang sejati kepada Al-Qur’an. Ia membaca bukan karena cinta dan ketundukan, bukan untuk mencari petunjuk dan mengamalkannya. Bisa jadi ia membaca karena riya’ (ingin dipuji), karena ingin dianggap alim, karena tujuan duniawi, atau bahkan karena ingin menipu orang lain dengan topeng kesalehan. Al-Qur’an tidak meresap ke dalam jiwanya, tidak mengubah akhlaknya, dan tidak menjadi pedoman hidupnya.
Inilah yang digambarkan oleh Allah ﷻ:
وَاِذَا لَقُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَالُوْٓا اٰمَنَّا ۚ وَاِذَا خَلَوْا اِلٰى شَيٰطِيْنِهِمْ قَالُوْٓا اِنَّا مَعَكُمْ اِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُوْنَ
“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, ‘Kami telah beriman.’ Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.’”
(QS. Al-Baqarah: 14)
Ayat ini menunjukkan dualisme sifat orang munafik, yang mana perilaku membaca Al-Qur’an mereka juga bisa terjebak dalam perangkap ini. Mereka menampilkan citra baik di depan orang beriman, termasuk dalam interaksi dengan Al-Qur’an, padahal hati mereka kosong dari keimanan yang hakiki, bahkan cenderung mengejek ajaran Allah.
Niat: Fondasi Penerimaan Al-Qur’an
Perumpamaan ini sejatinya mengajak kita untuk merenung, betapa pentingnya niat dalam setiap amal ibadah, termasuk membaca Al-Qur’an. Niat adalah ruh dari setiap perbuatan. Jika niat kita tulus karena Allah, semata-mata mencari ridha-Nya, maka bacaan Al-Qur’an kita akan menjadi seperti utrujah: harum di luar (karena dampaknya yang baik bagi sekitar) dan manis di dalam (karena ketenangan dan kebahagiaan yang dirasakan hati).
Namun, jika niat kita tercampur dengan tujuan duniawi, ingin dipuji, ingin diakui, atau bahkan ada agenda terselubung, maka bisa jadi kita sedang meniru perumpamaan raihanah. Bacaan kita mungkin terdengar indah di telinga manusia, namun di sisi Allah, ia mungkin tidak bernilai, bahkan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri.
Refleksi Diri untuk Hati yang Lebih Jujur
Marilah kita bertanya pada diri sendiri:
- Saat kita membaca Al-Qur’an, apa yang sesungguhnya kita cari?
- Apakah kita ingin Al-Qur’an menuntun hidup kita, atau hanya sebagai hiasan di lisan semata?
- Apakah kita berinteraksi dengan Al-Qur’an untuk memahami maknanya, meresapi hikmahnya, dan mengamalkan perintah-Nya?
- Atau jangan-jangan, kita hanya terpaku pada keindahan lafal tanpa peduli pada kedalaman pesan?
Al-Qur’an adalah rahmat dan penawar bagi hati yang beriman. Namun, bagi hati yang ingkar, ia justru menambah kerugian:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ ەۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, tetapi (Al-Qur’an itu) tidaklah menambah kepada orang-orang zalim selain kerugian.”
(QS. Al-Isra: 82)
Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an ini adalah pengingat yang begitu kuat bagi kita semua. Ia bukan sekadar kisah tentang orang lain, melainkan cermin untuk kita berkaca, untuk meneliti kembali kedalaman niat dan kualitas interaksi kita dengan firman Allah.
Membangun Koneksi Sejati dengan Al-Qur’an
Semoga Allah melindungi kita dari sifat kemunafikan dan menjadikan hati kita hati yang tulus dalam menerima dan mengamalkan Al-Qur’an. Hendaknya kita berjuang untuk menjadi seperti utrujah: baik lahiriah (dengan bacaan yang benar dan indah) dan baik pula batiniah (dengan niat yang lurus, pemahaman yang mendalam, serta pengamalan yang istiqamah). Karena sesungguhnya, keindahan Al-Qur’an itu tidak akan pernah sampai ke hati jika tidak diiringi dengan kejujuran dan ketulusan.
Marilah kita terus menerus memperbaiki kualitas interaksi kita dengan Al-Qur’an. Bukan hanya sekadar membaca, tetapi juga memahami, merenungi, dan yang terpenting, mengamalkannya dalam setiap detik kehidupan kita. Hanya dengan cara itulah, Al-Qur’an akan menjadi cahaya penuntun yang sejati, mengharumkan jiwa kita di dunia dan menjadi syafaat di akhirat.
Jika hati kita merindukan kedalaman makna, ingin merasakan manisnya iman yang hakiki melalui Al-Qur’an, Qur’an Learning Center Yogyakarta siap menjadi teman perjalanan kita. Bersama, kita akan menata ulang cara berpikir, meresapi setiap ayat, dan membangun koneksi yang jujur dengan kalamullah.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100
TAGS: Perumpamaan Orang Munafik, Membaca Al-Qur’an, Raihanah, Hadits Munafik, Niat dalam Al-Qur’an, Tadabbur Al-Qur’an, Hati yang Tulus, Qur’an Learning Center Yogyakarta
