Idul Fitri Bukan Garis Finish Melainkan Garis Start

Banyak orang menganggap Idul Fitri sebagai hadiah setelah berpuasa sebulan penuh: saatnya makan, bersenang-senang, dan kembali ke kebiasaan lama. Padahal para ulama salaf justru menangis di malam Idul Fitri, khawatir apakah ibadah Ramadhan mereka diterima.

Idul Fitri yang hakiki adalah ketika kita kembali ke fitrah: bersih dari dosa, konsisten dalam ibadah, dan siap memulai 11 bulan berikutnya dengan semangat baru. Executive Tahfizh hadir sebagai sarana menjaga momentum Ramadhan agar tidak padam begitu hilal Syawal terlihat.

إِنَّ مِنْ عَلَامَةِ قَبُولِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا

“Sesungguhnya di antara tanda diterimanya suatu kebaikan adalah datangnya kebaikan lain setelahnya.” (Atsar Ibnu Mas’ud, diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa tanda diterimanya ibadah Ramadhan adalah meningkatnya ketaatan setelah Ramadhan. Sebaliknya, kembali ke maksiat setelah Ramadhan bisa menjadi indikasi ibadah yang tidak diterima. Malam Idul Fitri seharusnya diisi takbir, istighfar, dan doa, bukan hanya pertunjukan kembang api.

Penutup

Jadikan Idul Fitri sebagai awal bukan akhir. Lanjutkan perjalanan Quranmu bersama kami. Hubungi +6281224003100 sekarang.

Referensi

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. Madarijus Salikin. Di-tahqiq oleh Muhammad Al-Muktasim Billah Al-Baghdadi. Juz 1. Beirut: Dar Al-Kitab Al-Arabi, 1996.

Kitab tasawuf dan suluk yang membahas tanda-tanda diterimanya amal ibadah dan cara menjaga keistiqamahan spiritual pasca-Ramadhan.

\n\n


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Praktisi Berlisensi Neuro Linguistic Programming (NLP)

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Executive Tahfidz di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,