Kisah turunnya wahyu Ilahi kepada Rasulullah ﷺ adalah perjalanan agung yang menyempurnakan risalah Islam bagi seluruh alam. Dari permulaan iqra’ hingga ayat terakhir yang dibacakan, setiap firman Al-Quran adalah mutiara petunjuk. Namun, pernahkah kita merenungi tentang ayat atau surah mana yang menjadi penutup wahyu, yang menandai paripurnanya Al-Quran? Perdebatan seputar hal ini, yang tercatat dalam khazanah ilmu tafsir dan hadis, justru menguak dimensi hikmah yang luar biasa, memberikan kita pemahaman yang lebih kaya tentang Makna Penutup Wahyu Al-Quran dan Pelajarannya yang tak lekang oleh zaman.
Mengurai Ragam Riwayat tentang Ayat dan Surah Terakhir
Sejarah pencatatan Al-Quran di masa kekhalifahan Abu Bakar Radhiyallahu Anhu, setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, menghadirkan sebuah episode menarik. Ketika para penulis wahyu mencapai ayat dari Surah Bara’ah (At-Taubah), yaitu:
﴿ثُمَّ انْصَرَفُوا صَرَفَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ﴾
Yang artinya, “Kemudian mereka berpaling, Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak memahami.” (Q.S. At-Taubah: 127)
Mereka mengira ayat ini adalah bagian terakhir yang diturunkan. Namun, sahabat agung Ubai bin Ka’ab Radhiyallahu Anhu meluruskan, bahwa Rasulullah ﷺ telah membacakan kepadanya dua ayat setelahnya, yakni:
﴿لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ﴾
Yang artinya, “Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin. Maka jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (Q.S. At-Taubah: 128-129)
Ubai bin Ka’ab menegaskan bahwa dua ayat inilah akhir dari wahyu yang diturunkan. Ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dan Ibnu Anbari dengan redaksi yang berbeda namun bermakna sama, bahwa dua ayat ini adalah yang paling akhir diwahyukan dari Allah. Abu Asy-Syaikh juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat terakhir yang turun adalah ﴿لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ﴾.
Variasi Pandangan Para Sahabat dan Tabi’in
- Ibnu Abbas juga meriwayatkan dalam riwayat Muslim bahwa surah terakhir yang turun adalah Surah An-Nashr, ﴿إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ﴾.
- Aisyah Radhiyallahu Anha, sebagaimana diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Hakim, menyatakan bahwa surah terakhir yang turun adalah Al-Ma’idah, yang di dalamnya terdapat banyak hukum halal dan haram.
- Abdullah bin Amr pun berpendapat serupa, bahwa Surah Al-Ma’idah dan An-Nashr adalah surah terakhir yang turun.
- Ada pula riwayat dari Utsman yang masyhur bahwa Surah At-Taubah (Bara’ah) termasuk di antara surah-surah akhir yang diturunkan.
- Bahkan Muawiyah bin Abi Sufyan pernah menuturkan bahwa ayat ﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ﴾ (Q.S. Al-Kahfi: 110) adalah ayat terakhir. Ibnu Katsir menjelaskan, ini kemungkinan merujuk pada ayat yang tidak dinasakh (dihapus hukumnya) oleh ayat lain setelahnya.
- Ibnu Abbas juga diriwayatkan oleh Bukhari dan lainnya, bahwa ayat ﴿وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ﴾ (Q.S. An-Nisa: 93) adalah akhir yang turun dan tidak ada yang menasakhnya.
- Ummu Salamah Radhiyallahu Anha, istri Rasulullah ﷺ, juga menyatakan bahwa ayat ﴿فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ﴾ (Q.S. Ali Imran: 195) adalah ayat terakhir yang turun kepadanya, setelah ia mempertanyakan mengapa Allah lebih banyak menyebut kaum pria dibandingkan wanita.
Menjelajahi Hikmah Perbedaan dalam Penutup Wahyu Al-Quran
Melihat beragamnya riwayat ini, kita mungkin bertanya-tanya, mana yang sebenarnya benar? Para ulama seperti Al-Baihaqi dan Qadhi Abu Bakar Al-Baqillani telah berupaya menyatukan dan menjelaskan perbedaan pandangan ini dengan bijaksana. Al-Baihaqi berpendapat, jika semua riwayat itu shahih, maka setiap sahabat menjawab berdasarkan pengetahuan yang ia miliki atau pengalaman terakhirnya mendengar wahyu dari Rasulullah ﷺ.
Qadhi Abu Bakar menambahkan bahwa sebagian besar perkataan ini adalah ijtihad dan dugaan kuat (ghalabatuzh zhann) dari para sahabat, bukan pernyataan yang secara langsung disandarkan kepada Nabi ﷺ. Mereka mungkin mendengar ayat terakhir yang diturunkan pada hari-hari terakhir kehidupan Nabi, atau sebelum sakitnya, sementara yang lain mungkin mendengar setelahnya, meskipun ia sendiri tidak mendengarnya secara langsung.
Bisa juga, suatu ayat yang secara kronologis turun paling akhir, diperintahkan untuk dicatat di bagian tengah surah, sehingga menyulitkan penentuan ayat “akhir” dalam urutan mushaf. Perbedaan ini, alih-alih menimbulkan keraguan, justru menegaskan betapa telitinya para sahabat dalam meriwayatkan setiap detail Al-Quran, bahkan dalam hal urutan turunnya, meskipun terkadang ada nuansa penafsiran pribadi dari setiap perawi.
Inilah Makna Penutup Wahyu Al-Quran dan Pelajarannya yang harus kita resapi: Al-Quran adalah sebuah kesatuan yang utuh, dan finalitasnya terletak pada kesempurnaan syariat Islam yang dibawa olehnya.
Pelajaran Berharga dari Penutup Wahyu Al-Quran
Dari ragam riwayat mengenai ayat atau surah terakhir yang diturunkan, kita dapat memetik banyak hikmah dan pelajaran yang mendalam, terutama bagi kita yang berjuang menghafal dan mengamalkan Al-Quran.
1. Kehati-hatian dalam Meriwayatkan Ilmu
Perbedaan riwayat ini menunjukkan ketelitian para sahabat dalam menyampaikan apa yang mereka dengar dan saksikan. Mereka berusaha keras untuk menyampaikan kebenaran, bahkan jika ada sedikit variasi berdasarkan pengalaman atau sudut pandang masing-masing. Ini mengajarkan kita untuk selalu berhati-hati dalam mencari ilmu dan memastikan keabsahan sumbernya, terutama dalam mempelajari Al-Quran.
2. Kesempurnaan Ajaran Islam
Terlepas dari ayat mana yang secara absolut terakhir turun, intinya adalah Al-Quran telah sempurna sebagai petunjuk hidup. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا﴾
Yang artinya, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (Q.S. Al-Ma’idah: 3)
Ayat ini, yang diyakini turun pada haji wada’, mengukuhkan bahwa risalah Islam telah paripurna. Tidak ada lagi penambahan atau pengurangan. Ini memberikan ketenangan bagi kita, bahwa panduan hidup kita telah lengkap dari Sang Pencipta.
3. Intisari Pesan dalam Ayat Penutup
Jika kita memperhatikan beberapa ayat yang disebut-sebut sebagai ‘penutup wahyu’, seperti Q.S. At-Taubah: 128-129, kita akan menemukan pesan yang sangat kuat tentang kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya, beban penderitaan yang beliau rasakan demi kita, serta penyerahan diri total kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini adalah esensi keimanan: cinta kepada Rasul dan tawakkal penuh kepada Tuhan semesta alam.
Meresapi Makna Penutup Wahyu Al-Quran dalam Hidup
Bagaimana kita mengaplikasikan Makna Penutup Wahyu Al-Quran dan Pelajarannya dalam kehidupan sehari-hari? Pertama, ini adalah undangan untuk memperdalam pemahaman kita tentang Al-Quran secara holistik. Jangan hanya terpaku pada satu ayat atau satu riwayat, melainkan coba pahami konteks luasnya, tafsirnya, dan beragam pandangan ulama. Kekayaan ilmu ini akan memperkaya iman dan amal kita.
Kedua, ini mengingatkan kita akan tanggung jawab besar untuk menjaga dan mengamalkan Al-Quran. Al-Quran adalah warisan terakhir dari Nabi ﷺ, sebuah amanah yang harus kita pelihara dalam hati, lisan, dan tindakan. Setiap ayat, baik yang awal maupun yang akhir turunnya, memiliki bobot dan keutamaannya sendiri.
Ketiga, mari kita jadikan Al-Quran sebagai sumber inspirasi untuk terus berbenah diri. Sebagaimana para sahabat begitu teliti dalam mengumpulkan dan meriwayatkan Al-Quran, kita pun harus teliti dalam membaca, memahami, dan mengamalkannya. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang mencintai dan memuliakan Kitab Suci-Nya.
Dengan semangat ini, mari kita terus menggali dan menghidupkan Al-Quran dalam sanubari. Bagi Anda yang memiliki kerinduan mendalam untuk lebih dekat dengan kalamullah, untuk menghafalnya dengan metode yang teruji dan bimbingan yang penuh kasih, Executive Tahfizh hadir sebagai jembatan. Kami menanti Anda untuk bersama-sama menyelami lautan ilmu Al-Quran di Qur’an Learning Center Yogyakarta, tempat hati dan pikiran disucikan oleh firman-firman-Nya.
Daftar Referensi
- Abdullah bin Ahmad dalam Zawaidul Musnad.
- Ibnu Mardawaih.
- Abu Asy-Syaikh dalam Tafsirnya.
- Muslim.
- Tirmidzi.
- Hakim.
- Ibnu Jarir.
- Ibnu Katsir.
- Bukhari.
- Ahmad.
- Nasa’i.
- Al-Baihaqi.
- Qadhi Abu Bakar dalam Al-Intishar.
- Kitab: Al-Itqan fi Ulumil Quran, Karya: Abdul Rahman bin Abi Bakar, Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H), Tahqiq: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim (w. 1401 H), Penerbit: Al-Hai’ah Al-Mishriyyah Al-‘Ammah lil Kitab, Cetakan: 1394 H/1974 M.
- Q.S. At-Taubah: 127
- Q.S. At-Taubah: 128-129
- Q.S. Al-Ma’idah: 3
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

