Bayangkan Sahabat Quran sedang membangun rumah mewah bertingkat tiga. Dindingnya dari marmer, atapnya dari genteng impor. Tapi, pondasi bawahnya dibuat asal-asalan dari campuran pasir dan lumpur, bukan semen beton.

Apa yang akan terjadi? Mungkin rumah itu bisa berdiri sebulan dua bulan. Tapi begitu ada gempa kecil atau hujan deras, rumah mewah itu akan retak, miring, dan akhirnya rubuh total.

Sahabat Qur’an, Tajwid adalah pondasi rumah hafalan kita. Seringkali kita tergiur dengan target “One Day One Juz” atau “Hafal Cepat 30 Hari”, sehingga kita mengabaikan kualitas bacaan. Huruf ‘Ain masih bunyi Ngain, panjang pendek (Mad) ditabrak sesuka hati, dan dengung (Ghunnah) sering terlewat.

Ingatlah satu kaidah emas ini: “Memperbaiki hafalan yang salah itu 10 kali lebih sulit daripada menghafal hafalan baru.”

Bahaya “Fosil Kesalahan”

Otak kita itu perekam yang jujur. Jika Sahabat menghafal satu ayat dengan bacaan yang salah (misal: huruf Ha tertukar dengan Kha), dan Sahabat mengulangnya 100 kali, maka kesalahan itu akan menjadi “Fosil” yang membatu di otak.

Suatu hari nanti, ketika Sahabat sadar dan ingin memperbaikinya, lidah Sahabat akan menolak. Lidah sudah terlanjur “nyaman” dengan kesalahan itu. Sahabat butuh perjuangan berdarah-darah untuk menghapus memori lama dan menimpa dengan yang baru.

Maka, sebelum Sahabat melangkah jauh ke Juz 2, 3, dan seterusnya, tanyakan pada guru ngaji Sahabat: “Ustadz, apakah bacaan saya sudah layak untuk dihafal?” Jika belum, mundurlah selangkah untuk belajar Tahsin (Perbaikan Bacaan).

Al-Quran Turun dengan Tajwid

Malaikat Jibril mengajarkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW dengan tartil dan tajwid yang presisi. Bukan sekadar bunyi.

Renungan Ayat:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“…Dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan (tartil/tajwid).” (QS. Al-Muzzammil: 4)

Ali bin Abi Thalib menjelaskan makna Tartil adalah: “Mentajwidkan huruf dan mengetahui tempat-tempat waqaf (berhenti).”

Jadi, membaca dengan tajwid bukan sekadar gaya-gayaan agar terdengar merdu seperti qari internasional. Tidak. Tajwid adalah kewajiban untuk menjaga keaslian firman Allah. Salah harakat atau salah panjang-pendek bisa mengubah arti ayat secara fatal.

Jangan Malu Belajar “Ba-Bi-Bu” Lagi

Mungkin usia Sahabat sudah tidak muda. Malu rasanya kalau harus duduk belajar Makhraj huruf Alif Ba Ta lagi seperti anak TK.

Buang rasa malu itu! Tidak ada kata terlambat untuk memuliakan Kalamullah. Justru Allah sangat menghargai orang yang terbata-bata memperbaiki lisannya.

Lebih baik Sahabat “lambat” di Juz 1 tapi bacaannya fasih dan benar, daripada “ngebut” sampai Juz 30 tapi bacaannya penuh cacat yang membuat pendengarnya (dan malaikat) merasa tidak nyaman.

Mari bangun pondasi beton yang kokoh. Biar lambat asal selamat, biar sedikit asal mutqin dan fashih.

Daftar Referensi

Tuhfatul Athfal, Syaikh Sulaiman Al-Jamzuri (Dasar-dasar Tajwid).

Hidayatul Qari, Syaikh Abdul Fattah Al-Marshafi.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,