Kisah-kisah para ulama salafus shalih senantiasa menawarkan inspirasi yang tak lekang oleh zaman. Mereka adalah pribadi-pribadi istimewa yang mendedikasikan hidupnya untuk Islam, khususnya dalam berinteraksi dengan Kalamullah. Salah satu narasi yang mungkin membuat kita tertegun dan bertanya-tanya adalah tentang kemampuan seorang tabi’in besar, Sa’id bin Jubair, yang disebutkan mampu menyelesaikan bacaan seluruh Al-Qur’an dalam satu rakaat salat. Kisah ini bukan sekadar anekdot, melainkan mengandung mutiara hikmah yang mendalam bagi kita semua dalam Mengambil Pelajaran dari Khatam Al-Qur’an Satu Rak’ah.
Mari kita selami lebih dalam riwayat luar biasa ini, yang termaktub dalam Kitab Fadha’il Al-Qur’an karya Imam Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam:
حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ حَمَّادٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، أَنَّهُ قَالَ: «قَرَأْتُ الْقُرْآنَ فِي رَكْعَةٍ فِي الْبَيْتِ»
Artinya: “Abu Ubaid menceritakan kepada kami, Hajjaj menceritakan kepada kami, dari Syu’bah, dari Hammad, dari Sa’id bin Jubair, bahwa beliau berkata: “Aku membaca seluruh Al-Qur’an dalam satu rakaat di rumah.”
Memahami Kedalaman Makna di Balik Kecepatan
Apa yang dapat kita tangkap dari narasi ini? Apakah ini sekadar perlombaan kecepatan? Tentu saja bukan. Sa’id bin Jubair adalah seorang ulama yang sangat mendalami Al-Qur’an, faqih dalam agama, dan dikenal dengan ketakwaannya. Kemampuan beliau mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu rakaat bukan menunjukkan sikap tergesa-gesa tanpa tadabbur, melainkan refleksi dari kedalaman hafalan, kefasihan yang luar biasa, serta konsentrasi yang tak terpecah dalam ibadahnya. Ini adalah puncak mahakarya dari interaksi seorang hamba dengan Kitabullah. Di sinilah esensi Mengambil Pelajaran dari Khatam Al-Qur’an Satu Rak’ah menjadi sangat relevan.
Bagi kita, para pembelajar Al-Qur’an, khususnya para penghafal, kisah ini menawarkan perspektif yang menakjubkan. Ini menunjukkan betapa mungkannya seseorang mencapai tingkat penguasaan Al-Qur’an yang sedemikian rupa, sehingga bacaannya mengalir lancar, cepat, namun tetap sah secara syar’i. Tentu, kita tidak serta merta menargetkan khatam dalam satu rakaat, sebab tuntunan umum Rasulullah ﷺ adalah membaca Al-Qur’an dengan tartil dan tadabbur.
… وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
Artinya: “…dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.” (Q.S. Al-Muzzammil: 4)
Ayat ini menegaskan pentingnya membaca dengan perlahan, jelas, dan meresapi setiap maknanya. Lalu, bagaimana kita mendamaikan dua hal ini? Kisah Sa’id bin Jubair adalah pengecualian yang menunjukkan kapasitas maksimal seorang hamba, bukan kaidah umum yang harus kita terapkan secara harfiah. Namun, semangatnya—semangat kedekatan, penguasaan, dan kecintaan yang mendalam pada Al-Qur’an—itulah yang harus kita teladani.
Konsentrasi, Dedikasi, dan Kualitas Interaksi
Pelajaran utama yang bisa kita petik adalah tentang konsentrasi dan dedikasi. Mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu rakaat mengindikasikan bahwa setiap ayat, setiap kata, telah begitu menyatu dalam diri Sa’id bin Jubair. Ini adalah hasil dari proses hafalan yang kuat, muraja’ah (pengulangan) yang konsisten, dan pemahaman yang mendalam. Kualitas interaksi beliau dengan Al-Qur’an sudah mencapai tingkatan yang tidak bisa kita bayangkan dengan mudah.
Untuk kita, kaum muslimin di era modern ini, kita perlu Mengambil Pelajaran dari Khatam Al-Qur’an Satu Rak’ah ini dengan cara yang relevan. Bukan tentang kecepatan, tetapi tentang memaksimalkan setiap kesempatan untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an. Apakah itu dengan membaca satu juz sehari, mengulang hafalan beberapa halaman setiap pagi, atau meluangkan waktu khusus untuk tadabbur, yang terpenting adalah konsistensi dan kualitas.
Rasulullah ﷺ bersabda:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
Artinya: “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (H.R. Muslim)
Hadits ini menguatkan urgensi membaca Al-Qur’an, tanpa membatasi pada kecepatan tertentu. Kualitas bacaan, pemahaman, dan pengamalannya adalah inti dari interaksi kita dengan Al-Qur’an. Sa’id bin Jubair menunjukkan seberapa jauh seorang hamba bisa melangkah dalam penguasaan ini, sehingga Al-Qur’an menjadi bagian tak terpisahkan dari jiwanya.
Menginternalisasi Spirit Khatam Al-Qur’an Satu Rak’ah dalam Keseharian
Lalu, bagaimana kita bisa menginternalisasi spirit dari kisah Sa’id bin Jubair ini dalam kehidupan kita sehari-hari? Kita mungkin tidak mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu rakaat, tetapi kita bisa meniru semangat dedikasi dan intensitas interaksinya. Pertama, dengan menargetkan hafalan yang kuat dan mutqin. Hafalan yang kokoh akan memudahkan kita membaca dengan lancar, bahkan dalam jumlah yang banyak. Kedua, dengan senantiasa muraja’ah, mengulang-ulang hafalan agar tidak mudah lupa dan tetap terjaga.
Ketiga, dengan membiasakan tadabbur, merenungkan makna ayat-ayat yang kita baca atau hafal. Ini akan membuat bacaan kita lebih hidup, lebih menyentuh hati, dan mengubah perilaku kita. Keempat, dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai teman setia dalam setiap keadaan, baik saat lapang maupun sempit. Dengan demikian, kita benar-benar Mengambil Pelajaran dari Khatam Al-Qur’an Satu Rak’ah dan menerapkannya dalam skala yang sesuai dengan kemampuan kita.
Kisah ini adalah motivasi untuk tidak pernah merasa puas dengan pencapaian kita dalam Al-Qur’an. Selalu ada ruang untuk meningkatkan kualitas hafalan, intensitas muraja’ah, dan kedalaman tadabbur. Ini adalah panggilan untuk menjadikan Al-Qur’an bukan sekadar bacaan rutin, melainkan nafas kehidupan, sumber inspirasi, dan penuntun setiap langkah. Semoga kita semua dimudahkan untuk terus mendekat kepada-Nya melalui Kalam-Nya yang mulia.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Kitab Fadha’il Al-Qur’an karya Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam, Bab Qari’ Yukhtimu Al-Qur’an Kullahu fi Lailatin aw fi Rak’atin, hal. 182. (Link: sumber di Perpustakaan Islam Shamela)
- Al-Qur’an Surah Al-Muzzammil, Ayat 4.
- Shahih Muslim, Kitab Shalat Al-Musafirin wa Qashriha, Bab Fadli Tilawah Al-Qur’an wa Ta’allumihi, Hadits No. 804.
