Jangan Minder, Dua Pahala Menanti Anda
Ada kalanya lisan terasa kelu, mengeja huruf demi huruf dengan napas yang mungkin tersengal. Satu ayat terasa begitu panjang untuk ditaklukkan, dan hati berdesir cemas, khawatir salah melafalkan Kalam-Nya. Pernahkah kita merasakan hal ini? Jika iya, jangan pernah biarkan perasaan itu memadamkan cahaya semangat kita. Sebab, di balik setiap kesulitan itu, tersembunyi kemuliaan yang agung.
Justru di titik inilah, kasih sayang Allah terbentang begitu luas. Hadis dari Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha membukakan untuk kita sebuah perspektif yang menyentuh, sebuah kabar gembira bagi para pejuang Al-Qur’an. Hadis yang diriwayatkan dalam kitab Fadha’il al-Qur’an karya Imam Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam ini adalah oase bagi jiwa-jiwa yang sedang berjuang.
إِنَّ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ بِهِ مَاهِرٌ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ يَشْتَدُّ عَلَيْهِ فَلَهُ أَجْرَانِ
“Sesungguhnya orang yang membaca Al-Qur’an dan dia mahir membacanya, maka dia bersama para malaikat yang mulia dan taat. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dan dia merasa berat (terbata-bata), maka dia mendapatkan dua pahala.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadha’il al-Qur’an, juga muttafaqun ‘alaih)
Dua Golongan Mulia di Sisi Allah
Hadis indah ini membagi para pembaca Al-Qur’an menjadi dua golongan yang sama-sama berada dalam kemuliaan. Keduanya adalah pemenang, meski menempuh jalur yang sedikit berbeda.
1. Golongan yang Mahir (Bersama Para Malaikat)
Mereka adalah orang-orang yang lisannya begitu fasih, lancar, dan tartil dalam melantunkan ayat-ayat suci. Kemahiran ini bukanlah hadiah semalam, melainkan buah dari kesungguhan, ketekunan, dan waktu panjang yang mereka investasikan. Allah memuliakan mereka dengan kedudukan yang luar biasa: bersama as-safarah al-kiram al-bararah, yakni para malaikat yang menjadi utusan, yang mulia lagi senantiasa taat. Sebuah kedudukan yang membuat jiwa merindu.
2. Golongan yang Berjuang (Dengan Dua Pahala)
Di sinilah letak keindahan dan keadilan Islam yang sempurna. Bagi kita yang mungkin masih mengeja, yang lisannya belum selancar para huffazh, yang terkadang harus mengulang-ulang satu ayat hingga benar, Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira. Baginya ada dua pahala. Para ulama menjelaskan bahwa dua pahala itu adalah:
- Pahala Tilawah: Pahala dari membaca Al-Qur’an itu sendiri, yang setiap hurufnya diganjar kebaikan.
- Pahala atas Kesulitan (Masyaqqah): Pahala dari setiap tetes keringat, setiap usaha keras, dan setiap kesabaran dalam menghadapi kesulitan membaca.
Subhanallah! Allah tidak hanya menghargai hasilnya, tetapi juga mengapresiasi prosesnya. Setiap detik perjuangan kita dinilai sebagai ibadah tersendiri. Ini menunjukkan bahwa pahala membaca Al Quran terbata-bata adalah sebuah anugerah, bukan sebuah kekurangan.
Kesulitanmu Adalah Ibadahmu
Maka, jangan pernah merasa kecil hati. Kesulitan yang kita hadapi saat membaca Al-Qur’an bukanlah aib. Itu adalah medali perjuangan yang Allah sematkan di dada kita. Setiap huruf yang sulit diucapkan, setiap tajwid yang coba kita terapkan, setiap napas yang kita atur, semuanya menjadi saksi bisu atas kesungguhan kita di hadapan-Nya.
Hadis ini adalah motivasi terbesar untuk tidak pernah menyerah. Anggapan bahwa “sudah terlambat untuk belajar” atau “malu karena bacaan belum bagus” harus kita singkirkan jauh-jauh. Justru, pemahaman tentang pahala membaca Al Quran terbata-bata ini seharusnya menjadi bahan bakar yang menyulut kembali api semangat kita.
Perjalanan berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah perjalanan seumur hidup. Tidak ada kata terlambat untuk memulai atau memperbaiki. Allah lebih mencintai seorang hamba yang terus-menerus mencoba meski tertatih, daripada yang diam karena merasa tidak mampu.
Kesimpulan: Teruslah Berjuang!
Mari kita peluk setiap kesulitan dalam belajar Al-Qur’an sebagai ladang pahala tambahan. Jangan bandingkan proses kita dengan orang lain. Fokus pada perjalanan kita sendiri bersama Kalamullah. Sebab, baik yang mahir maupun yang masih berjuang, keduanya dimuliakan di sisi-Nya.
Besarnya pahala membaca Al Quran terbata-bata adalah bukti bahwa pintu rahmat Allah selalu terbuka bagi siapa saja yang mau berusaha. Teruslah membaca, teruslah belajar, karena setiap usaha Anda sangatlah berharga.
Jika Anda merindukan bimbingan dan lingkungan yang mendukung dalam perjalanan mulia ini, kami di Executive Tahfizh siap menemani setiap langkah Anda untuk menjadi sahabat Al-Qur’an yang lebih baik.
Daftar Referensi
- Al-Qasim bin Sallam, Abu ‘Ubaid. Fadha’il al-Qur’an. Dar Ibn Katsir, 1995.
- Hadis riwayat Aisyah R.A. ini juga disepakati keshahihannya oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim (Muttafaqun ‘alaih).
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100


