Ada sebuah rahasia agung yang tersimpan di balik helai-helai mushaf yang sering kita sentuh. Sebuah kemuliaan yang terkadang luput dari benak kita, di tengah semangat menghafal yang membara. Ternyata, sekadar memandang dan membaca kalam-Nya langsung dari mushaf memiliki ganjaran yang luar biasa. Inilah salah satu keutamaan membaca Al-Quran melihat mushaf yang menjadi bukti betapa luasnya rahmat Allah bagi hamba-Nya.
Pandangan yang Bernilai Ibadah Fardhu
Hati kita mungkin bertanya, manakah yang lebih utama: membaca Al-Quran dari hafalan yang telah kita perjuangkan, atau membacanya sambil menatap lembaran mushaf dengan khusyuk? Sebuah riwayat indah dari kitab Fadhailul Qur’an karya Imam Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam memberikan kita sebuah perbandingan yang menyentuh jiwa.
فَضْلُ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ نَظَرًا عَلَى مَنْ يَقْرَؤُهُ ظَاهِرًا كَفَضْلِ الْفَرِيضَةِ عَلَى النَّافِلَةِ
“Keutamaan membaca Al-Quran dengan melihat (mushaf) atas orang yang membacanya dari hafalan adalah seperti keutamaan amalan fardhu atas amalan sunnah.” (Diriwayatkan dari sebagian sahabat Nabi ﷺ)
Subhanallah. Perumpamaan ini sungguh dalam. Amalan fardhu adalah tiang penyangga, pondasi utama yang tak bisa ditawar. Sementara amalan sunnah adalah penyempurna, penghias yang mendatangkan cinta. Riwayat ini seakan membisikkan kepada kita bahwa melibatkan pandangan mata dalam tilawah adalah sebuah ibadah yang sangat ditekankan dan begitu dicintai-Nya. Ini bukan berarti merendahkan kemuliaan para penghafal Al-Quran, melainkan membuka sebuah pintu kemuliaan lain yang bisa diraih oleh siapa saja.
Mengapa Pandangan Mata Begitu Bernilai?
Membaca Al-Quran dengan menatap mushaf adalah ibadah yang paripurna. Ia melibatkan lebih banyak indera dan anggota tubuh dalam ketaatan. Mata memandang, lisan melafalkan, telinga mendengar, tangan menyentuh, dan hati merenungkan. Semua bersinergi dalam satu ibadah agung, menjadikan pengalaman spiritual kita lebih mendalam dan fokus.
Pandangan mata pada mushaf juga merupakan bentuk ta’zhim atau pengagungan terhadap Kalamullah secara fisik. Ia menumbuhkan rasa hormat dan keterikatan batin yang lebih kuat. Inilah salah satu aspek penting dari keutamaan membaca Al-Quran melihat mushaf yang seringkali kita lupakan.
Perintah Lembut dari Sahabat Nabi
Anjuran untuk senantiasa berinteraksi dengan mushaf juga ditegaskan oleh sahabat mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Beliau, yang dikenal sebagai salah satu pakar Al-Quran di kalangan sahabat, memberikan sebuah nasihat singkat namun penuh makna.
أَدِيمُوا النَّظَرَ فِي الْمُصْحَفِ
“Langggengkanlah (biasakanlah) oleh kalian memandang mushaf.”
Kata “adiimuu” berasal dari kata dawam, yang berarti terus-menerus atau berkelanjutan. Ini adalah sebuah ajakan untuk menjadikan aktivitas memandang dan membaca mushaf sebagai rutinitas, sebagai kebiasaan yang menenangkan jiwa. Bahkan sebelum lisan bergerak, pandangan yang tertuju pada ayat-ayat suci itu sendiri sudah menjadi penyejuk hati dan pengingat akan kebesaran Sang Pencipta. Betapa indahnya keutamaan membaca Al-Quran melihat mushaf ini.
Menyeimbangkan Hafalan dan Tilawah Nazhar
Lantas, apakah ini berarti kita harus meninggalkan hafalan? Tentu tidak. Keduanya adalah ladang pahala yang berbeda namun saling melengkapi. Bagi seorang hafiz, membaca sambil melihat mushaf adalah cara terbaik untuk menguatkan hafalan (muraja’ah bin nazhar) dan memastikan akurasi setiap hurufnya. Bagi kita yang belum hafal, ini adalah pintu gerbang utama untuk berinteraksi dengan Al-Quran.
Hadits ini hadir sebagai kabar gembira bagi setiap muslim. Ia menegaskan bahwa rahmat Allah tak terbatas hanya pada mereka yang memiliki daya hafal luar biasa. Pintu pahala terbuka lebar bagi siapa saja yang dengan tulus membuka lembaran mushaf, mengeja ayat demi ayat dengan pandangan penuh cinta. Inilah manifestasi nyata dari keutamaan membaca Al-Quran melihat mushaf.
Maka, mari kita kembali memeluk mushaf kita. Jangan biarkan ia hanya menjadi hiasan di rak buku. Sentuhlah ia, pandangilah ia, dan biarkan cahaya dari setiap hurufnya menerangi relung hati kita. Sebab dalam setiap pandangan itu, ada pahala setara ibadah fardhu yang menanti untuk kita raih.
Perjalanan mencintai Al-Quran adalah proses seumur hidup. Setiap tatapan, setiap huruf, adalah anak tangga menuju cahaya-Nya. Namun, perjalanan ini akan lebih indah dan terarah saat ditemani oleh guru yang membimbing dengan hati. Jika Anda merasakan panggilan untuk memperdalam hubungan Anda dengan Al-Quran, baik dalam tilawah maupun tahfizh, Qur’an Learning Center Yogyakarta hadir untuk mendampingi langkah Anda.
Daftar Referensi
- Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam. Fadhailul Qur’an. (tahqiq: Marwan Al-Athiyah, dkk). Damaskus: Dar Ibn Katsir, 1415 H/1995 M.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

